Tewas Dikeroyok dalam Lapas? Keluarga Pertanyakan Penyebab Kematian Napi Rahmad Andita

Istimewa DIPERIKSA INTENSIF: Satu per satu, polisi membawa napi yang satu blok dengan Dita alias Mat Tawon, napi yang tewas dalam lapas kelas IIA Jember, untuk menjalani pemeriksaan di polres.

RADARJEMBER.ID – Rahmad Andita, 31, warga Dusun krajan, Desa Petung, Bangsalsari, kemarin siang meninggal dunia secara misterius. Dikabarkan, ada luka lebam dan tusukan di bagian lambung. Mayatnya pun dibawa ke kamar mayat RSD dr. Soebandi Jember untuk diperiksa lebih lanjut.

IKLAN

Dita alias Mat Tawon adalah narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 2 A Jember. Dia terlibat kasus perusakan dan penganiayaan, dan divonis pada 14 November 2017 lalu, dengan hukuman penjara selama 16 bulan penjara. Dita sendiri sudah menjalani masa hukuman setengahnya, alias sudah delapan bulan menjalani masa tahanan.

Kematian dianggap tak wajar membuat keluarga mempertanyakannya. M. Riyadi, ayah korban saat ditemui di kamar mayat RSD dr. Soebandi Jember mengaku kaget saat keluarga dihubungi Lapas kelas 2A Jember. Dikabarkan, Dita meninggal dunia di dalam Lapas yang ada di pusat Kota Jember ini. “Kami dikabari tadi pagi (kemarin, Red) melalui telepon, bahwa anak saya, Dita meninggal,” kata M. Riyadi.

Yang membuat dirinya shock, ternyata Dita sudah meninggal sejak malam hari. Tapi baru disampaikan ke pihak keluarga pagi harinya.

Keanehan inilah yang membuat dirinya bertanya-tanya. Apalagi, Evi (istri korban) sempat berkomunikasi dengan Dita pada Rabu (22/8), ketika  Hari Raya Iduladha. Saat itu, Dita cukup ceria. Demikian pula saat dijenguk sebelumnya, juga tidak ada tanda-tanda jika Dita menderita sakit. “Kami (keluarga) saat terakhir ketemu baik-baik saja,” terangnya.

Menurutnya, selama berada di lapas, Dita juga tidak pernah sakit. Padahal, sudah delapan bulan dia menjalani hukuman di lapas kelas 2 A Jember. “Tidak pernah mengeluh sakit kepala, sakit perut atau apa pun. Sehat-sehat saja,” jelas Riyadi.

Dia juga belum mendapatkan informasi jika di dalam Lapas Kelas 2A Jember korban ada masalah dengan napi lainnya. “Nggak ada. Tidak pernah ada. Kalau ada masalah, pasti cerita ke adiknya,” jelasnya. Oleh karena itu, kabar ini cukup mengagetkan bagi keluarga.

Riyadi sempat menanyakan penyebab kematian korban pada petugas. “Saat saya tanya penyebab, apa anak saya sakit, kata petugas ada luka lebam dan tusukan di bagian lambung,” ucap Riyadi, yang terlihat cukup tegar menghadapi kematian anaknya itu.

Pihaknya pun langsung mendatangi kamar mayat RSD dr. Soebandi Jember untuk mencari tahu penyebab kematian yang sesungguhnya.

Pihak keluarga sempat menunggu sejak pagi untuk bisa mendapatkan keterangan resmi dan baru bisa bertemu dengan petugas sore hari. “Sejak pagi belum bisa melihat jenazahnya. Hanya terlihat rambutnya dari balik jendela,” tuturnya. Hingga kemarin sore, Riyadi belum bisa membawa pulang jenazah Dita ke rumahnya.

Sementara itu, pihak Lapas Kelas 2A Jember hingga kemarin belum bisa dimintai keterangan. Sarju Wibowo, Kepala Lapas Kelas ll A Jember terkesan menghindar dengan hanya melambaikan tangan tanpa memberikan penjelasan terkait kasus tersebut.

Polres Jember langsung bergerak cepat. Begitu ada laporan, polisi mendatangi lapas. Sejumlah warga binaan yang satu blok dengan korban Dita dibawa ke Kantor Satreskrim Polres Jember untuk diperiksa.

Berdasarkan informasi, ada 70 tahanan yang berada satu blok dengan Dita. Seluruhnya dibawa ke Polres Jember untuk dilakukan pemeriksaan atas tewasnya narapidana ini.

Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo saat dikonfirmasi membenarkan adanya laporan narapidana yang meninggal dalam lapas. “Jam 06.00 WIB pagi, petugas piket reskrim mendapatkan informasi dari petugas lapas. Ada warga binaan yang meninggal dunia,” jelas Kusworo melalui sambungan telepon, kemarin.

Pihaknya pun langsung melakukan olah TKP di Lapas Kelas 2 A Jember tempat meninggalnya Dita. Petugas juga langsung melakukan visum terhadap jenazah korban di RSD dr. Soebandi Jember.

“Jadi, itu bukan kerusuhan, tapi ditemukan ada napi yang meninggal,” jelasnya. Karena belum ditemukan siapa pelakunya, pihak kepolisian pun melakukan pemeriksaan kepada sejumlah saksi. “Untuk membuat terang situasi yang terjadi dilakukan pemeriksaan,” tegas Kusworo.

Reporter : Rangga Mahardika, Jumai
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :