Batik Bondowoso Mulai Diorder Luar Negeri

GO INTERNASIONAL: Sejumlah pembatik ketika menyelesaikan pekerjaannya. Kini batik khas Bondowoso sudah mulai berani laku di pasar internasional

TAMANAN.RADARJEMBER.ID– Batik Khas Bondowoso belakangan mulai kebanjiran order. Bukan hanya dari dalam negeri, dari luar negeri juga berdatangan. Kondisi ini membuat sejumlah pengelola batik harus ekstra keras menyediakan permintaannya.

IKLAN

Salah satunya adalah Andreyanto yang merupakan pengelola produksi Ijen Batik. Dia yang berhasil menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga sekitarnya mulai dilirik banyak kalangan. Jika sebelumnya hanya fokus di dalam negeri, belakangan sudah mulai ekspansi pasar ke luar negeri.

Produknya mulai dikenal sejak lama. Namun mulai melejit sejak digunakan Imam Nahrawi pada saat Asian Games 2018. Diusung oleh Saiful Bahar yang saat itu menawarkan desain batik kepada Nahrawi, yang disetujui dengan memesan sejumlah 75 Potong. “Dipakai untuk para menteri juga souvernir dari delegasi negara-negara,” ucap Andre.

Batik yang menjadi ciri khasnya adalah pada warna. Dengan warna batik yang mencolok serta pewarnaan secara grading yang berbeda dari warna batik pada umumnya. Karakter itulah yang mulai banyak dilirik.

Tak salah jika dia mulai kebanjiran order. “Sehingga saat ini banyak permintaan pesanan dari luar kota. Bahkan luar negeri juga mulai banyak seperti Hongkong, California dan Australia,” jelasnya.

Saat ini Andre masih memusatkan pembelian dan proses pembuatan di rumah produksinya. Sebab, untuk memudahkan masyarakat sekitar yang ingin belajar membuat batik. “Kita fokus pembuatannya disini karena antusiasme masyarakat yang tinggi,” tuturnya.

Awal mula Andre merintis produksi batik di Silowogo, Kemirian, Tamanan, Bondowoso. Dia mengawali dengan memiliki 5 pegawai yang belum mempunyai latar belakang membatik.

Pegawai itu kemudian belajar secara otodidak. Andre yang merintis bersama dua temannya yakni Agung dan Kholis turut membantu mereka dalam proses pembuatan batik. Dimulai dengan proses awal yakni mendesain, mempola kain atau njiplak, menyanting dan mewarna, proses fiksasi, hingga proses lorot dengan cara direbus.

Dengan ketelatenannya, saat ini ia mempunyai sekitar 35 pegawai yang telah mandiri. Bahkan, rumah produksinya saat ini banyak dikenal orang dan menerima banyak pesanan. (*)

Fotografer              : Tyjany Syifa’ul Qolbi Puspo Kencono

Reporter                 : Tyjany Syifa’ul Qolbi Puspo Kencono

Reporter :

Fotografer :

Editor : Hafid Asnan