Sekolah Diinstruksikan Ungkapkan Kasus Foto Telanjang

SCREENSHOT FOR RAME DI KUBURAN: Salah satu tersangka sedang mengatur posisi foto model anak di bawah umur yang hendak diambil gambarnya

RADARJEMBER.ID – Cabang Dinas Pendidikan Provinsi berkomentar atas kasus pembuatan foto telanjang yang kabarnya banyak melibatkan anak usia SMA. Kepala SMA dan SMK di Lumajang akan diarahkan untuk mempersuasi para siswanya agar melapor, jika ada yang merasa jadi korban Mastenk dan kawan-kawan.

IKLAN

Instruksi itu akan segera disebarluaskan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Lumajang, Sugiono Eksantoso kepada sekolah setingkat SMA yang ada di bawah naungannya. Mengingat, upaya pelaporan oleh para korban akan membantu proses hukum yang sedang dijalankan pihak kepolisian.

Meski demikian, hingga detik ini dirinya belum tahu apakah ada siswa SMA dan SMK di Lumajang yang masuk dalam 45 korban foto bugil yang diakui Mastenk dkk. Sesuai kabar yang beredar, masih satu nama korban yang muncul ke permukaan. Itu pun konon kabarnya pelajar salah satu SMK di Kabupaten Jember.

Namun demikian, lanjut Sugiono, upaya sekolah untuk mencari tahu ada atau tidaknya siswanya yang masuk dalam 45 korban Mastenk dkk sangat perlu dilakukan. Bukan hanya untuk membantu upaya penanganan hukum, namun juga menanggulangi sedini mungkin dampak traumatis yang hingga saat ini masih ditanggung sendiri oleh korban. “Jika memang siswanya ada yang jadi korban, sekolah harus terlibat. Namun, dengan tetap menjaga kerahasiaan identitas korban,” ucapnya.

Lebih dari itu, dia menilai bahwa terjadinya kasus foto telanjang yang melibatkan anak-anak seusia SMA itu tidak lepas dari campur tangan media sosial. Media sosiallah yang awal kali mempertemukan pelaku dengan para korbannya.

Peristiwa tersebut, lanjut Sugino, menjadi pelajaran telak kepada semua pihak. Tidak hanya guru, tapi juga orang tua, agar mengontrol penggunaan gawai oleh putra-putrinya. Mengingat, bukan hanya dampak baik saja yang bisa dipicu oleh gawai, tetapi juga dampak buruk.

Reporter : Khawas Auskarni Muhyidin
Editor : M. Shodiq Syarif
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :