Pelecehan Seksual: Laki-Laki Itu Lebih Sakit

Psikiater dr Inke Kusumastuti MBiomed SpKJ 

RADAR JEMBER.ID – Perempuan sering menjadi korban pelecehan seksual. Sebenarnya, kasus pelecehan seksual tidak selalu dialami perempuan. Laki-laki juga tak luput dari tindakan tersebut. Bahkan, sakitnya itu lebih sakit laki-laki ketimbang perempuan.

IKLAN

Psikiater dr Inke Kusumastuti MBiomed SpKJ mengatakan, dalam hal pelecehan seksual sebetulnya banyak korban itu tidak tahu itu termasuk pelecehan. “Setiap orang menyikapi pelecehan seksual itu berbeda-beda, karena dilihat dari kultur mereka ataupun background mereka,” katanya.

Perlu diketahui, tambah dia, korban pelecehan seksual tidak selalu perempuan. Memang paling banyak ditemukan adalah perempuan yang  menjadi korbannya. Tapi tidak menutup kemungkinan laki-laki juga jadi korban pelecehan seksual. “Pasien saya yang pernah alami pelecehan seksual kebanyakan perempuan, tapi ya ada laki-laki,” katanya.

Bahkan, kata dokter di Poli Jiwa RSU Soebandi Jember itu, laki-laki yang dilecehkan itu harga dirinya sangat jatuh melebihi perempuan. “Laki-laki dilecehkan harga dirinya itu jatuh banget,” ujarnya. Terlebih lagi, laki-laki tersebut hidup di lingkungan patriarki. Yaitu sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan dan mendominasi peran kepemimpinan.

Contoh kasus yang kecil saja, laki-laki yang suka memasak lantas dibilang banci. Lingkungan patriarki itulah yang membuat kaum adam juga sangat down jika dilecehkan. Dampak laki-laki yang dilecehkan bisa terjadi perilaku yang berubah. “Bisa berhalusinasi, punya gangguan mimpi buruk, tiba-tiba histeris jika teringat waktu dilecehkan atau berjumpa ke hal-hal yang mirip saat dilecehkan, termasuk juga bisa histeris,” tuturnya.

Bahkan, kata dia, akibat pelecehan seksual terhadap laki-laki biasanya mengarah ke referensi seksual yang menyimpang. Contohnya, suka mengintip orang saat berhubungan badan, suka mencium pakaian dalam perempuan, ataupun suka esek-esek kelaminnya sendiri. “Dampaknya tidak bisa langsung ke kelainan seksual, seperti homo. Tapi itu bisa saja terjadi,” ujarnya.

Hal yang paling menyakitkan, pelecehan seksual laki-laki secara fisik. Semisal jadi korban sodomi atau lainnya. Tidak jarang, akibat semacam tersebut, perilaku-perilaku menyimpang mulai ditunjukkan. Contoh kecilnya marah terhadap dirinya sebagai laki-laki.

Inke mengatakan, dari pengalamannya sebagai dokter di Poli Jiwa RSU dr Soebandi, setidaknya setiap bulan ada pasien pelecehan seksual. “Sebulan itu ada pasien pelecehan seksual itu. Satu sampai dua pasien per bulan,” katanya. 

Sayangnya, kata dia, mereka yang pernah mereka jadi korban pelecehan seksual tersebut baru konseling setelah cukup lama. “Dilecehkan lima tahun kemarin, baru datang konseling,” tuturnya. Dia mengaku, sebaiknya setelah kejadian pelecehan tersebut langsung konseling ke psikiater.

Cara paling gampang melegakan mereka yang jadi korban pelecehan seksual adalah curhat atau cerita. Namun perlu dicatat, curhat atau cerita juga dilihat dari lingkungannya. “Kalau lingkungannya mendukung tidak apa-apa. Jika tidak, maka ini yang membuat korban semakin merana,” tambahnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono