Buru Satu Pemerkosa Lagi

KOOPERATIF: Tiga tersangka pelaku pemerkosaan menyerahkan diri ke polisi, kemarin (23/10). Mereka diantar Kepala Desa Kemuningsari Kidul, Kecamatan Jenggawah, Dewi Kholifah.
  • Tiga Pelaku Menyerahkan Diri
  • Total Enam Tersangka Diamankan

JEMBER, RADARJEMBER. ID – Upaya pengejaran terhadap pemerkosa gadis 15 tahun di Kecamatan Jenggawah membuahkan hasil. Bahkan, sebelum ditangkap, tiga pelaku lebih dulu menyerahkan diri ke polisi. Mereka diantar oleh Kepala Desa Kemuningsari Kidul. Kini, total ada enam dari tujuh tersangka yang telah diamankan. Selanjutnya, polisi masih memburu satu pelaku lagi yang dikabarkan kabur ke Pulau Bali.

Ketiga pelaku yang baru diamankan tersebut adalah Muhammad Hulaifi (22), Muhammad Mahmud Kusaeri (24), dan Ansori (23). Semuanya merupakan warga Desa Kemuningsari Kidul. Secara bergelombang, para pelaku ini mendatangi Kantor Polsek Jenggawah. Hulaifi dan Kusaeri alias Erik menyerahkan diri pada Kamis (23/10) dini hari. Sementara Ansori menyusul kemudian pada pagi hari.

Para pelaku berdalih tak berniat kabur ke luar daerah. Mereka beralasan bekerja di luar kecamatan dan luar pulau. Hulaifi dan Erik bekerja di salah satu proyek bangunan yang ada di Desa Pecoro, Kecamatan Rambipuji. Demikian juga dengan Ansori. Dia mengaku bekerja sebagai kuli bangunan di Madura. Ketiganya bersedia menyerahkan diri setelah dibujuk oleh kepala desa. Baru kemudian diantar ke kantor polisi.

Kepala Desa Kemuningsari Kidul, Kecamatan Jenggawah, Dewi Kholifah mengatakan, setelah tertangkapnya tiga pelaku, dia meminta beberapa pelaku lain yang merupakan warganya itu agar pulang dan menyerahkan diri. Dia juga meyakinkan keluarga pelaku bahwa lebih baik kooperatif ketimbang menjadi buronan kepolisian. “Daripada menjadi DPO (daftar pencarian orang, Red), lebih baik menyerahkan diri saja,” katanya.

Saat ini, ketiga tersangka telah diperiksa intensif oleh penyidik. Dalam pemeriksaan itu ternyata muncul informasi berbeda. Hulaifi, salah seorang tersangka, justru menuding bahwa yang berinisiatif mengajak keluar itu awalnya adalah korban. “Dia selalu WA (mengirim pesan WhatsApp, Red) dan mengajak saya keluar malam. Ayo metu saiki,” kata Hulaifi, menirukan ajakan korban.

Hulaifi juga menuturkan, korban selalu minta dijemput malam hari dan baru mau pulang ketika subuh. Bahkan, saat akan diantar sebelum pukul 03.00 dini hari, korban selalu menolak. “Malah minta pulang pagi pukul 04.00 atau lebih,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia mengaku telah empat kali keluar bersama korban. Setiap jalan-jalan itu, dirinya selalu berhubungan badan dengan korban. Lokasinya berpindah-pindah. Pernah di areal persawahan dan di sebuah warung yang berada di Kecamatan Jenggawah. Menurut tersangka, setiap keluar, korban meminta imbalan. Jumlahnya tidak banyak, hanya Rp 20 ribu. Alasannya untuk membeli paketan data internet.

Pengakuan yang nyaris sama disampaikan pelaku lain, yakni Muhammad Mahmud Kusaeri. Pemuda yang disapa Erik itu juga menuding, korbanlah yang berinisiatif menghubunginya lewat pesan WhatsApp. Pesan yang dikirim itu juga berisi ajakan untuk keluar malam. “Ayo metu wis! Nang endi ae sing penting metu,” ucapnya, mengutip pesan dari korban.

Erik mengaku telah jalan bersama korban tiga kali. Dia juga terus terang telah melakukan hubungan intim yang dilakukan di rumah dan di tempat kos korban di daerah Kecamatan Balung. Erik juga pernah memerkosa korban beramai-ramai bersama pelaku lainnya di areal persawahan. “Pernah dia minta uang Rp 200 ribu, ya saya kasih,” katanya.

Kendati para pelaku beralasan korban yang mengajak keluar lebih dulu, namun perbuatan mereka tetap tak bisa dibenarkan. Sebab, korban masih tergolong anak-anak, sehingga masih rentan dimanipulasi kesadarannya oleh para pelaku yang sudah dewasa. Terlebih, keterangan itu masih satu pihak dan akan dikonfrontasi oleh penyidik kepolisian.

Ke Salon Dulu, Serahkan Diri Kemudian

Rupanya ada kisah lain dari upaya penangkapan dan perburuan pelaku pemerkosaan ini. Sebelum menyerahkan diri ke polisi, Ansori masih sempat pergi ke salon untuk memotong dan menyemir rambut. Pemuda 23 tahun ini merasa malu kalau saat menyerahkan diri ke polisi, rambut masih berwarna kuning. “Maka saya kembalikan dulu warna rambut agar hitam lagi,” kata Ansori.

Seperti pelaku yang lain, Ansori juga mengelak disebut akan kabur dari desanya. Dia beralasan ke Madura bukan melarikan diri, melainkan hendak bekerja sebagai kuli bangunan. Lalu, kenapa sulit dihubungi? Dia berdalih, ponselnya sedang error. Setelah bisa dihubungi, dirinya langsung pulang ke Jenggawah. “Saya di Madura sudah empat hari,” katanya, yang saat itu juga diantar kakak perempuannya.

Ansori mengakui semua kesalahannya yang telah berhubungan intim dengan korban. Dirinya berkata, hanya sekali keluar dan berhubungan badan dengan korban. “Setelah itu, saya tidak pernah chat lagi dengan korban. Nomor HP-nya langsung saya blokir,” tuturnya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Jenggawah Aiptu Ahmad Rinto membenarkan telah mengamankan tiga pemerkosa tersebut. Ketiganya datang ke polsek diantar kepala desa. “Untuk sementara, yang sudah diamankan ada enam tersangka,” terangnya.

Kini, pihaknya masih memburu satu pelaku lagi yang keberadaannya sudah diketahui di Bali. Kendati begitu, polisi masih berusaha membujuk pelaku dan keluarganya agar menyerahkan diri. Pihaknya juga bekerja sama dengan pemerintah desa untuk memuluskan rencana tersebut. “Selain berkoordinasi dengan kepala desa, kami juga komunikasi dengan pihak keluarga tersangka,” pungkas Rinto.

Editor: Mahrus Sholih
Reporter: Jumai
Fotografer: Jumai