alexametrics
25.2C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Dinsos Bungkam Soal Gelandangan di Jember yang Kian Menjamur

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini, seringkali dijumpai gelandangan dan pengemis tengah berkeliaran di Kabupaten Jember. Hal ini tentu bukan masalah baru bagi pemerintah daerah kabupaten setempat. Sebab menurut data yang dicatat oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi penyumbang terbanyak nomor dua se-Jatim.

Berdasarkan data itu, jumlah gelandangan di Jember mencapai 299 jiwa pada tahun 2019. Jika pada dua tahun yang lalu sudah berjumlah ratusan, lalu bagaimana dengan jumlah gelandangan gelandangan pada tahun 2020. Apakah semakin menjamur?

Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasi data terbaru kepada Dinas Sosial Jember. Namun, Plt Kepala Dinas Sosial Wahyu S Handayani bungkam. “Terkait data, untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apapun itu,” ungkapnya, saat di konfirmasi di kantor Dinas Sosial Jalan PB Soedirman Kecamatan Patrang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Pakar Psikologi Ihsan Diky Ramadhan mengatakan, semakin banyaknya jumlah gelandangan disebabkan oleh dua faktor. Pertama faktor internal seperti ekonomi atau pendidikan yang rendah. Dan juga bisa berasal dari rusaknya mental. Kemudian yang kedua faktor ekstrenal, yakni dukungan dari lingkungan.

“Kalau pengemis di lampu merah itu semakin dikasih uang, maka mereka makin konsisten dengan statusnya. Karena berpikir bahwa tindakan mereka itu direspons positif oleh warga dan dengan begitu mereka juga tidak perlu capek-capek kerja,” ungkap Ihsan.

Pada tahun 2019, dia juga sempat melakukan survei terhadap para gelandangan dan pengemis jalanan di lingkungan pondok sosial (Liposos). Sebagain besar dari pengemis yang dia dampingi, mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan. Namun, adanya masalah dalam keluarga kerap memicu kerusakan mental mereka. Sehingga mengasingkan diri dengan hidup di tempat-tempat umum di area kota.

“Ada yang karena korban broken home, ada juga yang dari masalah ekonomi. Tapi kebanyakan karena masalah keluarga. Itu yang membuat pikiran mereka terganggu dan akhirnya tinggal di jalanan,” paparnya.

Di Kabupaten Jember sendiri, gelandangan dan pengemis banyak ditemukan di area jalan Trunojoyo, Jalan Gajah Mada dan jalan Sultan Agung, Kecamatan Kaliwates.

 

Reporter: mg1
Fotografer: mg1
Editor: Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini, seringkali dijumpai gelandangan dan pengemis tengah berkeliaran di Kabupaten Jember. Hal ini tentu bukan masalah baru bagi pemerintah daerah kabupaten setempat. Sebab menurut data yang dicatat oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi penyumbang terbanyak nomor dua se-Jatim.

Berdasarkan data itu, jumlah gelandangan di Jember mencapai 299 jiwa pada tahun 2019. Jika pada dua tahun yang lalu sudah berjumlah ratusan, lalu bagaimana dengan jumlah gelandangan gelandangan pada tahun 2020. Apakah semakin menjamur?

Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasi data terbaru kepada Dinas Sosial Jember. Namun, Plt Kepala Dinas Sosial Wahyu S Handayani bungkam. “Terkait data, untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apapun itu,” ungkapnya, saat di konfirmasi di kantor Dinas Sosial Jalan PB Soedirman Kecamatan Patrang.

Mobile_AP_Half Page

Sementara itu, Pakar Psikologi Ihsan Diky Ramadhan mengatakan, semakin banyaknya jumlah gelandangan disebabkan oleh dua faktor. Pertama faktor internal seperti ekonomi atau pendidikan yang rendah. Dan juga bisa berasal dari rusaknya mental. Kemudian yang kedua faktor ekstrenal, yakni dukungan dari lingkungan.

“Kalau pengemis di lampu merah itu semakin dikasih uang, maka mereka makin konsisten dengan statusnya. Karena berpikir bahwa tindakan mereka itu direspons positif oleh warga dan dengan begitu mereka juga tidak perlu capek-capek kerja,” ungkap Ihsan.

Pada tahun 2019, dia juga sempat melakukan survei terhadap para gelandangan dan pengemis jalanan di lingkungan pondok sosial (Liposos). Sebagain besar dari pengemis yang dia dampingi, mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan. Namun, adanya masalah dalam keluarga kerap memicu kerusakan mental mereka. Sehingga mengasingkan diri dengan hidup di tempat-tempat umum di area kota.

“Ada yang karena korban broken home, ada juga yang dari masalah ekonomi. Tapi kebanyakan karena masalah keluarga. Itu yang membuat pikiran mereka terganggu dan akhirnya tinggal di jalanan,” paparnya.

Di Kabupaten Jember sendiri, gelandangan dan pengemis banyak ditemukan di area jalan Trunojoyo, Jalan Gajah Mada dan jalan Sultan Agung, Kecamatan Kaliwates.

 

Reporter: mg1
Fotografer: mg1
Editor: Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini, seringkali dijumpai gelandangan dan pengemis tengah berkeliaran di Kabupaten Jember. Hal ini tentu bukan masalah baru bagi pemerintah daerah kabupaten setempat. Sebab menurut data yang dicatat oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi penyumbang terbanyak nomor dua se-Jatim.

Berdasarkan data itu, jumlah gelandangan di Jember mencapai 299 jiwa pada tahun 2019. Jika pada dua tahun yang lalu sudah berjumlah ratusan, lalu bagaimana dengan jumlah gelandangan gelandangan pada tahun 2020. Apakah semakin menjamur?

Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasi data terbaru kepada Dinas Sosial Jember. Namun, Plt Kepala Dinas Sosial Wahyu S Handayani bungkam. “Terkait data, untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apapun itu,” ungkapnya, saat di konfirmasi di kantor Dinas Sosial Jalan PB Soedirman Kecamatan Patrang.

Sementara itu, Pakar Psikologi Ihsan Diky Ramadhan mengatakan, semakin banyaknya jumlah gelandangan disebabkan oleh dua faktor. Pertama faktor internal seperti ekonomi atau pendidikan yang rendah. Dan juga bisa berasal dari rusaknya mental. Kemudian yang kedua faktor ekstrenal, yakni dukungan dari lingkungan.

“Kalau pengemis di lampu merah itu semakin dikasih uang, maka mereka makin konsisten dengan statusnya. Karena berpikir bahwa tindakan mereka itu direspons positif oleh warga dan dengan begitu mereka juga tidak perlu capek-capek kerja,” ungkap Ihsan.

Pada tahun 2019, dia juga sempat melakukan survei terhadap para gelandangan dan pengemis jalanan di lingkungan pondok sosial (Liposos). Sebagain besar dari pengemis yang dia dampingi, mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan. Namun, adanya masalah dalam keluarga kerap memicu kerusakan mental mereka. Sehingga mengasingkan diri dengan hidup di tempat-tempat umum di area kota.

“Ada yang karena korban broken home, ada juga yang dari masalah ekonomi. Tapi kebanyakan karena masalah keluarga. Itu yang membuat pikiran mereka terganggu dan akhirnya tinggal di jalanan,” paparnya.

Di Kabupaten Jember sendiri, gelandangan dan pengemis banyak ditemukan di area jalan Trunojoyo, Jalan Gajah Mada dan jalan Sultan Agung, Kecamatan Kaliwates.

 

Reporter: mg1
Fotografer: mg1
Editor: Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2