Menuju Manusia Paripurna

Muhammad Fauzinudin Faiz

RADAR JEMBER.ID – Salah satu penyakit utama yang sering merongrong kehidupan manusia adalah sikap yang melihat segala kebenaran hanya milik diri sendiri, sedang kesalahan adalah milik orang lain. Perilaku demikian melahirkan suasana tidak akrab bahkan bisa merusak. Perbaikan diri manusia sulit apabila dimulai dari luar, karena yang mendasar kunci etos kemanusiaan yaitu hati.

IKLAN

Untuk itulah mengembalikan hati manusia kepada jati dirinya dan optimistis kepada masa depan haruslah dengan merekonstruksi hati manusia melalui ibadah puasa. Allah SWT mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah puasa, kewajiban itu hendaknya tidaklah dijalani sekadar sebuah rutinitas. Namun, selayaknya menghimpun dalam dirinya tiga pendekatan yaitu formal (rasmiyah), substansial (dzatiah), dan esensial (ruhiah).

Dasar argumentasi kewajiban ibadah puasa telah tercantum dalam firman Allah SWT Q.S. Al Baqarah [2]: 183. Ibadah puasa sebagai salah satu rukun Islam akan bisa berdiri sebagai sebuah agama apabila ditopang dengan rekonstruksi humanitas. Jika tidak, ibadah formal di atas tentunya belum cukup karena belum berdampak bagi kemanusiaan.

Rasulullah Saw bersabda: Betapa banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus. Hadis rasul ini menyadarkan manusia bahwa pendekatan formal awal dari perjalanan panjang kemanusiaan. Untuk itu, diperlukan pendekatan lain yaitu substansial. Puasa pendekatan substansial dapat menangkap makna puasa secara rasional.

Dalam hal ini, orang puasa akan mengalami emansipasi pemikiran dari tingkatan. Mereka akan melihat ibadah puasa sekadar memenuhi tuntutan formalitas sebuah ajaran.  Hikmah puasa tidak sekadar untuk menyesuaikan ajaran agama dengan logika berpikir, tetapi yang utama adalah menuju status kehambaan yang disebut takwa. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan tingkatan paripurna.

Cita-cita untuk menjadi manusia bertakwa sesungguhnya adalah wujud manusia paripurna yang menjadi idaman bagi manusia yang beradab. Manusia paripurna menempatkan dirinya pada tiga titik silang yang saling berhubungan. Yaitu Tuhan, manusia, dan alam semesta. Mereka dekat kepada Allah SWT di tengah kerinduan akibat sifat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kerinduan kepada kasih dan sayang Allah menjadikan orang bertakwa rela menunda kenikmatan sementara untuk meraih kenikmatan yang abadi. Manusia paripurna selalu menempatkan dirinya dalam posisi yang bermanfaat bagi semua orang. Adanya perbedaan budaya, ras, status sosial, ideologi bahkan agama tidak menghalanginya berbuat baik kepada semua orang. Karena ia juga menyadari bahwa semua manusia selalu bercita-cita untuk menuju kepada kebaikan. Tentunya dengan cara dan keyakinan masing-masing.

Manusia paripurna menjauhi sikap mengintervensi hak asasi atau kebebasan orang lain. Pada akhirnya, manusia paripurna selalu bercita-cita untuk membawa kebaikan (islah) kepada alam semesta. (*)

Reporter :

Fotografer : Istimewa

Editor : Rangga Mahardika