Pulang Kampung, Mahasiswa Terpantau GPS

PANTAU LOKASI MAHASISWA: Layar komputer berukuran besar menampilkan peta pergerakan dan persebaran mahasiswa Polije. Aplikasi tersebut dipakai untuk mengantisipasi dan mencegah penyebaran Covid-19 saat mahasiswa kembali ke Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Imbauan pemerintah agar tidak mudik di saat pandemi korona harus dijalankan untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Tapi untuk mahasiswa, gelombang pulang kampung ke rumahnya sudah terjadi. Tercatat ada ribuan mahasiswa telah kembali ke rumahnya masing-masing. Sebagai langkah antisipasi, pihak kampus menyiapkan aplikasi untuk memantau pergerakan mahasiswa selama berada di kampung halaman.

IKLAN

Dosen Teknologi Informasi (TI) Politeknik Negeri Jember (Polije) Eri Setiawan Jullef mengatakan, sejak masa kegiatan belajar mengajar lewat daring kembali diperpanjang, mulai ada pergerakan mahasiswa Polije. Mereka memilih pulang dan belajar dari rumah.

Menurutnya, kemarin (22/4), sebanyak 4.200 mahasiswa Polije yang telah pulang ke daerah asalnya. Sementara itu, total mahasiswa Polije ada 30 ribu. Itu berarti, sebagian masih bertahan di Jember. “Sementara, untuk dosen dan karyawan Polije yang melakukan pergerakan ke luar kota terpantau ada 16 orang,” katanya.

Untuk monitoring pergerakan mahasiswa serta karyawan, dosen Polije di masa pandemi korona ini menggunakan aplikasi bernama Android off Covid-19 Polije. “Pakai nama Android, karena bisa akses lewat handphone dan off adalah harapan kami untuk korona segera selesai,” jelasnya.

Sistem kerjanya, seluruh civitas academica baik dosen maupun mahasiswa mengunduh aplikasi tersebut. Lewat satu tombol, cukup memasukkan nomor induk mahasiswa (NIM) dan nomor induk pegawai (NIP). Kemudian, memasukkan nomor registrasi dan mengisi formulir lokasi saat ini, maka mahasiswa yang ke luar kota atau pulang kampung bisa terpantau. “Jadi, setelah mengisi formulir, secara berkala handphone mengirimkan posisi mahasiswa lewat GPS,” katanya.

Dia menjelaskan, formulir ini hal yang penting, sehingga meminta untuk kejuruan data yang disampaikan oleh mahasiswa dan karyawan. Eri mengaku, pernah ada mahasiswa yang coba-coba tidak jujur dengan memberikan posisinya berada di Amerika. “Sama wakil direktur langsung ditelepon mahasiswa tersebut,” jelasnya.

Selain kejujuran data, kata dia, aplikasi itu juga bisa memberi tahu jika terdapat gejala-gejala kesehatan. Melalui aplikasi ini juga pernah terpantau dosen Polije yang sempat menunjukkan gejala setelah dari luar kota dan statusnya jadi pasien dalam pemantauan (PDP). Tapi sekarang sudah sembuh dan melakukan isolasi mandiri. Dan statusnya jadi orang dalam pemantauan (ODP).

Dengan aplikasi yang mendapatkan data mahasiswa mudik itu, setidaknya kampus bisa melakukan langkah apa saja jika mereka kembali ke Jember. Aplikasi Android Off Covid-19 Polije ini, juga melakukan pendataan untuk Jember. “Kami juga me-monitorong Jember. Teknologi ini pun diserahkan ke Tim Gugus Penanganan Covid-19 Jember jika memerlukan,” tambahnya. Lantaran bisa memantau posisi melalui GPS, setidaknya bisa memantau ODP apakah tetap melakukan isolasi mandiri atau tidak.

Dia mengaku, latar belakang pembuatan aplikasi ini adalah untuk monitoring pergerakan mahasiswa Polije yang pulang dari Tiongkok pada Februari kemarin. “Karena itu, sekalian saja me-monitoring pergerakan seluruh mahasiswa dan karyawan,” tambahnya.

Sementara itu, gelombang mahasiswa balik ke kampung halaman juga terjadi di Universitas Jember (Unej). Nabila Vinsky Astari, mahasiswa Fakultas Hukum Unej asal Jember, mengaku, teman-temannya yang dari luar kota kebanyakan memilih pulang. “Teman-teman itu pulang sejak ada perpanjangan masa belajar online, sekitar pertengahan Maret,” jelasnya.

Ketua Tim Penanggulangan Corona Unej dr Cholis Abrori kepada Jawa Pos Radar Jember pernah mengatakan, ada langkah untuk mendata mahasiswa yang pulang ke daerah asalnya. Hal itu sebagai upaya mencegah penyebaran korona saat mahasiswa kembali ke kampus.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih