Tak Semua Bisa Berpuasa

MAKNA RAMADAN: Ustad Muhammad Muslim memberi tausiah di musala Radar Jember, Kamis malam.

RADAR JEMBER.ID – Bulan puasa menjadi salah satu bulan yang paling dimuliakan Allah SWT. Salah satu buktinya, tidak semua orang bisa menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Menurut Ustad Muhammad Muslim saat mengisi tausiah di musala Radar Jember, untuk bisa menjalankan ibadah puasa, seseorang tidak lepas dari tingkat keimanannya. Integritas individu jadi bagian penentu seseorang bisa menjalankan ibadah puasa karena Allah atau tidak.

IKLAN

“Allah berfirman: Hai, orang-orang yang beriman. Allah menyebut orang yang beriman, dan diwajibkan berpuasa atas orang yang beriman tersebut. Jadi, tata imannya, laksanakan kewajiban puasanya. Kalau tidak beriman, untuk apa berpuasa,” kata pria yang menjabat sebagai Kasi Penyelenggara Syariah Kemenag Jember itu. Dia pun mengutip kisah antara sahabat Umar bin Khattab dan Ubai bin Kaab. Saat itu, Ubai mempertanyakan persoalan takwa. Tetapi Umar bertanya balik.

“Bagaimana caramu untuk keluar saat terjebak di tempat yang penuh duri. Tentu jawabnya, berjalan secara hati-hati agar tidak terkena duri,” ucap Muslim. Makanya salah satu cara untuk bisa mengambil berkah Ramadan yaitu dengan berdisiplin. Waktu setelah sahur, sebisa mungkin digunakan untuk zikir menunggu waktu subuh. Setelah subuh, sebisa mungkin menunggu waktu Duha.

“Nah, kemudian mengisi hari-hari di bulan puasa dengan amalan-amalan kebaikan,” jelasnya. Menjalankan ibadah puasa secara disiplin menurutnya tak akan bisa dilakukan orang-orang yang tidak memiliki loyalitas tinggi. Dengan menjalankan ibadah puasa karena Allah SWT, menurut Muslim, seseorang akan dapat menghapus dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

“Selain terus beribadah kepada Allah, kita juga harus peka terhadap sosial. Perintah Allah dirikan salat dan laksanakan zakat. Artinya, selain ibadah kepada Allah, juga harus memberi manfaat kepada lingkungan sekitar. Apabila puasa kita benar-benar karena Allah, insyaallah dosa-dosa kita akan diampuni atau dihapus,” ungkap Muslim.

Namun demikian, salah satu kunci agar dosa-dosa bisa diampuni adalah dengan menjalankan perintah Allah dengan didasari keyakinan. “Sama dengan kita meminta atau memohon kepada Allah. Semakin yakin, semakin banyak meminta, akan semakin banyak diberi. Harus yakin,” tegasnya. Muslim berpesan, rezeki pada umumnya memang diatur oleh Allah SWT. Akan tetapi, umat manusia tidak patut untuk membatasi diri termasuk berpikir bahwa rezeki hanya didapat dari gaji atau upah pekerjaannya saja.

“Jangan kita berpikir, rezeki kita hanya sebatas gaji. Jangan membatasi diri dengan pikiran. Di luar sana masih ada banyak rezeki yang tidak pernah kita tahu. Rezeki bisa datang karena pekerjaan utama kita, bisa karena saudara, teman, atau orang tak dikenal sekali pun,” pungkasnya. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Rangga Mahardika