Ratusan Orang Menjadi Saksi Tenggelamnya Perahu di Pantai Pancer

KORBAN BERTAMBAH : Haji Dirman, 50 warga Dusun Mandaran, Desa Puger Kulon, Puger nakhoda yang juga pemilik perahu saat diselamatkan warga ketika sudah berhasil berenang ke pinggir pantai.

PUGER – Ya Allah… Ya Allah… teriakan itu kemarin bersahut-sahutan di bibir pantai Pancer, Dusun Krajan, Desa Puger Kulon, Kecamatan, Puger. Ratusan orang menjadi saksi tenggelamnya perahu nelayan jenis payang yang dinakhodai H Dirman.

IKLAN

Para warga memang terbiasa berkumpul di pantai Pancer tepatnya sekitar break water saat ada kabar ombak tinggi. Mereka biasanya merupakan keluarga atau kerabat nelayan yang sedang melaut. Mereka menunggu di pinggir pantai sembari berharap-harap cemas kepulangan keluarga/kerabat yang melaut itu.

Perahu yang dinakhodai Kaji Dirman, demikian warga biasa memanggil, itu sedianya hendak masuk ke pelabuhan tempat pelelangan ikan (TPI) Puger. Membawa hasil tangkapan yang lumayan banyak membuat perahu itu tak bisa berjalan lincah. Namun, awalnya perahu itu masih bisa bermanuver menghindari ombak pantai selatan yang sejak beberapa hari ini memang tinggi. Namun, petaka datang ketika ombak besar seolah tiba-tiba memburu perahu, lalu  menghantamnya. Celakanya, ombak menghantam dari sisi kiri badan perahu. Hanya dalam hitungan detik, sisi kiri perahu terangkat. Sekejap perahu dengan panjang sekitar dua puluh meter dengan lebar lambung sekitar 4,5 meter itu terbalik dan perlahan tenggelam.

Ratusan orang di pinggir pantai pun hanya bisa melongo sembari merapal kalimat-kalimat tanda pasrah kepada Yang Mahakuasa. Tangis pun pecah. Lebih-lebih, mereka tak bisa langsung memberikan pertolongan saat musibah terjadi. Mereka hanya bisa melihat korban timbul tenggelam terus-terusan dihajar ombak.

Meski rata-rata nelayan jago berenang, namun kemampuan mereka kemarin seperti tak ada gunanya. Ombak besar benar-benar mengombang-ambingkan mereka.  Beberapa dari mereka tampak ada yang bisa menyelamatkan diri. Beberapa yang lain tampak mengapung terombang-ambing memegang benda yang masih bisa mengapung.  Sementara, beberapa lagi tak terlihat setelah sebelumnya timbul tenggelam.

Saat itu, kapal diawaki 21 orang dengan satu nakhoda. Kaji Dirman yang berulang kali disebut-sebut warga yang berada di pinggir pantai, selain nakhoda adalah juragan alias pemilik perahu.

Di dunia nelayan, pria 45 tahun ini bukan orang kemarin sore. Dia dikenal jago menakhodai kapal dan merupakan nelayan sukses. Tak heran jika di usianya yang masih tergolong muda dia sudah memiliki kapal seharga ratusan juta dan sering kali menakhodai sendiri.

Kepiawaian Kaji Dirman sudah teruji, berulang kali dia berhasil membawa pulang selamat kapalnya meski dihajar ombak Plawangan yang terkenal ganas itu. Para nelayan Puger mengakui itu. Bukan cuma kemarin perahu Kaji Dirman terjebak ombak besar. Dan selama itu pula Kaji Dirman berhasil lolos. Namun, hari Kamis (19/7) kemarin rupanya menjadi hari apesnya.

Kaji Dirman tak bisa berbuat banyak saat perahunya dihantam ombak besar.  Kepiawaiannya membaca ombak tak banyak membantu. Kepiawaian membaca ombak ini merupakan “ilmu wajib” yang harus dimiliki para nelayan Puger. Konon, sebelum memasuki wilayah Plawangan, nakhoda menghentikan sebentar perahu. Saat itulah nakhoda menghitung ombak. Dan, di hitungan ke sekian, ombak akan mengecil sebelum akhirnya besar lagi. Nah, saat hitungan ke sekian itulah biasanya nakhoda langsung menggeber perahunya menembus ganasnya ombak Plawangan.

Kecelakaan laut di Puger kemarin bukan yang pertama. Tetapi, sudah berkali-kali terjadi. Dan kemarin merupakan kecelakaan dengan korban terbesar. Hingga tadi malam, terdata 6 meninggal, 4 hilang , 12 selamat.

Kecelakaan laut itu terjadi di jalur Plawangan, Pantai Pancer, Dusun Krajan, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (19/7) kemarin. Petaka itu terjadi pukul 08.15.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, perahu yang dinakhodai Haji Dirman, 50, warga Dusun Mandaran, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger ini membawa 22 nelayan. 21 orang di antaranya merupakan ABK. Perahu jenis payang (melaut dengan menggunakan jaring) ini melaut pada Rabu (18/7), atau sehari sebelum mengalami kecelakaan di jalur keluar masuk laut selatan di pantai Pancer, Puger tersebut.

Saat itu, perahu hendak pulang dengan muatan penuh ikan. Nahas, sampai di Plawangan, kapal diempas ombak, terbalik dan tenggelam. Enam ABK meninggal. Mereka adalah seorang nelayan asal Kecamatan Balung, Hasan (45), serta lima orang lainnya yang masih bertetangga. Yakni Cecep (45), Soim (65), Ulum (30), Hadi (28), serta Dulkowi (55). Semuanya berasal dari Dusun Mandaran, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger.

Selain korban meninggal, ada empat ABK hilang. Hingga tadi malam, pencarian masih dilakukan oleh tim SAR dibantu nelayan sekitar. Keempat nelayan hilang itu juga tinggal satu kampung di Dusun Mandaran, Desa Puger Kulon Kecamatan Puger. Mereka adalah, Budi (47), Munaji (45), Pong, dan Safii (65).

Sementara 12 ABK yang selamat adalah warga Dusun Mandaran, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger. Masing-masing Tan, Saiful (22), Ran (60), Nawar (50), Rendy, Jun, Sohib, Ali, Sugeng (46), serta Haji Dirman yang menakhodai perahu tersebut. Selain itu, ada dua nelayan asal Kecamatan Balung yang juga selamat. Mereka adalah Sin, dan Sahroni (27).

Para nelayan sendiri sebenarnya sudah diberitahu jika ombak dalam beberapa hari ini cukup besar. Tetapi, mereka tetap nekat melaut karena memang saat ini mulai musim ikan. Sedang banyak-banyaknya sampai sekitar Agustus nanti.  (jum/mg-4/c2/ras)

Reporter :

Fotografer :

Editor :