(Salah Satu) BIANG Kemacetan Jalan

Jalan Raya yang Terkikis Lahan Parkir

Minimnya lahan parkir menjadi fenomena baru di Kabupaten Jember. Banyak pertokoan atau swalayan yang berdiri, ternyata tidak diimbangi fasilitas lahan parkir yang memadai. Imbasnya, kendaraan pengunjung banyak parkir di bahu jalan raya. Inilah yang menyebabkan bibit kemacetan dan membuat tata kota terlihat salbut. Bahkan itu juga terjadi pada beberapa pertokoan yang berdiri di jalan-jalan utama.

DIPAGAR: Parkir toko dan swalayan Nico di Jalan Sultan Agung benar-benar meluber di jalur nasional. Jika terus diperbolehkan, bisa saja pertokoan lain meniru dan membuat jalan utama sebagai tempat parkir.

RADAR JEMBER.ID – Fenomena parkir di jalan raya seperti ini hampir menjadi kebiasaan setiap tahun. Terlebih saat ada momen tertentu, seperti yang terjadi jelang Hari Raya Idul Fitri. Sayangnya, parkir di jalan masih diterapkan oleh sejumlah toko dan swalayan.

IKLAN

Pantauan Radarjember.id menyebutkan, pertokoan atau swalayan yang lokasi parkirnya paling meluber di jalan nasional yaitu Nico. Selain itu beberapa pertokoan lain yang ada di sepanjang jalan protokol Sultan Agung, Kecamatan Kaliwates ini juga ada yang meluber. Parkir di jalan ini seakan juga ‘dilegalkan’ dengan cara dipagar.

Beberapa pertokoan lain yang juga meluber hingga ke jalan raya yaitu terjadi di sekitar Jalan Diponegoro. Meski bukan merupakan jalur utama, tetapi di lokasi pertokoan dan swalayan Johar Plaza dan sekitarnya juga dipagar, bahkan kadang hingga separuh jalan.

Kondisi yang demikian memang terjadi karena adanya momen. Banyaknya pengunjung membuat tempat parkir yang disediakan Nico tak mampu menampung. Toko-toko lainnya bisa jadi ada yang punya dan tidak ada yang menyediakan lahan parkir. Karena itu, satu-satunya lokasi yang bisa dipakai adalah parkir di bahu jalan raya hingga meluber ke tengah.

Begitu pula dengan banyaknya pengunjung di sekitar Johar Plaza yang mengakibatkan parkir hingga menutup separuh jalan raya.

Akan tetapi, melihat kondisi tersebut, apakah parkir harus di jalan raya. Saat ini, bisa dan boleh. Tetapi ke depan, selayaknya ada tempat parkir yang memadai sehingga tidak meluber ke jalan raya dan mengganggu pengendara lain yang tidak mampir ke pertokoan atau swalayan tersebut.

Dengan kata lain, jalan raya seharusnya tidak dijadikan lahan parkir. Sebab, arus kendaraan tersendat dan itu bisa menjadi biang kemacetan di Kabupaten Jember.

Fenomena melubernya parkir konsumen atau pengunjung juga terjadi di sejumlah tempat lain. Pada momen seperti ini, beberapa pasar tradisional menjadi salah satu tempat terpadat.

Dengan begitu, tidak semua konsumen bisa parkir di tempat parkir pasar. Hal itu membuat banyak pengunjung yang ke pasar enggan parkir. Mereka membeli kebutuhannya dengan membawa sepeda motor di jalan samping pasar.

Tidak tersedianya lahan parkir yang memadai membuat arus lalu lintas tersendat. Lihat saja, pada saat aktivitas pasar terjadi, Jalan Trunojoyo tersendat. Itu berimbas pada kendaraan yang ada di Jalan Ahmad Yani. Bahkan, tersendatnya arus lalu lintas juga kerap terjadi hingga Gladak Kembar dan Alun-Alun Jember.

Sementara itu, arus lalu lintas juga kerap tersendat pada jalan sekitar swalayan atau mal-mal besar di Jember. Sebut saja di sekitar Transmart, Lippo Plaza, Roxy, dan Golden Market. Beberapa pusat perbelanjaan ini memang sudah menyediakan lahan parkir. Tetapi, pada momen-momen tertentu, kendaraan konsumen juga banyak yang tidak tertampung, sehingga parkir di bahu jalan raya.

Dengan banyaknya persoalan itu, keberadaan dan memadainya lahan parkir pada pertokoan, pasar, swalayan, dan mal setidaknya menjadi jawaban terbaik agar tidak ada lagi kendaraan yang parkir di jalan raya.

Sekiranya akan sangat elok dan terlihat rapi apabila lokasi parkir di Jember benar-benar tertata dengan baik. Semoga ke depan kendaraan bisa parkir di tempat parkir yang benar atau paling tidak parkir di belakang trotoar. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono