Ratusan Mahasiswi Pernah Alami Pelecehan Seksual

Mereka yang pernah mengalami pelecehan seksual:“Menggoda saya terus-terusan dengan tatapan cabul dan kata-kata yang ambigu saat saya sedang makan es krim.”“Menarik baju saya dan mengatakan kalau saya bekas.”“Mengiming-imingi dengan janji memaksa melakukan berhubungan seksual secara verbal kepada saya.”

RADAR JEMBER.ID – Tidak hanya Ruri, inisial mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej), yang mengalami pelecehan seksual. Setidaknya, ada 166 mahasiswa Unej yang mengaku pernah mengalami hal yang serupa.

IKLAN

Itulah yang setidaknya dijabarkan dalam Workshop Mewujudkan Unej sebagai Kampus Modern, Aman, dan Ramah Gender, yang digelar di Gedung Rektorat Unej lantai III, kemarin (22/5).

Sonia Candra, asisten peneliti The Centre for Human Rights Multiculturalism and Migration (CHRM2) Unej yang melakukan penelitian dan membagikan kuesioner tentang sexual harassment mengaku, dasar adanya kuesioner ini tidak lain dari kasus Ruri di FIB Unej, beberapa waktu lalu.

Dari 962 mahasiswa Unej yang jadi responden, 75 persen adalah kaum perempuan. Dari persentase itu, 166 mahasiswi di antaranya mengaku pernah mengalami pelecehan seksual di area kampus. Sisanya, 796 tidak pernah alami pelecehan seksual.

“Mereka yang pernah mengalami pelecehan seksual, 60 persen pelakunya adalah teman. Sementara 19 persen itu dosen,” ujar mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Unej ini. Jenis pelecehan seksual yang banyak adalah pelecehan gender, yang mencapai 49 persen.

Dia mencontohkan, pelecehan gender ini mengejek atau tidak memberikan ruang sepatutnya pada laki-laki atau perempuan. “Cewek jangan diberi pekerjaan lapangan, cewek bendahara saja. Atau ada laki-laki suka memasak dibilang banci. Ini termasuk pelecehan gender,” katanya.

Sementara itu, urutan ke dua adalah perilaku menggoda yang mencapai 33 persen. Sedangkan untuk sentuhan fisik hanya 9 persen. Sayangnya, mereka yang pernah pelecehan seksual lebih memilih diam saja. “Diam saja ini sebesar 37 persen. Cerita ke teman 32 persen. Melapor ke pihak berwenang sangat kecil, hanya 2 persen saja,” tuturnya.

Direktur Serikat Pengajar HAM Indonesia (Sepaham) Al Khanif PhD mengatakan, pola gerakan kampus saat ini sudah mengarah ke hal-hal tentang gender ataupun pelecehan seksual. “Sayang, di Indonesia belum ada kampus yang punya mekanisme jelas perlindungan advokasi tentang ramah gender ini,” paparnya. Semoga, harap dia, ini jadi awal untuk mahasiswa Jember menginisiasi kampus ramah gender.

Sementara itu, anggota Aliansi Mahasiswa Peduli Penghapusan Kekerasan Seksual, Trisnadya, mengaku sangat kesal jika ada korban pelecehan seksual itu ditanya, kejadian seperti apa, pelaku siapa, kamu pakai baju seksi apa tidak. “Kalau ada pelecehan seksual, seharusnya apa yang kita lakukan, bukan banyak bertanya. Korban akan jadi korban lagi,” katanya.

Dia menambahkan, setiap laki-laki dan perempuan punya hak yang sama dan sejajar. Dua jenis kelamin berbeda tersebut juga punya sisi maskulin sendiri. “Perempuan juga ada sisi maskulinnya. Perempuan dibilang feminin juga salah, pria menyelesaikan masalah dengan emosi seperti perempuan dibilang banci, tambah salah juga,” katanya.

Karena itu, mewujudkan kampus ramah perempuan itu tidak ada, apalagi untuk laki-laki. Tapi yang lebih tepat adalah kampus ramah gender. “Ini bukan gerakan perempuan melawan, tapi bagaimana perempuan dan pria itu bersama-sama membangun untuk kemajuan Indonesia,” tuturnya.

Rektor Unej Moch Hasan menyatakan sangat sepakat untuk menjadikan kampus itu aman. Tidak hanya aman secara penjagaan saja, yang lebih penting adalah orang yang di dalamnya itu merasa aman dan tidak ada pikiran waswas lagi.  Dia mengaku, dulu pernah ada tindakan pelecehan seksual di dalam kampus, tapi pelakunya bukan orang kampus, melainkan warga luar kampus.

“Dulu situasi Unej itu gelap, kurang pencahayaan. Sekarang beberapa titik mulai terang dan ada satpam mobile,” katanya.

Terkait kasus Ruri atau pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unej, Hasan menjelaskan, pihak kampus telah melakukan proses secara regulasi. Yaitu telah mengirimkan surat ke Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

“Semisal kasus tersebut sudah diputus, dan seandainya pelaku dengan inisial HS ini ingin banding, sepatutnya tunggu saja hasil bandingnya,” ujarnya.

Dalam kasus kekerasan seksual, dia sepakat untuk pencegahan tidak hanya ditangani masalah hukum saja. Lebih penting adalah penanganan psikologis korban. “Saya berharap Unej merumuskan regulasi, termasuk regulasi pencegahan,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono