HAN: Semoga Jember Benar-Benar Layak Anak

DWI SISWANTO/RADAR JEMBER HARUS CERIA: Siswa SDN Gebang 5 sedang mengisi waktu istirahatnya dengan permainan kids athletic. Sebagai generasi emas, anak-anak harus mendapat perhatian dan perlakuan khusus. Lebih-lebih di era digital seperti saat ini. Jangan hanya sekolah tapi orang tua dan lingkungan harus peka dan responsif terhadap kebutuhan mereka

RADARJEMBER.ID-Kemarin, 23 Juli adalah hari spesial. Khususnya bagi masa depan bangsa ini. Hari itu diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Ada kado indah yang dipersembahkan Jember di hari spesial itu. Yakni dengan beroleh penghargaan sebagai Kota Layak Anak.

IKLAN

Kita tentu sangat bangga dengan penghargaan itu. Setidaknya, apa yang dilakukan pemerintah sudah cukup baik dan mendapat apresiasi. Namun, kita tentu juga berharap, penghargaan itu bukan sebatas seremonial. Setidaknya, menjadi pelecut bagi pemerintah di bawah kepemimpinan Bupati Faida agar makin bisa memenuhi hak-hak dan kebutuhan anak.

Sebab, senyatanya, meski pemerintah kabupaten sudah berusaha dengan berbagai upaya memenuhinya, sarana bagi anak untuk melakukan aktivitas masih terbatas. Bahkan, ruang layak bagi anak di beberapa sudut masih sulit ditemui di kabupaten ini. Selain itu, kekerasan hingga pekerja anak masih bisa ditemui, lebih-lebih di perdesaan.

“Jujur, ada ironi. Tapi, menjadi kabupaten layak anak bisa menjadi motivasi agar lebih baik,” kata Rizki Nuraini, direktur yayasan Prakarsa Swadaya Masyarakat (YPSM) Jember. YPSM adalah NGO yang bergerak dalam pendampingan terhadap anak di daerah pelosok.

Rizki menilai, kondisi anak-anak di Jember masih perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Sebab, tak jarang anak mengalami kekerasan dan menjadi pekerja anak. “Catatan PPA Polres Jember ada 27 kasus kekerasan 2018 ini,” katanya.

Menurut dia, fasilitas yang memadai bagi anak-anak di Jember masih sangat terbatas. Bahkan, bila ada, seperti di Alun-alun Jember, masih belum cukup layak. Bahkan, Rizki menilai masih belum layak. “Di sana hanya anak-anak yang bisa bermain, tidak ada tempat bagi orang tua untuk mengawasi,” terangnya.

Tak hanya itu, di Jember tidak ada transportasi yang ramah untuk anak. Bus yang khusus mengantarkan anak belum ada. “Begitu juga dengan trotoar bagi anak, tidak ada rute aman untuk anak,” tegasnya.

Idealnya, kata perempuan berkacamata itu, anak-anak memiliki tempat untuk bermain, belajar, seperti taman baca. Namun, sulit untuk menemukan tempat tersebut di kawasan kota. “Itu di kota, apalagi di desa,” ujarnya.

Kondisi sarana ramah dan layak bagi anak desa justru lebih memprihatinkan. Hampir tidak ada wadah bagi anak untuk mengekspresikan keinginannya. “Kebutuhan dasar anak saja masih terbatas,” imbuhnya.

Mulai dari hak anak untuk memperoleh pendidikan dan kesehatan. Tak semua anak bisa mendapatkan akses pendidikan yang layak. Mulai dari akses sekolah yang jauh, sehingga cukup selesai sekolah lulus SD.

“Ada yang putus sekolah hingga kelas VIII SMP, saya pernah minta data putus ke sekolah kepada Dispendik, namun tidak punya,” akunya. Bahkan, terbatasnya tenaga medis di daerah pelosok juga menjadi penyebab hak anak-anak di bidang kesehatan tidak terpenuhi. Selain itu, kecamatan yang menjadi tempat keramain warga desa juga tidak memiliki sarana layak dan ramah bagi anak.

YPSM sempat melakukan penelitian di empat desa, yakni Panduman Kecamatan Jelbuk, Desa Glagahwero Kalisat, Desa Wringin Telu, dan Desa Wonosari Kecamatan Puger. Di desa itu, Kiki menemukan beberapa anak yang putus sekolah dan menjadi pekerja anak.

Misal di Kecamatan Puger, ada anak yang berhenti sekolah karena akses ke sekolah yang jauh dan sulit. Selain itu, juga karena keterbatasan ekonomi. “Di Panduman banyak anak yang bekerja sebagai buruh tembakau,” ucapnya.

Hal itu karena sudah menjadi tradisi bagi keluarga buruh di sana. Yakni mengajak anaknya ikut terlibat dalam mengolah tembakau. “Tradisi mereka, anak membantu orang tua, bisa kontrak kerja atau borongan,” tambahnya.

Kegiatan itu termasuk eksploitasi anak. Dari 500 anak yang disurvei, ada 60 anak yang menjadi pekerja. Dampaknya, kesehatan dan belajar mereka akan terganggu. Bahkan ada yang merasakan keluhan pusing sehingga tidak konsentrasi dalam belajar.

Seharusnya, lanjut dia, pemerintah harus lebih peduli terhadap isu tentang anak. Selama ini, hak anak belum menjadi isu mainstream dalam pembahasan. Padahal, isu tersebut sudah muncul dalam Sustainable Development Goals (SDG’s).

Sejak tahun 2011 lalu, YPSM bersama NGO lainnya terus berupaya agar Jember menjadi kota layak anak. Harapannya agar program yang diterapkan di semua SKPD Pemerintah Kabupaten Jember bisa mengakomodasi hak anak. “Dalam perencanaan program, isu tentang anak agar bisa dimasukkan,” ucapnya.

Riyadi Ariyanto, pendiri yayasan Berbagi Happy yang bergerak di bidang pendidikan anak memberikan alternatif wadah untuk memenuhi kebutuhan anak. Yakni mengajak anak untuk bermain dan belajar dalam komunitas yang didirikannya.

Dia menegaskan, tantangan anak hari ini semakin berat. Tak hanya di kabupaten Jember, namun juga tingkat nasional. “Sekarang anak mana yang tidak tertarik dengan game, tantangannya luar biasa,” jelasanya.

Orang tua, kata dia, harus menjadi pendidik yang cukup protektif bagi anak. Yakni mendidik dengan paradigma baru di tengah kemajuan dunia teknologi. Yakni orang tua juga harus menguasai teknologi. “Orang tua juga perlu belajar,” tuturnya.

Anak-anak, lanjut dia, harus memiliki aktivitas  gerakan di tempat terbuka, belajar berinteraksi dan berkomunikasi. Hanya saja, sarana yang mendukung ke sana masih terbatas. “Komunitas Berbagi Happy menyediakan fasilitas anak-anak berekspresi,” tuturnya.

Seperti penguatan karakter moral dan kinerja, yakni belajar jujur dan disiplin. Kemudian penguatan kompetensi. Anak-anak berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif. “Pemerintah perlu menyediakan ruang komunitas belajar bersama,” tandasnya.

1.HAN: Semoga Jember Benar-Benar Layak Anak

2.HAN: Masih Dibayang-bayangi Kekerasan

3.HAN: Harus Sensitif dan Responsif

 

Reporter : Bagus Supriad
Editor : MS Rasyid Winardi
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer: Dwi Siswanto
Grafis: Boby Pramudya.

Reporter :

Fotografer :

Editor :