Tiga Pemuda Balung Hilang Kontak Setelah 4 Bulan Berlayar

Juwari Orang Tua Alan

RADARJEMBER.ID-Alan, Mamad, dan Rosi Hilang. Ketiganya tak tentu rimbanya. Nasibnya belum jelas, entah masih hidup atau…

IKLAN

Ketiganya bersaudara. Maunya berangkat mengadu nasib ke Bali. Pamit bekerja sebagai pelaut. Tapi, hingga kini tak ada kabar tentang ketiganya. Hp tak bisa  dikontak. Selama tiga bulan ini, keluarga merekapun hanya bisa waswas. Tiur tak nyenyak, makan tak enak.

Tepatnya medio Februari lalu. Itulah momen terakhir bagi Juwari dan Khoiriyah melihat putra bungsunya, Ahmad Alanrobi. Kala itu, anak keempatnya yang berusia 23 tahun tersebut pamit bekerja di Bali sebagai pelaut. Dia berangkat bersama dua orang lainnya, Muhamad Saeroji (Rosi), 21, dan Mohamad Suryanto (Mamad), 32.

Dengan harapan memperbaiki nasib, tiga pemuda asal Dusun Krajan Lor, Desa Gumelar, Kecamatan Balung ini bekerja di PT Bali Baramundi – Denpasar. Mereka direkrut sebagai awak kapal KM Naga Mas Perkasa I. “Kemudian tanggal 13 Maret anak saya pamit berlayar,” kata Khoiriyah, kemarin.

Sejak berlayar itu, komunikasi tak pernah putus. Beberapa kali, Alan, sapaan Alanrobi, menghubungi kakak perempuannya melalui pesan singkat. Dalam pesan itu, dia selalu menanyakan kabar kedua orang tuanya. Maklum, sejak kecil Alan tak pernah bekerja jauh dari orang tua. “Bahkan, siang sebelum dikabarkan kapalnya mengalami kecelakaan, anak saya masih mengirim SMS. Dia bertanya kabar,” ucapnya.

Ketika bercerita, perempuan 56 tahun itu sesenggukan. Bicaranya terbata-bata. Air mata terlihat merambat di pipinya yang mulai keriput. Sebagaimana ibu yang lain, Khoriyah juga tak rela putranya raib tanpa kejelasan. Apalagi, dia menilai, perusahaan yang mempekerjakan abai. Seolah enggan bertanggung jawab dengan petaka itu.

Keterangan tertulis dari Polair Polda Bali yang menyelidiki kasus ini, kapal yang membawa 31 personel dengan 30 anak buah kapal (ABK), serta seorang nakhoda tersebut mengalami kecelakaan laut. Sebanyak 30 pelaut, termasuk nakhoda tidak ditemukan, dan seorang ABK selamat.

Kabar ini membuat suaminya, Juwari, mulai sakit-sakitan. Apalagi, sejak kabar itu diterima akhir Maret lalu tak kunjung ada kejelasan, malah menambah penyakit suaminya sering kambuh. Pria penjaga sekolah ini tak kuasa menerima berita tersebut. Ia tak percaya anaknya meninggal seperti yang dikabarkan.

Juwari mengaku, tubuh ringkihnya tak mampu menahan beban pikiran yang berat. Dia sempat ambruk, dan dirawat di rumah sakit beberapa hari. Juwari yakin anaknya masih hidup. Oleh karenanya, di rumah tidak ada tahlilan. Setiap hari dirinya juga mendoakan putra bungsunya itu. Usai Salat Magrib dan Subuh dia tak lupa meminta kepada Tuhan, agar anak penurut itu dipulangkan.

Bahkan, setiap Salat Tahajud, Juwari juga meminta petunjuk kepada Tuhan. Jika selamat cepatlah dipulangkan, tetapi jika sudah tiada, dirinya rela. “Kami ikhlas. Asal ada kejelasan kabarnya, dan jenazahnya ada di mana,” ucapnya.

Juwari memang meragukan kabar tenggelamnya KM Naga Mas Perkasa I. Sebab, hingga kini, informasinya masih simpang siur. Perusahaan bilang kapal mengalami kecelakaan, tetapi lain waktu, kabar itu dibantah sendiri, mereka berujar kapal pencari ikan itu hanya hilang kontak. “Saya minta anak saya dikembalikan. Itu saja,” pintanya.

Juwari memegang dadanya. Napasnya kembali terasa sesak. Di saat begitu, putri keduanya, Faridatul Jannah, membopongnya dari ruang tamu yang berukuran 2×3 meter tersebut. Untuk ukuran rumah di desa, ruang tamu ini cukup sempit. Maklum saja, keluarga Juwari menempati rumah dinas penjaga sekolah yang menjadi satu dengan kompleks SD Negeri Gumelar 01.

