Jaga Jarak, Lindungi Diri

Peran Tokoh Penting Menyukseskan Social Distance 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemerintah daerah terus mengampanyekan pentingnya menjaga jarak untuk mencegah penularan virus korona (Covid-19). Sebab, sejauh ini masih ada sebagian masyarakat yang tak acuh terhadap imbauan tersebut. Mereka masih saja mendatangi pusat keramaian, pengajian, hingga kerumunan. Padahal, dalam kondisi seperti itu, mereka rentan tertular virus yang mematikan tersebut.

IKLAN

Imbauan batasan interaksi social (social distance) mulai masif disosialisasikan sejak Covid-19 mulai mewabah di Indonesia. Social distance memang ditujukan untuk mengurangi kerumunan. Tujuannya, meminimalisasi kontak yang berisiko menularkan wabah korona. Di Jember, setidaknya sepanjang sepekan terakhir hal itu masif dilakukan. Bahkan, aparat satpol PP dan kepolisian aktif melakukan imbauan di tempat-tempat kerumunan agar warga segera pulang dan menjaga keluarga mereka dari potensi penularan korona.

Meski pada kenyataannya, ada sebagian masyarakat Jember yang masih enggan melaksanakan anjuran dari pemerintah. Mereka cenderung meremehkan masalah yang sedang menghebohkan dunia itu. Padahal, banyak orang bisa terjangkit jika mereka tak berhati-hati. “Kendala kita itu karena masyarakat Indonesia, terutama Jember, merupakan penduduk yang power distance,” tutur Marisa Selvy H SPsi.

Psikolog pada Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) ini menuturkan, karena power distance, maka jika masyarakat diajak berkumpul oleh tokoh atau pemimpin yang berpengaruh, mereka bakal cepat berkumpul. Oleh karenanya, menurut dia, dalam kondisi darurat korona seperti sekarang, peran mereka sangat dominan untuk menyukseskan rencana pemerintah dalam melaksanakan social distance.

Kata dia, hal itu bisa dimulai dari pemimpin yang paling sederhana dulu. Yakni, ayah sebagai pemimpin rumah tangga. “Seyogianya, sang ayah memberikan penyadaran kepada keluarga untuk menjaga jarak dengan orang lain dan menjaga kebersihan masing-masing,” ujar wanita yang kerap disapa Icha itu.

Selanjutnya, bisa diikuti oleh pemimpin atau tokoh masyarakat yang levelnya lebih naik lagi. Yaitu ketua RT dan RW. Sebab seharusnya, dia menegaskan, ketua RT dan RW bekerja sama untuk saling mengingatkan warga supaya beraktivitas di rumah. “Pemuka agama juga berpengaruh. Mereka wajib menjelaskan kepada majelis untuk menaati instruksi pemerintah,” jelas warga Jalan MH Thamrin, Kecamatan Ajung, tersebut.

Menurut Icha, imbauan social distance harus dimasifkan. Tak cukup hanya melalui media sosial atau aplikasi percakapan saja. Namun, turun ke tokoh dan masyarakat secara langsung. Sebab, kenyataannya hanya orang-orang tertentu yang memahaminya. Untuk itu, dia berharap, semua tokoh dan pemuka agama bergotong royong memanfaatkan power distance untuk melaksanakan social distance tersebut.

Reporter : mg1

Fotografer : Dwi Siswanto, Grafis Reza

Editor : Mahrus Sholih