Hampir Setengah Abad Tekuni Jual Legen Bumbung

OGAH GANTI PROFESI: Ali warga Kecamatan Sukorambi telah 44 tahun menjalankan profesi jualan legen bumbung. Hingga kini, dia tetep menemuki profesinya tersebut.

SUKORAMBI.RADARJEMBER.ID- Menemukan tempat tinggal Pak Ali, penjual legen bumbung di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sukorambi, tidaklah sulit. Hampir semua orang mengenal bapak tiga anak tersebut. Ini wajar, karena kakek tiga cucu itu cukup populer karena telah menggeluti usaha legen bumbung hampir setengah abad lalu, tepatnya mulai tahun 1976. Bahkan saat itu, kondisi kota Jember tak seramai sekarang.

IKLAN

“Penjual legen menggunakan bumbung di Jember sekarang ini sulit ditemui dan tinggal saya saja. Kalau dihitung-hitung, saya jualan legen dari pohon kelapa ini sudah 44 tahun demi menghidupi keluarga,” ungkap Ali, mengawali kisahnya.

Bahkan Ali ingat betul harga satu gelas legen waktu itu, tidak lebih dari Rp 5. Dan minuman tersebut rasanya memang sangat menyegarkan dan tidaklah mengherankan bila minuman itu disukai semua kalangan.

“Berangkat dari rumah berjualan legen bumbung ini mulai pukul 08.00 hingga pukul 14.00. Mulai dulu berjalan kaki menuju Pasar Tanjung dan sebulan sekali dipastikan ganti sandal jepit,” ucapnya.

Dulu, waktu Ali masih muda dan belum berumah tangga, rutin tiap pagi mengambil sendiri legen dari pohon kelapa, namun seiring bertambahnya usia dan tenaga mulai berkurang, Ali kini tidak lagi memanjat kelapa sendiri. Dan untuk urusan air legen dipasrahkan kepada sang menantu.

“Satu bumbung bambu berukuran panjang satu meter memiliki berat 50 kilogram. Saya juga membawa legen dimasukkan kedalam botol bekas air mineral ukuran 1,5 liter dan setiap hari saya membawa 10 botol,” imbuhnya.

Menariknya lagi, saat berlangsung Festival Bedadung beberapa waktu lalu legen milik Ali itu diborong oleh panitia dan bahkan minuman dari nira kelapa ini pernah diundang oleh sebuah hotel berbintang di Jalan Sentot Prawirodirjo untuk dinikmati oleh seluruh karyawan.

Dari perjuangan selama 44 tahun menjajakan legen keliling tersebut, anak keduanya kini bisa melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka (UT) dan mampu merenovasi rumah yang awalnya berdinding bambu. (*)

Reporter : Winardyasto

Fotografer : Winardyasto

Editor : Mahrus Sholih