alexametrics
25.2C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Pilih Cegah atau Mengobati?

Kanker identik dengan penyakit menyeramkan dan berujung kematian. Padahal, penyakit ini bisa disembuhkan. Untuk itu, sikap optimistis perlu ditumbuhkan supaya masyarakat tidak terjebak pada stigma negatif. Caranya dengan melakukan kampanye tentang pencegahan, serta pengenalan gejalanya sejak awal.

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember menduduki peringkat tiga se-Jawa Timur terkait kematian akibat kanker. Angkanya mencapai 105 kasus pada 2020 lalu. Banyak hal yang menjadi penyebab penyakit itu bisa tumbuh di dalam tubuh. Salah satunya adalah pola makan. Untuk itu, masyarakat diimbau memiliki gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit mematikan tersebut. Selain itu, pemerintah juga dituntut menyediakan fasilitas pengobatan yang memadai dan terjangkau, serta mudah diakses oleh masyarakat. Sebab, biasanya biaya terapi kanker mencekik kantong pasien.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember menunjukkan, jumlah pasien penderita kanker di Jember cukup tinggi. Totalnya mencapai 5.951 penderita. Ribuan kasus itu tak hanya dari satu jenis kanker, tapi dari banyak jenis. Empat besar di antaranya adalah neoplasma jinak yang tercatat 1.579 kasus, neoplasma ganas payudara 799 kasus, neoplasma yang tak menentu perangai dan tak diketahui sifatnya 602 kasus, serta leukemia 347 kasus. Lalu, bagaimana mengenali gejala bahwa seseorang telah mengidap penyakit tersebut?

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Arief Suseno Sp PD, menjelaskan, gejala penyakit kanker itu bervariasi. Bergantung pada lokasi ditemukannya. Namun, ada beberapa kunci tanda dan gejalanya. Berdasar data Perhimpunan Dokter Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin), gejala tersebut biasanya muncul benjolan, batuk/sesak, perubahan sistem pencernaan, pendarahan, penurunan berat badan, badan terasa lemas, dan lesu. “Beberapa kanker dapat muncul benjolan. Kadang terasa tidak nyeri dan ukurannya dapat membesar seiring dengan progres kankernya,” ungkap tenaga medis di RSD dr Soebandi itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selanjutnya, batuk terus-menerus dan sesak bisa berhubungan dengan kanker paru-paru. Sedangkan perubahan pada sistem pencernaan biasanya berkaitan dengan gejala kanker usus. Biasanya dapat berupa buang air besar (BAB) berdarah, sembelit, atau diare. “Kalau ada perdarahan dari anus, bisa menjadi tanda kanker usus. Perdarahan dari serviks bisa menjadi tanda kanker serviks. Sedangkan adanya darah di urine bisa menjadi tanda kanker pada ginjal atau kandung kemih,” papar dokter yang tinggal di Jalan Doho, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Gelaja lain yang sering terjadi, lanjutnya, adalah penurunan berat badan (BB) yang tidak dapat dijelaskan. Sebab, menurut dia, penderita kanker biasanya mengalami penurunan BB dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat. “Selain itu, badan terasa letih dan lemas. Tentunya, juga disertai tanda dan gejala lain,” imbuhnya.

dr Arif menegaskan, sampai sekarang sudah dikenal 200 tipe kanker dengan penyebab yang multifaktorial. Artinya, tidak ada satu penyebab khusus untuk suatu tipe kanker, melainkan kanker bisa terjadi karena adanya beberapa faktor. Di antaranya, akibat karsinogen, usia, genetik, dan sistem imun.

“Karsinogen merupakan suatu zat atau substansi yang dapat merusak sel. Salah satunya adalah radiasi matahari. Nah, seiring bertambahnya usia, seseorang juga akan makin mudah terpapar zat karsinogen, sehingga akan lebih rentan terjadi perubahan genetik alias mutasi,” terang pria kelahiran Surabaya ini.

Dia menambahkan, beberapa orang yang terlahir dengan riwayat genetik penyakit kanker juga berisiko mengalami suatu jenis kanker tertentu. Ini bukan berarti seseorang dengan genetik bawaan tersebut sudah pasti akan terkena kanker, hanya akan menjadi lebih rentan. “Orang-orang dengan sistem imunitas yang lemah juga cenderung berisiko terpapar kanker,” bebernya.

Selain keempat faktor penyebab tersebut, dia mengurai, ada juga faktor lain yang sebenarnya dapat dikontrol dan dimodifikasi. Misalnya, gaya hidup serta faktor lingkungan. Contohnya, terlalu banyak mengonsumsi daging dan kurang mengonsumsi buah dan sayur segar. Pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko kanker. Berikutnya adalah obesitas. “Orang-orang dengan obesitas mempunyai risiko lebih tinggi terjadinya kanker usus dan pankreas. Terlalu banyak mengonsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko kanker mulut, tenggorokan, laring, liver, payudara, dan usus,” jelasnya.

Tak jarang orang menyadari, tempat bekerja itu juga menjadi salah satu faktor terjadinya kanker. Orang dengan pekerjaan tertentu seperti tukang cat, pekerja bangunan, dan pekerja di industri kimia, mempunyai risiko yang lebih tinggi. Sebab, mereka sering terpapar bahan yang mengandung berbagai zat kimia yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker. Dan terakhir adalah karena infeksi.

“Risiko terjadinya kanker juga meningkat oleh infeksi virus dan bakteri tertentu. Seperti virus hepatitis B dan C, serta HIV. Oleh karena itu, hidup sehat harus diterapkan. Mulai menjaga pola makan seimbang dan rutin berolahraga,” urainya. Berdasar data Perhompedin, dengan menjaga berat badan ideal, pola makan sehat, serta rutin beraktivitas fisik, dapat mencegah sekitar 1 dari 3 kematian akibat kanker.

Lalu, bagaimana jika seseorang itu menderita kanker, apakah bisa disembuhkan? Menurut dr Arif, beberapa kanker bisa disembuhkan, beberapa lainnya bisa dikontrol dan gejala nyerinya dapat dikurangi dengan berbagai pengobatan. Menurutnya, banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan penanganan kanker. Di antaranya, seberapa dini kanker tersebut ditemukan dan segera mendapatkan penanganan.

Dia menjelaskan, ada beberapa metode dalam menangani kanker, yakni pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan terapi hormon. Pembedahan digunakan untuk mengangkat jaringan kanker, radioterapi untuk menghancurkan sel-sel kanker dengan radiasi, kemoterapi dengan menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker. Sedangkan terapi hormon berfungsi untuk mengontrol sensitivitas kanker terhadap hormon tertentu.

“Meski begitu, bentuk penanganannya tidak bisa serta-merta. Si pasien harus melalui pemeriksaan lebih dulu,” jelasnya. Pemeriksaan pertama yang akan dilakukan untuk cek kanker secara dini adalah pemeriksaan fisik. Saat melakukan konsultasi dengan dokter, si pasien dapat memberi tahu keluhan medis yang dirasakan. Lalu, dokter biasanya akan mengecek ada tidaknya keanehan pada tubuh dengan melihat adanya benjolan, perubahan warna kulit, atau pembengkakan.

“Langkah berikutnya adalah pemeriksaan laboratorium,” terang dr Arif. Dia menuturkan, pemeriksaan laboratorium adalah cara untuk mengetahui kadar senyawa atau komposisi tubuh pasien. Tes laboratorium meliputi pemeriksaan urine, darah, dan cairan tubuh lainnya. Cek kanker secara dini selanjutnya adalah tes pencitraan. Ini akan menampilkan gambaran dalam tubuh seseorang guna mengetahui keberadaan benjolan itu. Tenaga medis akan menggunakan berbagai tes pencitraan. Salah satunya adalah x-ray atau sinar X.

“Terakhir adalah biopsi. Langkah ini dilakukan untuk memeriksa ada tidaknya sel kanker dalam tubuh melalui pengambilan sampel jaringan tubuh dan memeriksanya di bawah mikroskop,” pungkasnya.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Grafis : Cecep Arjiansyah
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember menduduki peringkat tiga se-Jawa Timur terkait kematian akibat kanker. Angkanya mencapai 105 kasus pada 2020 lalu. Banyak hal yang menjadi penyebab penyakit itu bisa tumbuh di dalam tubuh. Salah satunya adalah pola makan. Untuk itu, masyarakat diimbau memiliki gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit mematikan tersebut. Selain itu, pemerintah juga dituntut menyediakan fasilitas pengobatan yang memadai dan terjangkau, serta mudah diakses oleh masyarakat. Sebab, biasanya biaya terapi kanker mencekik kantong pasien.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember menunjukkan, jumlah pasien penderita kanker di Jember cukup tinggi. Totalnya mencapai 5.951 penderita. Ribuan kasus itu tak hanya dari satu jenis kanker, tapi dari banyak jenis. Empat besar di antaranya adalah neoplasma jinak yang tercatat 1.579 kasus, neoplasma ganas payudara 799 kasus, neoplasma yang tak menentu perangai dan tak diketahui sifatnya 602 kasus, serta leukemia 347 kasus. Lalu, bagaimana mengenali gejala bahwa seseorang telah mengidap penyakit tersebut?

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Arief Suseno Sp PD, menjelaskan, gejala penyakit kanker itu bervariasi. Bergantung pada lokasi ditemukannya. Namun, ada beberapa kunci tanda dan gejalanya. Berdasar data Perhimpunan Dokter Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin), gejala tersebut biasanya muncul benjolan, batuk/sesak, perubahan sistem pencernaan, pendarahan, penurunan berat badan, badan terasa lemas, dan lesu. “Beberapa kanker dapat muncul benjolan. Kadang terasa tidak nyeri dan ukurannya dapat membesar seiring dengan progres kankernya,” ungkap tenaga medis di RSD dr Soebandi itu.

Mobile_AP_Half Page

Selanjutnya, batuk terus-menerus dan sesak bisa berhubungan dengan kanker paru-paru. Sedangkan perubahan pada sistem pencernaan biasanya berkaitan dengan gejala kanker usus. Biasanya dapat berupa buang air besar (BAB) berdarah, sembelit, atau diare. “Kalau ada perdarahan dari anus, bisa menjadi tanda kanker usus. Perdarahan dari serviks bisa menjadi tanda kanker serviks. Sedangkan adanya darah di urine bisa menjadi tanda kanker pada ginjal atau kandung kemih,” papar dokter yang tinggal di Jalan Doho, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Gelaja lain yang sering terjadi, lanjutnya, adalah penurunan berat badan (BB) yang tidak dapat dijelaskan. Sebab, menurut dia, penderita kanker biasanya mengalami penurunan BB dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat. “Selain itu, badan terasa letih dan lemas. Tentunya, juga disertai tanda dan gejala lain,” imbuhnya.

dr Arif menegaskan, sampai sekarang sudah dikenal 200 tipe kanker dengan penyebab yang multifaktorial. Artinya, tidak ada satu penyebab khusus untuk suatu tipe kanker, melainkan kanker bisa terjadi karena adanya beberapa faktor. Di antaranya, akibat karsinogen, usia, genetik, dan sistem imun.

“Karsinogen merupakan suatu zat atau substansi yang dapat merusak sel. Salah satunya adalah radiasi matahari. Nah, seiring bertambahnya usia, seseorang juga akan makin mudah terpapar zat karsinogen, sehingga akan lebih rentan terjadi perubahan genetik alias mutasi,” terang pria kelahiran Surabaya ini.

Dia menambahkan, beberapa orang yang terlahir dengan riwayat genetik penyakit kanker juga berisiko mengalami suatu jenis kanker tertentu. Ini bukan berarti seseorang dengan genetik bawaan tersebut sudah pasti akan terkena kanker, hanya akan menjadi lebih rentan. “Orang-orang dengan sistem imunitas yang lemah juga cenderung berisiko terpapar kanker,” bebernya.

Selain keempat faktor penyebab tersebut, dia mengurai, ada juga faktor lain yang sebenarnya dapat dikontrol dan dimodifikasi. Misalnya, gaya hidup serta faktor lingkungan. Contohnya, terlalu banyak mengonsumsi daging dan kurang mengonsumsi buah dan sayur segar. Pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko kanker. Berikutnya adalah obesitas. “Orang-orang dengan obesitas mempunyai risiko lebih tinggi terjadinya kanker usus dan pankreas. Terlalu banyak mengonsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko kanker mulut, tenggorokan, laring, liver, payudara, dan usus,” jelasnya.

Tak jarang orang menyadari, tempat bekerja itu juga menjadi salah satu faktor terjadinya kanker. Orang dengan pekerjaan tertentu seperti tukang cat, pekerja bangunan, dan pekerja di industri kimia, mempunyai risiko yang lebih tinggi. Sebab, mereka sering terpapar bahan yang mengandung berbagai zat kimia yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker. Dan terakhir adalah karena infeksi.

“Risiko terjadinya kanker juga meningkat oleh infeksi virus dan bakteri tertentu. Seperti virus hepatitis B dan C, serta HIV. Oleh karena itu, hidup sehat harus diterapkan. Mulai menjaga pola makan seimbang dan rutin berolahraga,” urainya. Berdasar data Perhompedin, dengan menjaga berat badan ideal, pola makan sehat, serta rutin beraktivitas fisik, dapat mencegah sekitar 1 dari 3 kematian akibat kanker.

Lalu, bagaimana jika seseorang itu menderita kanker, apakah bisa disembuhkan? Menurut dr Arif, beberapa kanker bisa disembuhkan, beberapa lainnya bisa dikontrol dan gejala nyerinya dapat dikurangi dengan berbagai pengobatan. Menurutnya, banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan penanganan kanker. Di antaranya, seberapa dini kanker tersebut ditemukan dan segera mendapatkan penanganan.

Dia menjelaskan, ada beberapa metode dalam menangani kanker, yakni pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan terapi hormon. Pembedahan digunakan untuk mengangkat jaringan kanker, radioterapi untuk menghancurkan sel-sel kanker dengan radiasi, kemoterapi dengan menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker. Sedangkan terapi hormon berfungsi untuk mengontrol sensitivitas kanker terhadap hormon tertentu.

“Meski begitu, bentuk penanganannya tidak bisa serta-merta. Si pasien harus melalui pemeriksaan lebih dulu,” jelasnya. Pemeriksaan pertama yang akan dilakukan untuk cek kanker secara dini adalah pemeriksaan fisik. Saat melakukan konsultasi dengan dokter, si pasien dapat memberi tahu keluhan medis yang dirasakan. Lalu, dokter biasanya akan mengecek ada tidaknya keanehan pada tubuh dengan melihat adanya benjolan, perubahan warna kulit, atau pembengkakan.

“Langkah berikutnya adalah pemeriksaan laboratorium,” terang dr Arif. Dia menuturkan, pemeriksaan laboratorium adalah cara untuk mengetahui kadar senyawa atau komposisi tubuh pasien. Tes laboratorium meliputi pemeriksaan urine, darah, dan cairan tubuh lainnya. Cek kanker secara dini selanjutnya adalah tes pencitraan. Ini akan menampilkan gambaran dalam tubuh seseorang guna mengetahui keberadaan benjolan itu. Tenaga medis akan menggunakan berbagai tes pencitraan. Salah satunya adalah x-ray atau sinar X.

“Terakhir adalah biopsi. Langkah ini dilakukan untuk memeriksa ada tidaknya sel kanker dalam tubuh melalui pengambilan sampel jaringan tubuh dan memeriksanya di bawah mikroskop,” pungkasnya.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Grafis : Cecep Arjiansyah
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember menduduki peringkat tiga se-Jawa Timur terkait kematian akibat kanker. Angkanya mencapai 105 kasus pada 2020 lalu. Banyak hal yang menjadi penyebab penyakit itu bisa tumbuh di dalam tubuh. Salah satunya adalah pola makan. Untuk itu, masyarakat diimbau memiliki gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit mematikan tersebut. Selain itu, pemerintah juga dituntut menyediakan fasilitas pengobatan yang memadai dan terjangkau, serta mudah diakses oleh masyarakat. Sebab, biasanya biaya terapi kanker mencekik kantong pasien.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember menunjukkan, jumlah pasien penderita kanker di Jember cukup tinggi. Totalnya mencapai 5.951 penderita. Ribuan kasus itu tak hanya dari satu jenis kanker, tapi dari banyak jenis. Empat besar di antaranya adalah neoplasma jinak yang tercatat 1.579 kasus, neoplasma ganas payudara 799 kasus, neoplasma yang tak menentu perangai dan tak diketahui sifatnya 602 kasus, serta leukemia 347 kasus. Lalu, bagaimana mengenali gejala bahwa seseorang telah mengidap penyakit tersebut?

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Arief Suseno Sp PD, menjelaskan, gejala penyakit kanker itu bervariasi. Bergantung pada lokasi ditemukannya. Namun, ada beberapa kunci tanda dan gejalanya. Berdasar data Perhimpunan Dokter Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin), gejala tersebut biasanya muncul benjolan, batuk/sesak, perubahan sistem pencernaan, pendarahan, penurunan berat badan, badan terasa lemas, dan lesu. “Beberapa kanker dapat muncul benjolan. Kadang terasa tidak nyeri dan ukurannya dapat membesar seiring dengan progres kankernya,” ungkap tenaga medis di RSD dr Soebandi itu.

Selanjutnya, batuk terus-menerus dan sesak bisa berhubungan dengan kanker paru-paru. Sedangkan perubahan pada sistem pencernaan biasanya berkaitan dengan gejala kanker usus. Biasanya dapat berupa buang air besar (BAB) berdarah, sembelit, atau diare. “Kalau ada perdarahan dari anus, bisa menjadi tanda kanker usus. Perdarahan dari serviks bisa menjadi tanda kanker serviks. Sedangkan adanya darah di urine bisa menjadi tanda kanker pada ginjal atau kandung kemih,” papar dokter yang tinggal di Jalan Doho, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Gelaja lain yang sering terjadi, lanjutnya, adalah penurunan berat badan (BB) yang tidak dapat dijelaskan. Sebab, menurut dia, penderita kanker biasanya mengalami penurunan BB dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat. “Selain itu, badan terasa letih dan lemas. Tentunya, juga disertai tanda dan gejala lain,” imbuhnya.

dr Arif menegaskan, sampai sekarang sudah dikenal 200 tipe kanker dengan penyebab yang multifaktorial. Artinya, tidak ada satu penyebab khusus untuk suatu tipe kanker, melainkan kanker bisa terjadi karena adanya beberapa faktor. Di antaranya, akibat karsinogen, usia, genetik, dan sistem imun.

“Karsinogen merupakan suatu zat atau substansi yang dapat merusak sel. Salah satunya adalah radiasi matahari. Nah, seiring bertambahnya usia, seseorang juga akan makin mudah terpapar zat karsinogen, sehingga akan lebih rentan terjadi perubahan genetik alias mutasi,” terang pria kelahiran Surabaya ini.

Dia menambahkan, beberapa orang yang terlahir dengan riwayat genetik penyakit kanker juga berisiko mengalami suatu jenis kanker tertentu. Ini bukan berarti seseorang dengan genetik bawaan tersebut sudah pasti akan terkena kanker, hanya akan menjadi lebih rentan. “Orang-orang dengan sistem imunitas yang lemah juga cenderung berisiko terpapar kanker,” bebernya.

Selain keempat faktor penyebab tersebut, dia mengurai, ada juga faktor lain yang sebenarnya dapat dikontrol dan dimodifikasi. Misalnya, gaya hidup serta faktor lingkungan. Contohnya, terlalu banyak mengonsumsi daging dan kurang mengonsumsi buah dan sayur segar. Pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko kanker. Berikutnya adalah obesitas. “Orang-orang dengan obesitas mempunyai risiko lebih tinggi terjadinya kanker usus dan pankreas. Terlalu banyak mengonsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko kanker mulut, tenggorokan, laring, liver, payudara, dan usus,” jelasnya.

Tak jarang orang menyadari, tempat bekerja itu juga menjadi salah satu faktor terjadinya kanker. Orang dengan pekerjaan tertentu seperti tukang cat, pekerja bangunan, dan pekerja di industri kimia, mempunyai risiko yang lebih tinggi. Sebab, mereka sering terpapar bahan yang mengandung berbagai zat kimia yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker. Dan terakhir adalah karena infeksi.

“Risiko terjadinya kanker juga meningkat oleh infeksi virus dan bakteri tertentu. Seperti virus hepatitis B dan C, serta HIV. Oleh karena itu, hidup sehat harus diterapkan. Mulai menjaga pola makan seimbang dan rutin berolahraga,” urainya. Berdasar data Perhompedin, dengan menjaga berat badan ideal, pola makan sehat, serta rutin beraktivitas fisik, dapat mencegah sekitar 1 dari 3 kematian akibat kanker.

Lalu, bagaimana jika seseorang itu menderita kanker, apakah bisa disembuhkan? Menurut dr Arif, beberapa kanker bisa disembuhkan, beberapa lainnya bisa dikontrol dan gejala nyerinya dapat dikurangi dengan berbagai pengobatan. Menurutnya, banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan penanganan kanker. Di antaranya, seberapa dini kanker tersebut ditemukan dan segera mendapatkan penanganan.

Dia menjelaskan, ada beberapa metode dalam menangani kanker, yakni pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan terapi hormon. Pembedahan digunakan untuk mengangkat jaringan kanker, radioterapi untuk menghancurkan sel-sel kanker dengan radiasi, kemoterapi dengan menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker. Sedangkan terapi hormon berfungsi untuk mengontrol sensitivitas kanker terhadap hormon tertentu.

“Meski begitu, bentuk penanganannya tidak bisa serta-merta. Si pasien harus melalui pemeriksaan lebih dulu,” jelasnya. Pemeriksaan pertama yang akan dilakukan untuk cek kanker secara dini adalah pemeriksaan fisik. Saat melakukan konsultasi dengan dokter, si pasien dapat memberi tahu keluhan medis yang dirasakan. Lalu, dokter biasanya akan mengecek ada tidaknya keanehan pada tubuh dengan melihat adanya benjolan, perubahan warna kulit, atau pembengkakan.

“Langkah berikutnya adalah pemeriksaan laboratorium,” terang dr Arif. Dia menuturkan, pemeriksaan laboratorium adalah cara untuk mengetahui kadar senyawa atau komposisi tubuh pasien. Tes laboratorium meliputi pemeriksaan urine, darah, dan cairan tubuh lainnya. Cek kanker secara dini selanjutnya adalah tes pencitraan. Ini akan menampilkan gambaran dalam tubuh seseorang guna mengetahui keberadaan benjolan itu. Tenaga medis akan menggunakan berbagai tes pencitraan. Salah satunya adalah x-ray atau sinar X.

“Terakhir adalah biopsi. Langkah ini dilakukan untuk memeriksa ada tidaknya sel kanker dalam tubuh melalui pengambilan sampel jaringan tubuh dan memeriksanya di bawah mikroskop,” pungkasnya.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Grafis : Cecep Arjiansyah
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2