Antarkan Jenazah Seorang Diri, Ikut Pikul Keranda di Jalan Setapak

Perjuangan Sopir Ambulans RSUD dr Soebandi Jember

Salah satu pekerjaan yang tak dapat ditunda di RSUD dr Soebandi Jember yaitu tugas sopir ambulans antar jenazah. Bila sampai ditinggal sehari atau dua hari saja, bisa jadi akan ada banyak mayat yang menunggu.

READY ON CALL: Nurul, salah seorang sopir ambulans RSUD dr Soebandi Jember, hendak berangkat mengantar jenazah ke Madura.

RADAR JEMBER.ID – Hampir tiada hari, Nurul harus mengantar jasad orang yang meninggal dunia. Maklum, dia berprofesi sebagai sopir ambulans khusus jenazah di RSUD dr Soebandi Jember. Apa yang dia alami juga serupa dengan lima orang lain yang memiliki profesi sama dengannya.

IKLAN

Tingkat kesibukan dan jam terbang sopir ambulans jenazah di rumah sakit ini memang lebih padat dibanding rumah sakit lain di Jember atau kabupaten tetangga. Itu terjadi karena rumah sakit yang berlokasi di Jalan dr Soebandi, Kecamatan Patrang, itu menjadi rujukan sejumlah rumah sakit. Ada dari Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Lumajang, bahkan sampai melayani warga yang berasal dari luar provinsi.

Siang itu, Nurul baru saja datang mengantar jenazah di sekitaran Jember saja. Dia yang datang dengan mengendarai mobil ambulans langsung parkir di samping ruang tampung (dulu disebut kamar mayat). Nurul selanjutnya diberi tahu bahwa harus mengantar jenazah satu lagi.

Siapa sangka, jasad yang harus diantar kali ini rumahnya jauh, yakni di Madura. “Ya memang sudah tugas. Jadi, harus saya antar ke Madura,” kata pria yang siang itu sedang berpuasa. Dia pun tersenyum sambil turun dari mobil ambulans.

Di sela-sela menunggu keluarga korban mengurus administrasinya, Nurul mengaku dia akan mengantar jasad tersebut ke Madura seorang diri. Itu sudah kerap dia lakukan selama bertahun-tahun menjadi sopir ambulans. Nurul yang tergolong cukup muda menyebut, pengalaman teman-temannya juga sama, bahkan bisa lebih.

“Untuk wilayah Jawa Timur mengantarnya sendiri. Kalau beda provinsi baru dua orang. Itu sudah berlangsung sejak dulu. Paling-paling ada dari keluarga jenazah. Tapi tidak mesti ikut ambulans. Kadang saya juga sendiri. Untuk ke Madura sekarang ini, katanya ada keluarga korban yang ikut naik ambulans,” papar pria yang pernah mengantar jenazah hingga Jakarta tersebut.

Menjadi sopir ambulans, menurutnya, memiliki tantangan yang berat. Selain harus menentukan perjalanan dengan baik, mereka juga kerap harus ikut membantu keluarga korban. Bahkan, bekerja menjadi sopir ambulans bisa dibilang penuh perjuangan. Apalagi, setiap hari selalu bersama jasad dan keluarga yang kesusahan.

“Namanya orang meninggal dunia pasti keluarga kan sedih. Jadi, sepanjang perjalanan juga ikut memberi motivasi agar keluarga korban tetap sabar. Beda dengan sopir lain, nyetel musik masih bisa, kalau sopir ambulans jenazah suasana ya suasana duka,” ungkapnya.

Namun, apa yang menjadi pekerjaannya itu tetap ditekuni dengan tabah oleh Nurul dan lima sopir lain. Dalam hati kecilnya, tak ada niat lain kecuali mengabdikan diri untuk menjadi pengantar jenazah yang baik. “Semoga semua perjalanan yang kami lakukan lancar dan diridai Allah,” pungkasnya.

Sementara itu, dr Tegoeh Wibowo, Kepala Instalasi Forensik dan Perawatan Jenazah RSUD dr Soebandi Jember menyebutkan, perjuangan para sopir ambulans jenazah benar-benar luar biasa. Menurutnya, para sopir yang bekerja tak kenal siang dan malam.

“Memang tidak setiap hari ada yang meninggal. Akan tetapi, meninggalnya seseorang tidak ada yang tahu kapan waktunya, sehingga kapan pun jenazah harus diantar, maka para sopir juga harus siap,” paparnya.

Bahkan, para sopir ambulans kerap berjuang demi membantu keluarga korban. Beberapa contohnya yaitu saat jenazah akan di kirim ke pulau-pulau kecil di Madura, maka sopir mau tidak mau harus ikut mengangkat jenazah untuk menaiki perahu atau kapal kecil.

Tak hanya itu, banyak jenazah yang rumahnya juga jauh. Bahkan, untuk sampai ke rumah keluarga jenazah harus melalui jalan setapak berkilo-kilo meter. Hal yang demikian pun sopir ikut turun tangan mengangkut keranda.

Tegoeh mengungkap, tenaga sopir di RSUD dr Soebandi ada sebanyak 6 orang dengan armada 4 ambulans, salah satunya yaitu Nurul. “Empat ambulans jenazah itu saja masih kurang. Sebelumnya tiga, kemudian oleh direktur ditambah satu unit. Jadi empat. Tetapi kami akan usulkan lagi ke direktur agar ada penambahan,” paparnya.

Empat ambulans yang ada tersebut, menurut Tegoeh, akan langsung kekurangan saat jenazah yang diantar rata-rata ke luar kota. “Ini saja ada dua jenazah. Satu akan berangkat ke Madura, satu lagi masih menunggu karena ambulans lain masih dalam perjalanan. Makanya kami akan usul ke direktur agar ada penambahan unit lagi,” ucapnya.

Meski ada keterbatasan pada ambulans, Tegoeh mengaku pihaknya selalu kooperatif kepada semua keluarga pasien yang meninggal dunia. Apabila semua unit ambulans sedang berada di luar dan ada jenazah yang menunggu, maka langsung dijelaskan kepada keluarga korban. “Sejauh ini tidak ada masalah. Hanya saja ada korban yang terkadang masih menunggu karena keterbatasan ambulans. Tetapi sejauh ini masih lancar,” pungkasnya. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Hadi Sumarsono