Di rumah yang lain, Maimanah, ibu Muhamad Saeroji, mengaku kaget. Ketika didatangi radarjember.id jantungnya berdegup kencang. Perempuan baya ini mengira, yang datang adalah pembawa kabar tentang anaknya yang selama empat bulan lalu menghilang. “Saya sekarang kena darah tinggi. Dan jika ada orang baru yang datang, jantung saya ser-seran. Terus tubuh saya jadi lemes semua,” akunya.

Perempuan 66 tahun ini masih tak percaya jika anaknya tenggelam bersama kapal. Dia bahkan menuding, informasi yang disampaikan perusahaan ke polisi adalah rekayasa. Dirinya juga menganggap polisi tak serius menyelidiki hilangnya kapal yang membawa anaknya tersebut.

Keyakinan Maimunah ini karena sebelum dikabarkan tenggelam pada siang hari, putranya tersebut sempat menghubungi keluarga sekitar pukul empat sore. Namun, setelah informasi itu disampaikan, kata dia, perusahaan meralat, dan menyatakan kapal hilang kontak pada pukul 19.55 WITA.

Janda yang suaminya meninggal 2016 lalu ini menduga, kapal yang ditumpangi anaknya itu tidak mengalami kecelakaan, tetapi jadi korban perompak, atau ABK kapal jadi korban perdagangan orang. Dia kembali menuding perusahaan dan polisi sengaja menutupi informasi ini, agar mereka lepas dari tanggung jawab.

“Saya juga khawatir anak saya direkrut jadi teroris, atau dijadikan kurir narkoba. Pokoknya saya minta anak saya dikembalikan. Informasi kapal tenggelam itu bohong,” ucapnya. Ketika mengutarakan hal itu, air matanya meleleh. Indra penglihatannya berubah memerah. Seketika tubuhnya lunglai, dan bersandar pada sebuah kursi yang bermotif bunga-bunga.

Setidaknya, sudah tiga kali keluarga korban asal Balung ini mendatangi otoritas di Denpasar, Bali. Tujuannya masih sama, menanyakan kejelasan kabar kapal yang membawa anak mereka. Namun, lagi-lagi kehadiran mereka tak disambut baik oleh petugas.

Bahkan, Maimanah bercerita, kedatangan mereka ke Polair Denpasar tak direspons oleh petugas. Malah, anaknya yang lain sempat diancam akan dipidanakan bila mengambil foto di markas polisi perairan tersebut. “Padahal saya ke sana bersama perangkat desa,” ujarnya.

Sedangkan, informasi tentang korban lainnya, Mohamad Suryanto, 32, tak banyak diketahui. Karena kedua orang tuanya tak tinggal di rumah. Sang ibu, Sumiyati, bekerja di Surabaya. Sementara ayahnya, Solihin, menyambung hidup di Jakarta.

Namun berdasarkan penuturan Maimanah, Mohamad Suryanto inilah yang berinisiatif mengajak dua rekannya itu ke Bali, dan bekerja di kapal pencari ikan. Sebab sebelumnya, pemuda ini pernah bekerja di kapal saat menjadi TKI di Taiwan.

Sementara itu, Kepala Seksi Tindak Subdit Gakkum Ditpolair Polda Bali, Kompol I Made Mundra, enggan memerinci kronologi peristiwa hilangnya kapal pencari ikan itu. Dia beralasan sedang tak berada di kantor. Meski begitu, dia memastikan KM Naga Mas Perkasa I hanya hilang kontak saat berlayar di perairan Timor Leste. Artinya, masih ada potensi nakhoda dan awal kapal selamat.

Pihaknya juga mengklaim sudah meminta bantuan Basarnas, serta melaporkannya ke Mabes Polri, terkait upaya pencarian kapal. Itu karena, kata dia, lokasi hilangnya kapal tersebut bukan wilayah yurisdiksi Polair Polda Bali. “Ini kan wilayahnya sudah wilayah orang. Untuk itu, levelnya Mabes Polri. Kami sudah kirim surat,” ujarnya, saat dikonfirmasi lewat telepon, kemarin.

Rupanya, keterangan ini berbeda dengan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan (SP2HP) yang diterima keluarga korban. Dalam surat tertanggal 25 April 2018 itu, kepolisian menyimpulkan kapal itu mengalami kecelakaan laut pada rentang waktu 20-21 Maret, mulai pukul 19.55 hingga 09.00 waktu setempat.

Reporter : Mahrus
Editor : MS Rasyid,Hadi Sumarsono
Editor Bahasa:Imron Hidayatullah.
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :