Seneri dan Suwarsih, Pasutri yang Hidup dari Bikin Tas Tali bekas

Meskipun penglihatannya sudah mulai berkurang, tapi Seneri tetap semangat membuat tas dari barang bekas. Ramadan ini adalah berkah baginya, karena banyak pesanan tas ukuran kecil untuk tempat beras zakat fitrah.

SABAR DAN TELATEN: Seneri, 73, bersama Suwarsih, 55, istrinya, membuat tas plastik dari tali-tali bekas.

RADAR JEMBER.ID – Mencari rumah Seneri (73) dan Suwarsih (55) tidaklah sulit. Pasangan suami istri ini tinggal di Dusun Ampo, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi. Apalagi banyak warga lain yang sudah kenal dengan pasutri ini.

IKLAN

Seneri dan Suwarsih sebenarnya bukan warga asli di sana. Baru tujuh tahun lalu, Seneri tinggal di Dusun Ampo, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi.

Mereka belum mempunyai tempat tinggal tetap. Pasutri ini menumpang di tanah milik Kamsu, warga setempat. Sementara itu, rumah yang terbuat dari bambu dan sesek miliknya itu dibuatkan oleh Asnawi, 59, warga setempat.

Belasan tahun lalu, Seneri kenyang merantau bersama 20 temannya yang asal Probolinggo. “Saya tidak pernah pulang sejak merantau. Pernah ke Sulawesi, Lombok, Sumbawa, dan baru pulang setelah barang yang dijual itu habis,” ujar Seneri sambil merajut tas dari plastik bekas tali.

Sejak tujuh tahun lalu, Seneri mencoba mengubah nasibnya dengan mencoba membuat tas dari plastik tali bekas. Bahan itu dia beli dengan harga murah. Dalam satu pikap, Saneri membeli Rp 300 ribu. “Saya tidak mungkin beli plastik tali baru, karena harganya yang mahal. Saya terpaksa beli pada seseorang yang juga dari hasil mencari,” ujarnya.

Plastik baru ini, kalau di toko harganya mahal. Untuk 15 kilogram tali plastik baru, harganya sampai Rp 250 ribu. ”Dengan harga segitu, saya tidak mungkin membeli. Kalau harganya Rp 250 ribu, terus tasnya mau saya jual berapa,” ujarnya.

Dia membuat tas plastik dalam 6 ukuran dengan harga yang berbeda. Mulai dari harga Rp 5.000,  Rp 7.500, Rp 12.500, Rp 15.000, sampai Rp 20.000. Tas ukuran sedang yang harganya Rp20.000 bisa diselesaikan dalam waktu 4-5 jam dengan pemasangan talinya.

Awalnya, Seneri masih lancar membuat tas tersebut. Tapi belakangan mulai menurun karena dia sudah mengalami gangguan pada penglihatan. Bahkan, jika dulu keliling dengan menggunakan sepeda untuk menjajakan dagangannya, kini ia selalu jalan kaki.

”Kalau keliling ke wilayah Gladak Pakem, Sumbersari, saya harus berangkat tengah malam (02.00), baru nyampek rumah pukul 18.00,” jelasnya.

Kalau berkeliling di daerah Jalan Melati (selatan Pasar Tanjung) ia berangkat setelah salat Subuh dan baru pulang ke rumah sore hari. Sebab, meski membawa sepeda untuk mengangkut tas dagangannya, sepeda itu tetap dituntunnya. Suwarsih, istrinya, tidak masalah kalaupun Seneri pulang hingga isya, karena sudah terbiasa.

Seneri mengaku cukup dengan pekerjaan ini. Tiap keliling, rata-rata dia membawa sekitar 15 tas hasil buatannya. Jika sehari tak habis, Seneri mampir di Pasar Tanjung dan Pasar Kreyongan, Patrang.

Seneri tidak bekerja sendirian membuat tas dari bahan bekas. Dia ditemani istrinya dan anak perempuannya, Rina, 27. Di rumahnya, ada sekitar 7 cetakan yang dibuat dari kayu berbagai ukuran.

Kalau bahan tas itu mudah didapat, dua hari sekali ia langsung keliling dengan sepedanya. Namun, kalau bahan sulit didapat, paling tidak seminggu ia baru bisa keliling berjualan. Seneri mengaku susah kalau plastik yang ada itu warnanya hanya satu macam saja (hitam). ”Karena dalam satu tas itu harus ada variasinya, yakni berwarna-warni,” ujar Seneri.

Dia merasa bersyukur masih banyak orang yang berbelas kasihan ketika membeli tas buatannya. Kadang dari harga Rp 15.000, mereka membayar Rp 20.000. ”Yang penting, kami nggak meminta-minta. Karena saya masih mempunyai kemampuan meskipun hanya membuat tas dari plastik bekas,” katanya.  (*)

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Hadi Sumarsono