Jago IPA, Lolos OSK Jember dan Jawa Timur

Sheila Ramadhania, Siswi SMP Nuris yang Lolos OSN

Ketekunan Sheila Ramadhania Aulia Putri belajar ilmu matematika menuai hasil. Santriwati Ponpes Nuris itu berhasil lolos dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN). Di SMP Nuris, dia tergabung dalam kelas sains.

MEMBANGGAKAN: Sheila Ramadhania Aulia Putri yang berhasil lolos menuju Olimpiade Sains Nasional di Jogjakarta, 6 Juli lalu.

RADAR JEMBER.ID – Perempuan yang akrab disapa Sheila itu sedang berada di kelasnya, di SMP Nuris. Dia mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Namun, yang membuat dia luar biasa adalah keberhasilannya lolos OSN tingkat nasional.

IKLAN

Sheila merupakan siswi yang berbakat di bidang matematika. Beberapa prestasi telah diraihnya. Terbaru, dia mewakili Provinsi Jawa Timur ke tingkat nasional dalam ajang OSN 2019.

Tak mudah untuk mencapai prestasi tersebut. Sebab, ia harus berjuang mengalahkan para jagoan di tingkat kabupaten hingga provinsi. Sheila mampu melewati setiap tahap yang diselenggarakan.

Perjuangan Sheila dimulai saat mengikuti Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Jember 2019 yang diselenggarakan di SMPN 7 Jember pada Maret 2019. Di sana, Sheila meraih juara dua dan bisa tampil dalam di tingkat selanjutnya, yakni tingkat provinsi.

Tanggal 14 April 2019, Sheila mengikuti OSN 2019 tingkat provinsi bidang IPA. “Awalnya lolos seleksi tingkat Jember,” katanya.

Ia kemudian mengikuti tes dan dilanjutkan mengikuti seleksi tingkat Jawa Timur. Sheila mampu menunjukkan kualitasnya, dia lolos ke tingkat nasional.

“Alhamdulillah, berkat doa pengasuh dan bimbingan dari para guru, bisa lolos ke tingkat nasional,” jelasnya.

Namun, ketika di OSN tingkat nasional pada 6 Juli lalu, Sheila belum berhasil karena persaingan yang cukup ketat. Kendati demikian, dia sudah membawa harum nama Jawa Timur dan Jember ke tingkat nasional.

Di sekolah, Sheila memang memiliki kejeniusan yang luar biasa dibanding teman-temannya. Dia begitu tekun mempelajari matematika. Tak hanya itu, Sheila juga sosok pekerja keras dalam belajar. “Saya juga punya basic IPA sejak dulu,” tuturnya.

“Awalnya suka pelajaran IPA, terutama fisika, karena yang ngajar enak, mudah dipahami,” katanya. Rupanya, kemampuan guru dalam mengajar membuat Sheila terpikat. Bahkan, menjadi motivasi agar bisa meraih impian sebagai fisikawan.

Menurut dia, ilmu fisika berhubungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, fisika yang dipelajari juga dipadukan dengan ilmu Alquran, sehingga menjadi motivasi tersendiri untuk belajar ilmu sains.

Di sekolah, Sheila mendalami fisika di kelas sains. Wadah bagi para pelajar yang ingin menekuni sains. Selama tiga kali dalam seminggu, dia belajar di sana. Selain itu, ia ikut dalam kegiatan ekstrakurikuler madrasah sains. “Setiap sore belajar fisika lagi,” tambahnya.

Tak heran, siswi kelas IX SMP Nuris itu terus mengembangkan bakatnya di sekolah. Apalagi, sekolah memberikan wadah dan fasilitas melalui kelas sains. Sheila memanfaatkan dengan mengikuti program tersebut.

Prestasi Santriwati asal Denpasar Bali ini juga beragam. Mulai dari juara dua lomba MIPA di MA Wahid Hasyim, kemudian juara dua lomba yang sama di SMA Muhammadiyah Jember. Prestasi itu diraih dengan kerja keras.

“Kami bangga lembaga di pesantren bisa melahirkan siswi yang cakap di bidang IPA,” kata Kepala SMP Nuris Gus Rahmatullah Rizal. Menurut dia, sekolah memberikan fasilitas yang memadai untuk mengembangkan bakat pelajar.

Menurut dia, kelas sains di SMP Nuris merupakan kelas khusus peminatan. Para pelajar yang akan ikut lomba dilatih melalui kelas sains. Hasilnya, mereka kerap membawa juara. “Untuk masuk di kelas sains, mereka diseleksi,” akunya.

Para pelajar dibekali dengan ilmu sains, lanjut dia, sebagai bekal untuk mengenal Tuhan melalui jalan yang berbeda. Tak hanya dengan jalan agama, tetapi juga bisa melalui jalur sains. “Mereka tidak hanya bangga karena menang lomba, tapi juga menemukan karya,” jelasnya.

Dari belajar ilmu sains, para pelajar itu diharapkan bisa menciptakan penemuan-penemuan baru. Dari sana, santri tak hanya menguasai agama, namun juga menjadi ahli dalam bidang ilmu pengetahuan.

Para pelajar SMP Nuris dilatih untuk memiliki bakat tertentu. Mereka tak hanya mempelajari ilmu agama dan sains, namun juga bahasa hingga olahraga.

Mereka yang memiliki keinginan dalam bidang tertentu akan dilatih secara profesional. Seperti ekstrakurikuler Pramuka yang sudah kerap meraih beberapa juara. Begitu juga kemampuan pidato berbagai bahasa serta kemampuan puisi.

Bahkan, selama satu semester ganjil hingga Januari 2019, SMP Nuris sudah berhasil meraih 24 piala dari berbagai kejuaraan tingkat lokal hingga provinsi. Mulai dari bidang sains, nonsains, hingga bahasa.

“Kami melatih pelajar disiplin dan berkarakter,” tambahnya. Siswa dididik memahami ilmu agama dan akhlak yang baik. Kemudian, dikuatkan dengan kemampuan ilmu pengetahuan umum. Harapannya, setelah lulus, mereka siap untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Sementara itu, pengasuh Ponpes Nuris, Gus Robith Qosidi menambahkan, Pesantren Nuris memberikan bekal pada santri  dengan wawasan yang luas. Tak hanya ilmu agama, namun kemampuan yang sesuai kemajuan zaman yang akan mereka hadapi. “Kami membiasakan santri melakukan penelitian dan eksperimen,” katanya.

Menurut dia, Nuris ingin menjadi pesantren yang siap menjawab tantangan internasional. Sebab, banyak pesantren yang mendirikan lembaga formal. Namun pengembangannya belum maksimal dalam mencetak santri yang inovatif dan siap berkompetisi.

Ponpes Nuris, lanjut dia, menjadi pesantren yang selalu ingin menciptakan perubahan yang lebih baik. Sebab, di tengah era disruption, semua berubah dan berkembang dengan cepat. Nuris menangkap tantangan itu dengan mendidik santri menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan zaman.

Menurut dia, kegiatan eksperimen yang dilakukan santri atau lembaga pendidikan mulai ditinggalkan, terutama di pesantren. Padahal, ulama terdahulu kerap melakukan eksperimen, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Alkindi, dan lainnya. Apalagi, ilmu sains sudah ada dalam Alquran. “Lembaga sekarang lebih banyak fokus pada mendapatkan ijazah dan dunia kerja,” aku pria yang akrab disapa Gus Robith ini.

Nuris sendiri mengembangkan sains untuk pengabdian pada ilmu pengetahuan. Yakni ingin  memberikan kontribusi pada pengembangan sains dan kesejahteraan masyarakat dengan cara memberikan solusi yang ilmiah. Mulai dari masalah kesehatan, pangan, teknologi, dan lainnya. “Ada kamar sains. Santri ditarget agar satu bulan bisa ada satu inovasi penemuan,” pungkasnya. (*)  

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi