Hepatitis A Masih Mewabah

Diperkirakan Menyebar Mulai September

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Serangan virus hepatitis A di Jember belum selesai. Status kejadian luar biasa (KLB) dengan beragam upaya yang dilakukan pemerintah daerah tetap tak membuat penyakit yang menyerang hati tersebut benar-benar teratasi. Bahkan, hampir setiap hari terdapat penderita hepatitis A yang dibawa ke rumah sakit.

IKLAN

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di RS Jember Klinik pada unit gawat darurat (UGD) selalu ada penderita hepatitis A yang dilarikan ke UGD. “Hampir setiap hari ada,” kata dr Radityo Priambodo, dokter jaga UGD RS Jember Kilinik.

Ilustrasi UGD di RS Soebandi. Akhir-akhir ini hampir setiap hari ada penderita hepatitis A dilarikan ke rumah sakit.

Dia mengatakan, jumlah penderita hepatitis A dirasakan banyak, setidaknya satu bulan ini. Bahkan, kata dia, tidak hanya menyerang mahasiswa tapi juga segala usia, termasuk anak-anak. “Paling banyak memang mahasiswa,” paparnya.

Dia mempertegas, jika penderita hepatitis A biasanya yang ditandai dengan keluhan seperti mual dan muntah yang bertambah sering. Ditambah lagi tidak adanya makanan dan minuman yang masuk, alangkah baiknya dilarikan ke rumah sakit. “Gak bisa makan dan minum langsung bawa ke rumah sakit,” sarannya.

Radit menjelaskan, pemenuhan nutrisi seperti makan dan minum sangat penting dalam penyembuhan hepatitis A. Walau tergolong virus itu bisa sembuh dengan sendirinya, tapi masyarakat tidak boleh menyepelekan jika kondisinya semakin parah dengan muntah-muntah dan tidak mau makan serta minum.

Kasi Pemerintahan Kecamatan Tempurejo Penta Satria juga tampak di UGD Jember Klinik, medio Januari kemarin. Virus hepatitis A menyerang putranya. “Padahal gak pernah jajan di daerah kampus. Tapi kok bisa kena,” ucapnya.

Putra Penta yang masih SD itu, mengaku awalnya mengira terkena tifus atau demam tifoid. Anaknya kalau makan itu mual dan muntah. “Makanya langsung di bawa ke rumah sakit saja,” jelasnya.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember Khoiron MSc mengatakan, hepatitis A rasanya menjadi langganan di daerah kampus. Pembenahan secara utuh juga harus dilakukan. Tapi kendalanya, kata dia, mengatur PKL itu tidak mudah. “Dulu ada wacana pemkab minta bantuan Unej menyelesaikan hepatitis A dengan membuat pujasera yang menjamin kesehatan,” jelasnya. Tapi, problemnya mahasiswa juga banyak yang membeli makanan di luar kampus.

Sebagai dosen FKM yang juga konsentrasi di kesehatan lingkungan, dirinya menjelaskan, orang yang terkena virus hepatitis A hari ini tidak langsung sakit di hari yang sama atau besoknya. Melainkan, virus hepatitis A ini perlu masa inkubasi. “Masa inkubasi antara dua hingga enam minggu,” terangnya.

Jika KLB hepatitis A terjadi pada Desember 2019 kemarin, maka kata Khoiron, virus hepatitis A telah menyebar setidaknya pada September. Pada September 2019 adalah masa-masa kemarau yang bisa menurunkan kualitas air. Makanya dalam memberantas penyebaran virus hepatitis A, Dinkes Jember memberikan air bersih kepada PKL. “Sebab, dari buruknya kualitas air itu virus bisa menyebar dengan mudah. Apalagi saat musim kemarau tiba,” paparnya. Karena itu, dia berharap, pada musim kemarau juga diperhatikan kondisi air bersih di beberapa lokasi yang langganan hepatitis seperti di daerah kampus.

Sementara itu, Azhar Adaby, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unej, berharap, dengan kejadian KLB hepatitis A, kampusnya tersebut semakin sadar terhadap lingkungan. “Unej benar rindang, banyak pepohonan. Tapi persoalan sampah sebenarnya kurang bagus,” katanya.

Menurut pengamatannya, Unej masih buruk dalam pengelolaan sampah. Hal itu, lantaran banyak PKL yang ambil air bersih ke kampus. Tidak menutup kemungkinan limbah yang dihasilkan dari aktivitas kampus turut mencemari air dan lingkungan sekitar kampus pula. “Harapan kami pengolahan sampah itu terintegrasi dan modern di setiap kawasan kampus,” paparnya.

Mahasiswa asal Banyuwangi ini menjelaskan, hepatitis A termasuk penyakit yang sering kali diderita negara-negara lain di dunia. Menurut data WHO, hepatitis A adalah salah satu penyakit yang paling sering ditemui di dunia. Bahkan setiap tahun ada sekitar 1,4 juta orang tertular hepatitis A di seluruh dunia.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Grafis Reza

Editor : Mahrus Sholih