Rempah-Rempah Berangsur Turun

TANAMAN TOGA: Sumaina, pedagang jahe, kunyit, kencur, dan bumbu lainnya, di Pasar Tanjung. Harga jahe dan kencur melonjak tinggi pada awal korona, kini mulai berangsur turun.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Harga rempah-rempah seperti jahe dan kencur di Pasar Tanjung mulai berangsur turun. Sebelum ini, sejumlah tanaman obat keluarga (toga) tersebut sempat melonjak hingga Rp 70 ribu per kilogram di awal pandemi korona menyerang Jember.

IKLAN

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lantai dua Pasar Tanjung, masyarakat tak mengalami kesulitan mencari rempah-rempah seperti jahe dan kencur. Sumaina, salah seorang pedagang rempah-rempah di Pasar Tanjung, mengakui, jahe dan kencur menjadi dua empon-empon yang paling banyak dicari sejak awal korona, sekitar Maret dan April.

Harganya, kata dia, pada waktu itu cukup tinggi. Mencapai Rp 70 ribu per kilogram. “Kalau di tingkat pengecer itu bisa jatuhnya Rp 70 ribu per kilogram. Tapi di tingkat kulakan seperti saya Rp 60 ribu per kilogram,” jelasnya.

Kini, harga jahe yang dijual Sumaina mulai berangsur turun menjadi Rp 25 ribu per kilogram, sedangkan kencur Rp 30 ribu per kilogram. Harga itu, lanjut dia, adalah harga kulakan, bukan pengecer. “Kalau di tingkat pengecer, harga jahe per kilogram masih bisa Rp 40 ribu,” ujarnya.

Naiknya harga jahe dan kencur pada awal korona tak lain karena permintaan sangat tinggi. “Banyak orang beli banyak, untuk dibuat jamu. Sereh (serai) dulu juga naik, tapi sekarang normal,” tuturnya.

Selain itu, penyebab lain adalah pada waktu itu masih belum banyak hasil panen tanaman empon-empon di Jember. “Kalau sekarang sudah banyak yang panen. Pasokan aman, semua empon-empon bukan impor, tapi asli dari daerah sendiri Jember. Yang impor itu cuma bawang putih,” jelas perempuan kelahiran Surabaya tersebut.

Jahe termasuk empon-empon paling banyak dicari hingga kini. Dalam dua hari saja, dirinya bisa menjual setengah kuintal atau 50 kilogram.

Sementara itu, Mudaiyah, salah seorang penjual makanan, mengaku, harga jahe memang mengalami penurunan. Tapi tetap saja harganya belum normal dan masih terbilang mahal. Untuk satu ons saja dihargai Rp 4 ribu. Dia mengaku, sejak korona, jahe dan kencur memang mengalami kenaikan harga. “Harga per kilogramnya Rp 40-45 ribu,” ujarnya.

Sebagai informasi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember tahun 2020, luas panen tanaman biofarmaka di Jember mengalami kenaikan dari 608.043 m2 pada 2018 menjadi 644.545 m2 di tahun 2019. Naiknya luas panen juga diikuti dengan produksi per tahunnya. Pada 2018 total produksi tanaman biofarmaka di Jember mencapai 1,10 juta kilogram atau 1.100 ton, sedangkan 2019 meningkat jadi 1.192,9 ton.

Tanaman biofarmaka di Jember tidak hanya jahe, temulawak, kunyit, laos, ataupun kencur saja. Tapi juga ada lempuyangan, temuireng, temukunci, dingo, calamus, kapulaga, mengkudu, mahkota dewa, keji beling, sambiloto, dan lidah buaya. Dari semua jenis tanaman biofarmaka, produksi terbesar adalah jahe dengan total 420 ton pada 2019. Sementara daerah penghasil jahe terbesar di Jember pada 2019, menurut catatan BPS adalah Kecamatan Silo yang mencapai 2,5 ribu ton.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti