Optimalisasi Program Kesehatan

Semua demi Generasi Masa Depan

RADAR JEMBER.ID –  Kesehatan anak menjadi isu penting selama kepemimpinan Bupati Faida dan Wabup Abdul Muqit Arief. Sejak anak dalam kandungan, pemerintah daerah telah mengeluarkan kebijakan dan program yang berpihak terhadap hak-hak anak. Seperti pengurangan angka kematian ibu (AKI), penurunan angka kematian bayi (AKB), dan program menekan jumlah balita stunting.

IKLAN

Program kesehatan bagi ibu hamil, misalnya. Pemerintah memberikan asuransi yang iurannya dibiayai oleh Pemkab Jember. Program Penerima Bantuan Iuran Daerah (PBID) ini diperuntukkan kepada lebih dari 5.500 ibu hamil. Dengan demikian, ibu hamil yang ada di Jember tak lagi khawatir saat memeriksakan kesehatan kandungan mereka, baik di puskesmas, rumah sakit, maupun ketika menjalani rujukan.

“Ini merupakan ikhtiar yang sungguh-sungguh dari Pemkab Jember untuk menurunkan angka kematian ibu hamil dan melahirkan yang masih tinggi,” kata Bupati Faida.

Dia juga menegaskan, pemkab berkomitmen untuk lebih perhatian terhadap kesehatan ibu hamil dan bayi. Komitmen itu ditunjukkan dengan membagikan makanan tambahan untuk balita dan makanan tambahan untuk ibu hamil secara berkala. Sebab, kualitas gizi menentukan kesehatan ibu hamil dan bayi di kemudian hari.

Di sisi lain, infrastruktur dan prasarananya juga disiapkan guna menunjang program tersebut. Salah satunya adalah penyediaan ambulans desa, revitalisasi puskesmas, serta menyinergikan program dokter internship. Khusus dokter internship, mereka harus mempunyai jadwal dan perhatian khusus kepada ibu hamil di wilayah setempat. Utamanya, kepada ibu hamil dengan risiko tinggi (risti) dan bayi dengan perhatian khusus.

Di sarana pendukung, pemerintah daerah telah mendistribusikan ratusan ambulans desa. Sebanyak 248 desa dan kelurahan telah menerima armada yang salah satu tujuannya untuk mempercepat pertolongan kegawatdaruratan kepada semua pasien, utamanya ibu hamil. Ada dua standar ambulans desa, yaitu untuk daerah pegunungan medan terjal, maka menggunakan mobil 4×4 dengan roda besar yang lebih aman. “Untuk perkotaan dengan roda yang standar dengan jalan datar,” jelasnya.

Tak hanya itu, untuk menjamin seluruh ibu hamil dalam pantauan tenaga kesehatan, pemerintah bekerja sama dengan beberapa lembaga ikatan dokter. Khususnya dengan seluruh tenaga dokter anak atau umum dan bidan guna mengawal ibu hamil. Secara khusus, pemerintah juga telah menggelar kongres ibu hamil untuk memantau dan memastikan kondisi kesehatan mereka.

Di sisi lain, pemkab merenovasi puskesmas. Dari 50 puskesmas di Jember, pada 2018 kemarin, yang sudah direvitalisasi sebanyak 27 puskesmas. Sisanya, sebanyak 23 puskesmas akan dituntaskan tahun 2019 ini.

Dalam program itu Pemkab Jember menganggarkan Rp 127 miliar di tahun 2018. Termasuk revitalisasi puskesmas pembantu (pustu) dan pondok bersalin desa (polindes). Tahun 2019 kembali dikucurkan dana sekitar Rp 93 miliar untuk menyelesaikan fasilitas yang belum diperbaiki. “Seluruh puskesmas yang direvitalisasi ramah anak. Karena dilengkapi dengan sarana dan prasarana ramah anak,” paparnya.

Berikutnya, setelah program penyediaan sarana dan prasana kesehatan telah tuntas, pemerintah memenuhi kualitas sumber daya manusia untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. Sebagai wujud dari rencana tersebut, akhir-akhir ini diselenggarakan Diklat Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) yang targetnya tetap sama, untuk menurunkan AKI dan AKB Kabupaten Jember. Diklat PONED angkatan kedua ini bekerja sama dengan BPSDM Provinsi Jawa Timur.

Bupati juga mengungkapkan, kegiatan tersebut merupakan diklat tim, bukan perorangan. Oleh karena itu, pihaknya membuat beberapa tim di setiap puskesmas yang terdiri atas dokter, perawat, serta bidan. Dengan diklat ini diharapkan seluruh puskemas mempunyai tim dengan kompetensi yang sama rata. “Harus satu tim. Karena pelayanan emergency memang harus komprehensif,” jelasnya.

Persoalan lain yang menjadi fokus pemerintah yakni penyelesaian stunting dan pencegahannya. Tak cukup sendiri, pemerintah daerah melibatkan lintas sektor. Selain penambahan gizi pada ibu hamil dan bayi, upaya yang dilakukan salah satunya juga menjamin ketersediaan air bersih dengan program satu rumah satu PAM. Upaya lainnya yakni program pengadaan jamban serta rumah tinggal layak huni bagi warga miskin di kabupaten setempat. (*)

Reporter : Mahrus Sholih

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih