Dubes Australia Kunjungi Wisata Perdamaian

MENDUKUNG: Allaster Cox, Wakil Duta Besar Australia, saat melihat berbagai produk karya warga Ledokombo

RADAR JEMBER.ID – Upaya Komunitas Tanoker memulihkan desa melalui pengembangan potensi mendapat apresiasi dari Allaster Cox, Wakil Duta Besar Australia. Dia hadir ke Ledokombo melihat berbagai produk kerajinan masyarakat kemarin (19/7). Di sana, dia berdialog dengan anak-anak Tanoker dan penggerak tujuh destinasi wisata perdamaian di Kecamatan Ledokombo.

IKLAN

Kedatangan Allaster Cox untuk memperkuat kerja sama Indonesia-Australia dalam merawat perdamaian. Selain itu, memberikan dukungan terhadap langkah promosi perdamaian yang dilakukan Tanoker.

Allaster Cox disambut dengan silat Pagar Nusa santri Pesantren Kopi At-Tanwir, penampilan musik jimbe dan egrang oleh anak-anak Ledokombo. Dia juga ditemani oleh Wakil Bupati Jember dan pejabat di lingkungan Pemkab Jember.

Di sana, Allaster mengunjungi stan pameran Tanocraft dan tujuh titik destinasi wisata perdamaian. Yakni Tanoker, Elisa Rainbow, Dapor Batek Kho-Kho, Sekolah Yang-eyang, Sekolah Bok-ebok dan Sekolah Pak-bapak, Pesantren Kopi At-Tanwir, serta Pasar Lumpur.

Farha Ciciek, pendiri Komunitas Tanoker mengatakan, Tanoker merupakan komunitas belajar dan bermain. Dia bersama berbagai pihak mengembangkan berbagai praktik baik dan nilai luhur kehidupan secara terpadu. Yakni  dimulai dengan permainan egrang sebagai media utamanya.

“Titik destinasi wisata Tanoker mengusung nilai keseimbangan dan solidaritas,” katanya. Kemudian, titik destinasi selanjutnya adalah  Elisa Rainbow. Yakni usaha aksesori manik-manik yang dirintis oleh  purna pekerja migran.

Elisa bersama ratusan masyarakat yang mayoritas perempuan di Desa Sumber Lesung sudah mengekspor karya ini ke 17 wilayah di dunia. Selain itu, Dapor Bhatek Kho-Kho dengan nilai kemandirian merupakan upaya inovatif yang dirintis oleh pemuda Dusun Kopang, Desa Slateng, mengembangkan usaha  Batik Egrang.

Batik tersebut terinspirasi dari tarian egrang karya anak-anak Ledokombo. Bahkan, lansia juga digandeng untuk membuat kemasan kain batik tanpa plastik yang berupa brungso terbuat dari anyaman bambu.

Kini, Batik Egrang telah dikukuhkan menjadi motif batik khas Ledokombo. Perajinnya dipercaya menjadi wakil kecamatan dan kabupaten untuk mengikuti berbagai pelatihan dan pameran hingga tingkat nasional. “Batik Egrang menjadi pintu masuk terbukanya ruang-ruang dialog,” jelasnya.

Destinasi lain adalah Sekolah Bok-ebok dan Sekolah Pak-bapak di Dusun Paluombo, Desa Sumbersalak. Tempat ini merupakan wadah edukasi untuk merespons sering terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dan  permasalahan yang terjadi pada anak-anak.  Termasuk terhadap anak pekerja migran. Seperti pernikahan usia dini, adiktif gawai (gadget), obat-obatan terlarang, serta konsumsi makanan dan minuman tidak sehat

Selain itu, ada Sekolah Yang-eyang dengan nilai energik dan semangat-menyemangati. Sekelompok lansia perempuan belajar ilmu kehidupan yang beragam. Tujuannya  memperbaiki diri, anak-cucu, dan lingkungan sekitar.

Destinasi selanjutnya adalah Pesantren Kopi At-Tanwir di Dusun Sumber Gadung, Desa Slateng. Daerah ini merupakan penghasil kopi di kaki Gunung Raung. Santrinya adalah anak pekerja migran yang mengembangkan berbagai aktivitas sosial budaya dan wirausaha berbasis kopi.

Destinasi terakhir adalah Pasar Lumpur yang merupakan arena gelar karya dan kreativitas di tengah persawahan. Arena ini menjadi tempat berbagai outbond dengan ciri khasnya permainan polo lumpur. Yakni  bermain bola tangan di sepetak sawah berlumpur. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi