Pemkab Bakal Beli atau Tukar Guling Lahan 4 Hektare Milik Pabrik

Pembangunan Harus Berhenti

TEMUKAN SOLUSI: Beberapa pemangku kebijakan terkait mengadakan pertemuan dengan bupati untuk membicarakan solusi cagar budaya di Grujugan.

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Protes keras para pencinta sejarah dan aktivis mahasiswa atas perluasan Pabrik Plywood PT Indah Karya yang berimbas pada situs megalitikum di Grujugan akhirnya mendapat respons dari Pemkab Bondowoso. Pemkab Bondowoso aktif untuk mencari solusi menyelesaikan masalah situs megalitikum.

IKLAN

Bupati dan wakil bupati mengumpulkan berbagai pihak yang berkompeten, kemarin (22/5). Mulai pihak PT Indah Karya, pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), serta Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, dan Tenaga Kerja (PMPTSPTK). Hasilnya, pemkab dengan tegas melarang perluasan pabrik.

Wakil Bupati Irwan Bachtiar Rahmad mengatakan, ketegasan pemkab dalam forum itu bukan tanpa solusi. Tanah yang saat ini menjadi hak milik PT Indah Karya tersebut akan diakuisisi Pemkab Bondowoso.

Ada beberapa cara, yakni dengan membeli tanah tersebut atau dengan tukar guling atau ruilslag. “Lebih lanjut bagaimana prosesnya masih akan kami bahas. Namun, intinya sudah kami putuskan, tidak boleh ada bangunan apa pun di area tersebut (perluasan pabrik, Red), karena akan dibangun museum megalitikum,” jelas Irwan Bachtiar.

Dijelaskannya bahwa yang menjadi dasar Pemkab Bondowoso mengambil keputusan pemberhentian pembangunan karena rekomendasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Berdasarkan kajian, di situ memang ada banyak benda cagar budaya. Pemerintah harus hadir dalam pelestariannya, jangan sampai hilang. “Yang saat ini sudah digali dan sebagainya, harus dikembalikan seperti semula atau sediakala,” terangnya.

Lahan yang menjadi objek rencana perluasan PT Indah Karya ada sekitar 4 hektare. Lahan itu nantinya akan diambil pemerintah. Sebab, di sekitar kawasan tersebut, pemerintah memiliki lahan luas. Bisa jadi sebagai solusi, lahan milik pemkab ditukar guling dengan lahan milik PT Indah Karya.

Sementara itu, Blasius Suparta, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dari BPCB Jatim mengatakan, pihaknya sudah melakukan penelitian terkait masalah tersebut. Hasilnya titik yang dijadikan perluasan pabrik itu adalah titik sentral. Yakni titik nenek moyang zaman megalitikum. “Itu nenek moyang, jadi titik senter,” jelasnya.

Dari hasil kajian itu, pihaknya meneruskan ke Pemkab Bondowoso. Selanjutnya, dalam rapat itu disepakati untuk meniadakan aktivitas pembangunan apa pun. Pihaknya mengapresiasi Pemkab Bondowoso yang memutuskan akan menghentikan pembangunan dan membeli tanah itu. “Kami apresiasi pemkab yang memberi solusi tanah itu akan diakuisisi pemkab dan akan menjadi pusat penelitian megalitikum atau museum megalitikum,” tegasnya. (*)

Reporter : Solikhul Huda

Fotografer : Solikhul Huda

Editor : Narto