Ahmad Alanrobi Sungkem dan Minum Bekas Cucian Kaki Ibu

DWI SISWANTO/RADAR JEMBER MENUNGGU NASIB TIGA BERSAUDARA: Maimanah ibu dari Saeroji tiap hari hanya bisa menangis meratapi nasib anaknya yang hingga kini tak jelas. Tiga pemuda asal Dusun Krajan Lor, Desa Gumelar, Kecamatan Balung Ahmad Alanrobi, Muhamad Saeroji dan Mohamad Suryanto hilang saat bekerja sebagai anak buah kapal di PT Bali Baramundi - Denpasar.

RADARJEMBER.ID-Sebelum berangkat ke Bali, medio Februari lalu, Ahmad Alanrobi sempat sungkem kepada orang tuanya. Ia berpamitan bekerja di sebuah kapal pencari ikan. Bahkan, pemuda 23 tahun itu mencuci kedua kaki ibunya. Sebagian air sisa cucian dia minum. Sisanya dimasukkan ke dalam botol untuk dibawa merantau ke Pulau Dewata.

IKLAN

Kenangan bersama putra bungsunya tersebut melekat begitu kuat di ingatan Khoiriyah. Perempuan 56 tahun ini tak mengira jika peristiwa yang menguras air mata itu menjadi momen terakhir dia bertemu dengan anak keempatnya tersebut. “Saya merestui kepergiannya. Meski dengan berat hati,” kenangnya.

Tangis ibu empat anak ini kembali pecah. Ia tak kuasa menceritakan keberangkatan anak yang dinilainya penurut ini. Apalagi, kala itu tak ada firasat apa pun yang menyertai ritual cuci kaki tersebut. Bahkan, usai prosesi cuci kaki, Khoiriyah melangkahi tubuh putranya yang berbaring, sebanyak tiga kali. “Saat melangkahi tubuhnya itu, saya sambil berdoa. Semoga dia selamat ketika bekerja,” tuturnya.

Namun, genap sebulan sejak keberangkatan itu, Alan yang diterima bekerja di PT Bali Baramundi – Denpasar ini, dikabarkan hilang saat melaut bersama kapal motor (KM) Naga Mas Perkasa I. Di kapal itu, Alan bersama dua kawan satu kampungnya, Muhamad Saeroji, 21, dan Mohamad Suryanto, 32, serta sejumlah pelaut lain yang berjumlah total 31 orang.

Dua pekan berlayar, kapal pencari ikan tersebut hilang kontak. Seorang anak buah kapal (ABK) bernama Dian ditemukan selamat. Sedangkan 30 orang lainnya, termasuk Alan dan dua temannya, hingga kini belum ditemukan. “Sampai sekarang tidak ada kabar. Sudah ada empat bulan sejak kapal itu dinyatakan hilang kontak,” tutur Khoiriyah. 

Kepada ibunya, Alan juga sempat mengeluh jika kapal tempatnya bekerja tak sebesar yang dibayangkan. Kapal itu tak jauh beda dengan milik nelayan yang ada di Puger. Hanya saja, sesuai dokumen pelayaran, kapal itu beratnya mencapai 50 gross ton.

Bahkan, Alan juga sempat meminta kiriman uang sebesar Rp 1,5 juta. Uang itu untuk mengganti kerugian perusahaan jika seandainya dirinya keluar dari pekerjaan tersebut. “Kalau ngerti jadinya begini, saya akan jual motor untuk menebus anak saya,” ungkap Khoiriyah.

Sehari sebelum kapal dinyatakan hilang, lulusan STM Balung ini masih sempat menelepon ibunya. Sekira jam empat sore. Pemuda yang bercita-cita memiliki bengkel motor ini menanyakan kabar orang tuanya. Pembicaraan jarak jauh ini hanya berjalan sebentar.

Rupanya, perbincangan sore itu merupakan percakapan terakhir antara anak dan ibu tersebut. “Itu adalah komunikasi saya yang terakhir dengan Alan. Jika mengingatnya, hati saya langsung sedih,” ucapnya.

Hingga kini, Khoiriyah masih tak yakin jika anaknya itu ikut tenggelam bersama kapal. Sebab, selama musibah itu dikabarkan, dirinya tak pernah bermimpi tentang anaknya tersebut. Bahkan, usai salat tahajud, dia juga mengaku tak mendapat petunjuk maupun firasat apa pun. “Saya juga ke kiai. Ke mana-mana. Malah juga jarang tidur. Tetapi tak ada firasat apa pun yang menunjukkan kalau anak saya meninggal,” ujar Juwari, ayah Alan.

Karena masih yakin anaknya hidup, maka Juwari tak menggelar tahlil seperti selamatannya orang meninggal. Keluarganya hanya menggelar doa bersama yang dibantu para tetangga. Doa ini ditujukan agar putra bungsunya tersebut diberi keselamatan, serta dapat kembali ke rumah dalam keadaan hidup. “Sudah empat bulan berjalan. Dan sampai sekarang tidak ada kabar. Saya juga heran, kenapa polisi dan perusahaan tidak berusaha mencarinya,” tuturnya.

Maimanah, ibunda Saeroji, mengaku akan menghadap ke Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti, di Jakarta. Langkah nekat itu bakal dilakukannya jika kabar keberadaan putra terakhir dari enam bersaudara tersebut tak kunjung ada kejelasan.

Bahkan, dirinya juga menyatakan akan menghadap Presiden Joko Widodo, agar pemerintah bersedia mencari keberadaan anak bungsunya tersebut. “Saya ini khawatir anak saya dijual jadi budak, atau jadi teroris. Saya juga takut anak saya dijadikan kurir narkoba. Saya akan minta ke pemerintah agar anak saya dikembalikan hidup,” harapnya.

Maimanah mengaku tak mampu kalau harus mencari keberadaan putranya itu. Oleh karenanya, perempuan 66 tahun ini sempat mendatangi otoritas terkait di Denpasar, Bali, agar melakukan pencarian terhadap KM Naga Mas Perkasa I.

Sebab, sehari sebelum kapal dinyatakan hilang kontak, putranya itu sempat melakukan panggilan video. Dalam percakapan itu, anaknya menyebut tengah berada di perairan Flores. “Malam sebelumnya, anak saya video call. Saat itu kondisi laut terlihat bagus. Tidak ada gelombang maupun badai. Katanya, dia sedang berada di laut Flores,” ungkapnya.

Sebelum memutuskan merantau ke Bali, Rosi sempat bekerja ikut kakaknya di Kalimantan Selatan. Di sana, pemuda 21 tahun ini berjualan solar. Kata Maimunah, hasilnya lumayan. Selama beberapa bulan berjualan, anak yang masa remajanya terkenal nakal itu bisa membawa pulang uang Rp 25 juta. Uang itu untuk membenahi rumah belakang.

Kemudian Rosi pamit ikut kapal agar ada tambahan uang untuk membongkar rumah bagian depan. Cita-cita itu ia sampaikan ke ibunya, sebelum akhirnya Rosi pamit bekerja. “Dulu dia nakal sekali. Tetapi setelah berubah baik, kok jadi begini,” sesalnya.

Seketika tangisnya pecah. Ibu enam anak ini lunglai. Tubuhnya lemas, hingga membuatnya bersandar di kursi. Dia lantas melanjutkan cerita awal keberangkatan putranya tersebut. “Saat itu, sebelum berangkat, saya melangkahi tubuhnya tiga kali. Saya mendoakan agar dia selamat dunia akhirat,” ucapnya.

Pasca mendengar kabar yang hingga kini tak diyakininya itu, Maimanah pergi ke sejumlah orang pintar. Dia berkata, sudah belasan para normal dan kiai yang dikunjungi. Itu semata untuk mencari tahu serta meminta doa agar putranya tersebut bisa selamat. Karena hingga kini, perempuan baya ini masih meyakini jika putranya yang dipanggil Rosi itu masih hidup. “Pulanglah, nak! Emak sendirian di rumah. Emak sudah kangen,” harapnya.

Reporter : Mahrus
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa:Imron Hidayatullah.
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :