Raih Juara Satu Tingkat Nasional di Universitas Jember

Siswi SMA Nuris Ciptakan Game Online Cinta Tanah Air

Melihat semakin menipisnya kecintaan pada Indonesia di kalangan remaja, siswi SMA Nuris ini memberikan solusi alternatif. Yakni membuat game Dolanan Dasar Negara (Ladaga) untuk meningkatkan rasa cinta tanah air.

TERIMA PENGHARGAAN: Ayu Novita Sari, siswi SMA Nuris saat menerima penghargaan dari Bupati Jember dr Faida.

RADAR JEMBER.ID – Rasa cinta pada tanah air memang harus perlu dipupuk setiap saat. Banyak cara yang bisa dilakukan agar para generasi semakin memiliki semangat patriotisme. Misal, berkarya dan berprestasi untuk membanggakan bangsa.

IKLAN

Hal inilah yang dilakukan oleh salah satu siswi SMA Nuris Jember. Yakni Ayu Novita Sari yang  duduk bangku kelas XII IPS 1. Gagasan yang dituangkannya dalam sebuah essai patut diapresiasi. Sebab, di tengah berbagai persoalan bangsa, ia mampu memberikan solusi.

Ide tentang rasa cinta tanah air itu diberi nama dengan Ladaga. Singkatan dari Dolanan Dasar Negara. Ladaga merupakan game yang dibuat sebagai media untuk mengamalkan Pancasila. Namun, cara yang digunakan sesuai dengan generasi milenial, yakni melalui game.

Gagasan itu muncul karena Ayu melihat  Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak etnis dan budaya. Kemudian, memiliki dasar negara sebagai pegangan, yakni Pancasila. “Sementara teknologi terus berkembang hingga ke pelosok desa,” katanya.

Para generasi terpengaruh dengan budaya luar yang masuk hingga jati dirinya luntur. Praktik pengalaman Pancasila semakin berkurang. Untuk itulah, Ayu mencoba memberikan solusi melalui perkembangan teknologi. “Game permainan video berbasis Android yang marak disukai remaja sekarang,” jelasnya.

Akhirnya, dia mencoba membuat ide game Ladaga untuk membantu krisisnya rasa cinta air di kalangan remaja. Permainan edukasi berbasis Android ini akan menampilkan beberapa hal tentang pemahaman dasar negara.

Game Ladaga ini mengisahkan pewayangan Indonesia yang diwakili oleh kesatria Pandawa. Maskotnya burung Garuda dengan makna lambang negara. Latar belakang tempat adalah candi yang ada di Indonesia. “Ini memfilosofikan tradisi, kebudayaan, peninggalan sejarah, Indonesia,” tuturnya.

Musuh dari permainan ini adalah para robot yang memiliki budaya ala barat. Bahkan, menghilangkan dasar-dasar negara dan konstitusi tanpa memilah informasi yang disuguhkan. “Tokoh wayang nanti akan merebut kota yang dicuri oleh para robot,” terangnya.

Kotak tersebut berisi simbol kemerdekaan. Ketika para wayang berhasil mengambil kotak hadiah tersebut, otomatis akan keluar sebuah pertanyaan seputar Pancasila dan UUD 1945. Jika pemain tokoh wayang dalam game tersebut bisa menjawab, maka tokoh wayang tersebut dinyatakan merdeka. Sedangkan tokoh robot itu sendiri akan menghilang dan musnah dengan sendirinya

Karya Ayu ini mampu meraih juara satu dalam lomba penulisan artikel ilmiah tingkat pelajar se-Indonesia oleh Ikatan Mahasiswa Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UNEJ dan Pemerintah Kabupaten Jember. Dia bersaing dengan ratusan peserta di seluruh Indonesia.

Juara dua diraih oleh SMAN 1 Jember, dan juara tiga diraih oleh SMA Daniorejo Gresik, SMAN 1 Panaregan Ponorogo sebagai harapan 1, dan MA Nurul Barokah Qarletbaru sebagai harapan 2.

Dewan juri dalam lomba ini merupakan pakar ternama. Yakni  Prof Dr Adji Samekto (guru besar Fakultas Hukum Undip Semarang dan Deputi Materi Pembinaan Ideologi Pancasila), Dr Bayu Dwi Anggono SH MH (Direktur PUSKAPSI FH UNEJ), Dr Jimmy Usfunan SH MH (Dosen Udayana Bali), dan Dr Agus Riewanto SH MH (dosen Universitas Sebelas Maret, Surakarta).

Kepala SMA Nuris Jember Gus Robith Qoshidi menambahkan, inovasi dan kreasi itu melakukan langkah yang dilakukan sekolah dan pesantren dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. “Satu bulan satu inovasi bagi para pelajar,” katanya.

Menurut dia, santri memiliki kemampuan dalam merancang aplikasi digital. Mereka dilatih untuk menjadi generasi yang inovatif. Seperti yang dilakukan oleh Ayu, memberikan solusi dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh remaja. “Remaja rentan dimasuki paham radikalisme,” terangnya.

Untuk itu, santriwati Nuris ini mencari metode yang tepat agar remaja tidak terpengaruh dengan gerakan radikalisme. “Ini menjadi metode pembelajaran yang menyenangkan,” tambahnya. Nuris sendiri memfasilitasi para santrinya untuk terus berinovasi.

Selama ini, sudah banyak penemuan-penemuan yang dihasilkan oleh para santri Nuris. Mulai dari masalah kesehatan, pangan, teknologi, dan lainnya. Seperti biskuit lele yang memiliki nilai ekonomi lebih. Ibu hamil tak perlu kesulitan dalam menemukan makanan bergizi, bisa memanfaatkan lele seperti ide para pelajar SMA Nuris.

Selain itu, mereka juga menciptakan Smart Brush, teknologi untuk mendeteksi kerusakan gigi. Menciptakan alat penghasil listrik dari sampah yang bisa digunakan untuk charge gawai. “Ada sekitar 43 penemuan dari para pelajar,” ujarnya.

Mereka dilatih untuk menjadi pelajar yang siap bersaing dalam perkembangan global. Menjadi generasi yang berkarakter dan berwawasan luas.   (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Hadi Sumarsono