Dorong Pakai Psikologi Forensik

Dosen FH Unej Dr Y. A. Triana Ohoiwutun SH MH

RADAR JEMBER.ID – Epic Comeback atau serangan balik dalam game Mobile Legend tentu sangat mengasyikkan. Serangan balik ternyata tidak hanya dalam game, mereka yang melapor pelecehan seksual pun juga rawan di-Epic Comeback juga.

IKLAN

Dosen FH Unej Dr Y. A. Triana Ohoiwutun SH MH mengatakan, kasus kejahatan seksual mengundang keprihatinan tersendiri. Selama ini, banyak korban yang enggan melapor selain karena takut bercampur malu, juga karena kendala pembuktian. “Memang dalam konteks hukum pidana, perbuatan harus disertai pembuktian. Korban enggan melapor karena malu dan takut,” terangnya.

Selain itu, ada rasa ada kekhawatiran. Artinya, pelapor bisa blunder sendiri jika pembuktiannya lemah, sehingga bisa jadi ancaman pencemaran nama baik. Pengajar hukum pidana Unej ini menjelaskan, kasus kejahatan seksual yang mengandung unsur persetubuhan, pembuktiannya secara kedokteran forensik relatif lebih mudah. Hal ini karena tanda-tanda persetubuhannya seperti sperma, bisa dibuktikan dengan ilmu kedokteran forensik.

“Tetapi, jika rentang waktunya terlalu lama, akan menjadi lebih susah. Karena itu, kita dorong korban untuk lebih berani dan segera melapor,” ujar Triana.

Kondisi berbeda untuk kasus kejahatan seksual dalam konteks pencabulan. Penanganan kasusnya kerap kali terkendala pembuktian secara kedokteran forensik. Oleh sebab itu, dibutuhkan terobosan dalam hal pembuktiannya. Antara lain yakni melalui pendekatan psikologi forensik atau psikiatri forensik. “Lebih memungkinkan adalah pembuktian secara psikologi forensik. Karena perasaan takut, jelas dia, bisa dibuktikan lewat psikologi forensik atau psikiatri forensik,” ujar Ketua Prodi Magister Ilmu Hukum Unej ini.

Sayangnya, pendekatan psikologi forensik atau psikiatri forensik masih jarang digunakan oleh aparat. “Sebetulnya memungkinkan, tapi jarang dioptimalkan. Seperti kasus-kasus KDRT itu juga perlu memberdayakan psikologi forensik. Di pengadilan sudah ada yang menggunakan alat bukti berupa psikiatri forensik. Ini memang berdasarkan permintaan dari kepolisian,” papar Triana. Lebih penting, Triana menilai, dalam kasus-kasus kejahatan seksual, korban perlu didorong untuk berani bersuara.

Dilaporkan atas pencemaran nama baik pernah dirasakan alumnus S-1 Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unej yang melakukan pendampingan pelecehan seksual terhadap mahasiswa FKIP. Fai, inisial alumnus FKIP tersebut, dilaporkan pencemaran nama baik oleh dosennya. “Saya pernah dipanggil polisi. Karena dosen yang dianggap melecehkan seksual mahasiswi tersebut melaporkan saya melakukan pencemaran nama baik,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono