Karena Gawai, Anak Tak Mampu Berbahasa

RADAR JEMBER.ID – Perubahan dunia bermain anak dari permainan tradisional ke media bermain digital memiliki dampak yang berbahaya apabila tidak diperhatikan dengan baik. Salah satu dampaknya adalah membuat anak tak mudah memahami bahasa.

IKLAN

Gawai yang digunakan secara berlebihan membuat pola pikir anak menjadi sempit. Tak kenal orang dan lingkungan, serta menjadi apatis. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi pendamping anak yang cerdas.

Psikolog anak, Marisa Selvy Helpiana SPsi mengatakan, ada pergeseran pola hidup.  Dulu, banyak orang tua menginginkan agar anak tidak keluar rumah. Beda dengan sekarang, anak diharapkan untuk keluar rumah dan bermain bersama temannya agar tidak kecanduan gawai (gadget).

Perempuan yang akrab disapa Icha ini menyebut, sebagian besar orang Indonesia, termasuk di Jember, kaget dengan kehadiran gawai. Sebab, tak semua orang mampu memanfaatkannya dengan baik.

Gadget dianggap sebagai sarana paling mudah untuk membuat anak (yang menangis atau rewel, Red) menjadi diam,” jelasnya. Padahal, dampaknya sangat berbahaya, karena gawai bisa menjadi monster.

“Kalau bisa memanfaatkan, aman. Kalau cara memakainya tidak benar, sama halnya dengan membangunkan monster tidur yang akan memakan anak-anak kita,” jelas perempuan dari Gemilang Psikolog ini.

Untuk memecahkan persoalan itu, orang tua menjadi jembatan agar anak bisa lepas dari kecanduan gawai. “Orang tua adalah jembatan utama, tempat orang berkaca. Untuk membuat agar anak tidak kecanduan, maka dimulailah dari orang tua,” tambahnya.

Anak usia dini hingga usia 12 tahun merupakan masa-masa yang paling sempurna pikiran serta hatinya. Untuk itu, harus diisi dengan kegiatan yang bisa membangun masa depan. “Ada usia emas, anak-anak merekam, menyerap lebih banyak, ingatan lebih tajam,” terangnya.

Anak yang usianya masih 12 tahun ke bawah lebih mudah ditangani daripada yang remaja. Icha yang kerap menangani kasus anak menceritakan salah satu kliennya. Ada yang sampai anaknya tak bisa berbicara atau berkomunikasi meski usianya sudah empat tahun.

Hal itu karena anak tersebut sudah kenal gawai sejak usia tujuh bulan. Akibatnya, sekarang sudah usia empat tahun, tapi tak bisa berbahasa. Bagaimana mengejar ketertinggalan ini, harus dibuang kecanduannya.

Dia menilai perlu langkah edukasi pada anak usia dini dan remaja, agar mereka bisa lepas dari kehidupan virtual dalam gawai. Perlu dibiasakan pada permainan manual. “Di dalam rumah kita banyak mainan. Misalnya sendok untuk bermain pasir,” tambahnya.

Solusi untuk mengatasi anak yang kecanduan gawai juga disampaikan konsultan psikologi, dr Nadia Maria MPsi. Perempuan yang bertugas di Garwita Institut ini menyebut, peran orang tua menjadi jurus yang paling jitu untuk mengusir kecanduan anak terhadap gawai.

Menurutnya, permainan dalam gawai menjadi virus yang benar-benar merusak, sehingga anak menjadi apatis alias tidak peduli dengan lingkungan. Perlu ada permainan pengganti yang diberikan orang tua.

Nadia menegaskan, permainan tradisional seperti bermain dakon atau kelereng bisa menggantikan anak yang sudah kecanduan gawai. Permainan itu membangun kebersamaan anak bersama teman-temannya atau  keluarganya.

Para orang tua disarankan meluangkan waktunya bermain dan belajar bersama anak. “Yang terpenting komitmen orang tua untuk meluangkan waktu dan mendampingi anak,” tegas dr Nadia. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih