Kacamata Antisilau, Kuasai Lahan Parkir Sepanjang 20 Meter

Sutikno Hadi Cahyono, Tukang Parkir Kawakan di Jember

Di bawah terik matahari bulan puasa, Sutikno tetap semangat mengarahkan mobil dan menata sepeda motor. Terkadang, dia harus berlari, sembari meniup peluit memandu satu mobil yang berjalan mundur untuk keluar dari barisan parkir. Namun, dia tetap menikmati dan menjalani sepenuh hati pekerjaannya itu.

SEPENUH HATI: Sutikno, salah satu juru parkir kawakan yang selalu ingin memberikan pelayanan terbaik.

RADAR JEMBER.ID – Siang itu, di bawah teriknya panas matahari yang cukup menyengat, Sutikno meniup peluit sembari mengarahkan mobil untuk parkir yang benar di bahu kiri jalan di pertokoan sekitaran Pasar Tanjung. Memakai kacamata antisilau, Sutikno menjalani rutinitas tersebut dengan penuh semangat meski di bulan puasa.

IKLAN

“Biasanya malah saya bawa dua kacamata. Yang satu kacamata plus dan satunya kacamata hitam. Ya kalau panas gini biar nggak silau saja,” katanya sambil tertawa.

Nama lengkapnya Sutikno Hadi Cahyono. Pria yang sudah menjadi juru parkir sejak tahun 1989 ini tetap senang hati menjalani pekerjaannya itu. “Yang penting ojo neko-neko (jangan banyak tingkah). Tidak usah menuntut jadi pegawai negeri. Pokoknya sehari-hari bisa beli makan untuk keluarga,” ucapnya sambil mengamati sepeda motor dan mobil yang parkir di lokasinya.

Manis pahitnya pekerjaan menjadi tukang parkir sudah dirasakan pria berusia 49 tahun ini. Mulai dari umpatan sopir yang tak sedap didengar, sampai ada saja yang memberi uang parkir dengan nominal lebih.

“Dulu ada sopir mobil pikap yang nggak mau diatur parkirnya, sambil seperti marah-marah gitu. Akhirnya mobil itu terserempet,” kenang Sutikno.

Selain itu, dia juga sering mengingatkan pengendara sepeda motor. “Kalau sepeda matik ini banyak pengendara yang lupa menaruh barang berharganya di jok terbukanya. Itu kan bahaya, bisa hilang,” jelas dia.

Dia pun pernah mendapati ponsel yang jatuh di bawah pintu mobil. “Ya saya kembalikan kepada sopirnya itu. Kan itu bukan milik kita,” tuturnya.

Masih lanjut Sutikno, dulu kebanyakan para pengendara itu tak mau bayar parkir. “Tetapi lama-kelamaan mereka sadar kalau tukang parkir itu penting untuk menjaga kendaraan mereka. Dan sekarang mulai sadar, mau memberi sedikit uangnya untuk jukir,” imbuhnya.

Sutikno menjadi salah satu tukang parkir berseragam biru-biru, yang tandanya berada di bawah naungan Dinas Perhubungan (Dishub) Jember. Jukir yang berada di bawah naungan Dishub Jember ada ratusan jumlahnya dan tersebar di seluruh Kabupaten Jember.

Sutikno pun membenarkan bahwa semua jukir tidak boleh memaksa pengendara memberinya uang. “Kalau menekan atau memaksa pengendara untuk membayar itu tidak boleh. Tapi kalau dikasih cuma-cuma tidak ada larangan,” tuturnya.

Selain itu, lahan parkir pun sudah diberi aturan oleh Dishub. Tiap jukir punya kekuasaan lahan hanya sepanjang 20 meter saja dan setiap harinya pun mereka berpindah-pindah lokasi. “Jadwal lokasinya sudah ditentukan sama Dishub. Jadi, setiap harinya kita pindah-pindah,” tutur Sutikno.

Dia menambahkan, sistem itu cukup bagus untuk semua jukir. Sebab, semua jukir bisa merasakan lokasi parkir yang berbeda-beda. “Ramai atau sepi kita semua bisa merasakan. Kan lokasinya beda-beda, ada yang ramai ada yang sepi,” ungkapnya.

Sebelumnya, perpindahan lokasi itu dilakukan satu bulan sekali. Akhirnya, kini setiap hari harus berpindah. “Kalau dulu pindahnya sebulan sekali, kasihan yang jaga lokasi sepi. Jadi, tidak ada kecemburuan sosial antarjukir yang dapat lokasi ramai,” katanya.

Dalam satu hari itu, dia tak sepenuhnya menjaga sehari full. Jamnya pun sudah ada jatahnya masing-masing. Saat ditemui wartawan Radarjember.id, Sutikno hanya bertugas mulai dari jam 12.00 sampai 16.00 saja. Sebelum itu, ada rekannya yang bertugas dari pagi hingga siang.

Saat disinggung soal gaji, wartawan Radarjember.id pun sudah mengira. Gajinya masih pas-pasan untuk biaya hidup sehari-harinya. Benar saja, gaji per bulan yang Sutikno dapat hanya Rp 700 ribu saja. Belum lagi, dia harus menghidupi lima orang anak dan istrinya. “Satu bulan bisa saja saya cuma pegang Rp 100 ribu. Karena sisanya buat kebutuhan keluarga semua,” kata Sutikno, sembari tersenyum.

Jukir yang berada di bawah naungan dishub sendiri ada masa pensiunnya. Para jukir tersebut harus pensiun di usia 60 tahun. Namun, tak ada uang pesangonnya.

Meskipun dengan ekonomi yang pas-pasan, Sutikno tetap mensyukuri pekerjaannya sekarang ini. Sebab, menurutnya, apabila dia sudah melayani pengendara dengan baik dan sepenuh hati, itu sudah menjadi kepuasan tersendiri atas pekerjaannya.

“Jadi, dinikmati dengan senang saja. Insyaallah, kalau sudah memberikan pelayanan dengan baik, rezeki ada saja nanti,” ucapnya, kemudian tertawa kecil. (*)

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono