NU Perlu Kuasai Ruang Publik Dunia Maya

NU memiliki peluang dan tantangan yang cukup kompleks hari ini. Posisinya begitu penting untuk pemberdayaan umat. Berikut petikan wawancara Dwi Siswanto dengan Dr M Khusna Amal, Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora IAIN Jember. Lulusan S-3 Universitas Airlangga ini memiliki perhatian khusus terhadap NU.

RADAR JEMBER.ID

IKLAN

Era 4.0 perlu disikapi dengan cepat, apa yang dipersiapkan NU?

Ruang publik, terutama dunia maya, karena banyak didominasi kelompok Islam ‘garis keras’, mereka lebih bisa memanfaatkan teknologi. Sementara organisasi seperti NU yang sering dipahami kelompok tradisional lebih ketinggalan dalam mengakses teknologi modern.

Sebab, basis NU banyak orang perdesaan. Namun, NU baik secara struktural dan kultural mulai memahami itu dan mulai menyadari pentingnya media sebagai sarana sosialisasi, publikasi, hingga memberikan pemahaman Islam moderat.

Di tingkat pusat ada NU online (daring) dan ada pula Cyber Aswaja. Ini adalah upaya penguatan Islam termasuk Aswaja. Sebenarnya NU daerah termasuk tingkat ranting bisa memanfaatkan media ini. Lihat perkembangan NU Jember sendiri sudah menggeliat memanfaatkan media online.

Isu kemandirian ekonomi juga begitu penting, apa yang sudah dilakukan?

Tantangan klasik NU adalah membangun otonomi dan kemandirian secara ekonomi. Ini yang berat secara organisasi. Bahkan, pesantren secara kemandirian ekonomi bisa lebih maju daripada organisasi NU. Di Jember sendiri, sempat ada inisiatif untuk membuat Baitul Mal wat Tamwil (BMT) yang semacam koperasi. Usaha yang dijalankan teman-teman NU dan berlabel NU juga hingga tingkat kecamatan. Sayang, hingga sekarang saya tidak paham sejauh apa progresnya.

Sebetulnya, gagasan kemandirian ekonomi itu sangat banyak. Tantangan terbesar adalah mengkreasi dan implementasi gagasan tersebut. Saat Kiai Muhyiddin menjabat sebagai Ketua PCNU Jember, pernah menjalin kerja sama untuk perusahaan dengan membuat pembalut. Dengan harapan ada timbal balik secara ekonomi untuk organisasi. Tapi berita itu hilang begitu saja. Progresnya seperti apa juga tidak tahu. Ide kemandirian ekonomi itu banyak, tapi implementasinya yang berat.

 Pendidikan NU di bawah LP Maarif masih belum maksimal, bagaimana idealnya?

Lembaga pendidikan milik NU di Jember ini tidak begitu berkembang. Berbeda dengan daerah seperti Tuban, Lamongan, Ponorogo, Kediri, yang madrasah bernaungan NU itu menjadi salah satu tujuan utama siswa. Saya melihat LP Maarif di Jember utara dan selatan ini berbeda. LP Maarif di Jember selatan lebih maju ketimbang di Jember Utara. Sebab, di utara mayoritas suku Madura, yang masih fanatik dengan menempuh pendidikan di pesantren. Itu membuat lembaga pendidikan bernaungan NU itu kurang diminati.

Soal lingkungan, Jember menjadi kabupaten yang memiliki potensi besar, bagaimana peran NU?

Persoalan tolak-menolak tambang, NU Jember ini cukup tegas. Sebab, beberapa kali persoalan tambang yang mengganggu lingkungan, aspirasi masyarakat NU tegas menolaknya. Seperti di Paseban, juga tambang di Silo. Namun, mengolah lingkungan seperti pemanfaatan limbah secara lembaga organisasi, perannya tidak maksimal dan belum terlihat visinya.

 Soal kesehatan, seperti apa kepedulian NU?

Sebetulnya NU punya komitmen untuk merespons isu kesehatan. Untuk menjawab problem kesehatan masyarakat tingkat bawah, apalagi warga nahdliyin banyak dari desa. NU belum punya perangkat memadai untuk menjawab semua problem kesehatan. Dulu sempat ada gagasan membuat klinik di daerah Kaliwates. Juga punya obsesi rumah sakit, tapi itu belum terwujud.

 Bagaimana membendung radikalisme yang masuk ke perguruan tinggi?

Jember adalah kawasan terbuka. Banyak orang luar yang mengakses pendidikan dan bekerja di sektor pendidikan. Oleh karenanya, Jember adalah sasaran efektif untuk penyebaran paham radikal. Di samping itu, dengan keterbukaan Jember, muncul juga lembaga pendidikan berbagai aliran ajaran Islam. Tantangan NU membendung radikalisme sangat besar.

NU harus punya jaringan cukup kuat dengan perguruan tinggi di Jember. Tidak hanya IAIN, tapi juga Unej, Mandala, dan kampus lainnya. Walau begitu, NU juga punya peran besar dan strategis, lantaran banyak tenaga pendidik di perguruan tinggi berlatar belakang NU. (*)

 

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Bagus Supriadi