Paham Radikalisme Masuk Kampus

MEMAPARKAN: Brigjen (Pol) Hamli, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI saat menyampaikan materi.

RADAR JEMBER.ID – Perguruan tinggi negeri (PTN) atau kampus swasta tak boleh lengah dalam mencegah paham radikalisme. Sebab, penyebaran paham garis keras ini merata. Tak hanya pada mahasiswa, namun juga bisa pada dosen.

IKLAN

Banyak modus yang dilakukan oleh para pelaku paham radikalisme ini. Mulai dari pengajian, diskusi, hingga ajakan di media sosial. Bila ada mahasiswa atau dosen yang sikapnya berubah, perlu didalami lebih jauh. Seperti tidak mau beribadah dengan temannya, atau mudah mengafirkan orang yang tidak sepaham.

Selain itu, tidak mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia, membatasi pergaulan secara sepihak, atau bahkan meninggalkan kuliah. Kemungkinan, mereka sudah terpapar paham radikalisme. “Beberapa di antara pelaku terorisme adalah lulusan kampus, termasuk saya sendiri,” kata Kurnia Widodo, mantan narapidana teroris (napiter) dalam kegiatan Dialog Pelibatan Civitas Academica dalam Pencegahan Terorisme melalui FKPT Jawa Timur  di aula Rektorat Unej, (24/7) kemarin.

Kurnia sendiri terpapar paham radikalisme melalui pengajian atau dauroh. Dia mulai terpengaruh, sehingga masuk ke dalam kelompok teroris. Saat itu, dia merupakan mahasiswa teknik kimia di PTN ternama.

Latar belakang pendidikannya itulah yang membuat dia bertugas sebagai perakit bom di kelompoknya. Namun, dia sadar bahwa apa yang dilakukannya keliru. Karena itu, dia kembali pada jalan yang benar. “Waktu itu, komandan saya istrinya sembilan. Saya bertanya, karena dari sana sudah aneh,” paparnya.

Di hadapan para mahasiswa dan civitas academica Unej, Kurni meminta agar kampus memperhatikan kondisi mahasiswanya. “Kampus harus aktif memberikan pembinaan dengan memberikan wawasan keagamaan dan sosial budaya yang benar,” terangnya.

Mulai dari membina masjid hingga mengawasi kegiatan-kegiatan berkedok training, pengajian, atau tablig akbar. Mahasiswa jangan mudah percaya  informasi yang belum jelas atau hoaks, jangan mudah kagum pada orang yang dianggap ulama, padahal belum jelas latar belakangnya.

“Selalu lakukan saring sebelum sharing informasi dan aktif mencari informasi lain sebagai pembanding,” ujar Kurnia yang sempat divonis 6 tahun penjara ini. Sementara itu, Brigjen (Pol) Hamli, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI menambahkan, masjid kampus dan kegiatan pengajian di kampus dapat menjadi pintu masuk paham radikal kepada mahasiswa.

Oleh karena itu, BNPT giat menggandeng kampus di Indonesia dalam rangka mencegah penyebaran paham radikal di kalangan mahasiswa. “Kami minta sejak dini kampus memberikan pemahaman terkait agama dan berbagai masalah sosial budaya,” ujar pakar penjinak bom ini.

Selain itu, perlu upaya menumbuhkan rasa nasionalisme kepada mahasiswa. Misalnya di saat penerimaan mahasiswa baru. “Kampus juga diminta aktif membuat regulasi yang jelas di bidang kegiatan kemahasiswaan,” jelasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Jember Moh. Hasan mengungkapkan langkah-langkah Universitas Jember dalam menangkal paham radikal di Kampus Tegalboto. “Kami sudah melakukan pemetaan terkait kondisi mahasiswa Unej,” tuturnya.

Hasil temuannya itu menjadi bahan dalam merumuskan materi  pencegahan paham radikalisme yang masuk di mata kuliah umum (MKU). “Kami juga telah memberlakukan pembatasan kegiatan kemahasiswaan hanya hingga jam sepuluh malam agar memudahkan pengawasan,” ungkapnya. (*)

 

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi