Pelaku Ditengarai Punya Pengalaman Traumatik

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Polisi masih memburu pelaku pembuangan sekaligus pembakaran jasad bayi di Dusun Kramat, Desa Sebanen, Kalisat. Publik pun berharap, aparat bisa segera mengungkap kasus ini dan mengetahui apa yang menjadi motif pelaku hingga tega membinasakan bayi yang tak berdosa itu. Apakah pelakunya dalam kondisi tertekan, atau memang ada faktor lain?

Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Cabang Jember Muhammad Muhib Alwi menjelaskan, ada beberapa kemungkinan yang menjadi faktor penyebab aksi nekat pelaku. Bisa dari dorongan diri sendiri maupun lingkungan yang dipengaruhi orang-orang terdekat. “Situasi yang sering membuat orang mengalami kondisi tertekan, itu akan menimbulkan reaksi pelaku yang beragam. Bisa positif atau sebaliknya,” katanya.

Muhib menilai, kuat dugaan pelaku itu tengah mengalami problem yang menjadi beban pikiran dan hidupnya. Seperti hubungan kehamilan di luar nikah, atau selama kehamilan sempat ada upaya menggugurkan, tapi gagal. Karenanya, saat hamil, ia menggugurkan dengan maksud menghilangkan jejak.

Melihat permasalahan tersebut memang cukup kompleks. Muhib pun mengakui, meski pelaku itu menyikapi permasalahan dengan bijak, dengan merawat si bayi misalnya, itu pun akan menimbulkan masalah karena dianggap menjadi aib bagi diri dan keluarganya. Apalagi, jika sampai dilakukan pembunuhan itu, malah lebih kompleks lagi. Pelaku jelas dikenakan pasal pidana pembunuhan, dan permasalahan lainnya.

Walau demikian, menurut pria yang juga dosen di IAIN Jember itu, apa pun sikap yang diambil pelaku, itu bukan untuk menoleransi perbuatannya yang jelas melanggar norma agama, sosial, dan hukum. Tapi dalam rangka perbaikan. Sebab, bisa jadi, pelaku memiliki pengalaman traumatik yang menyebabkan munculnya gangguan psikologis. “Traumatik itu perlu recovery (diperbaiki, Red). Tentunya dengan bantuan orang-orang terdekat. Karena efek traumatik itu luar biasa. Pelaku bisa merasa hidupnya hancur, tidak punya harapan lagi, dan itu bisa terjadi sepanjang hidupnya,” jelasnya.

Oleh karenanya, untuk me-recovery tersebut, perlu didukung penuh oleh orang-orang terdekat dengan cara dibangkitkan lagi harapannya. Ia juga menambahkan, misal nanti pelaku dikenakan hukum pidana, hal itu seyogianya tidak hanya membuat efek jera terhadap pelaku. Namun, yang paling penting adalah bagaimana bisa membangkitkan motivasi mereka untuk hidup lebih baik lagi. “Mestinya begitu, menghilangkan traumatik itu tidak bisa. Tapi bisa terus mendampingi dan menyemangati untuk bangkit dari keterpurukan. Paling tidak seperti itu,” tukasnya.

Editor: Mahrus Sholih
Reporter: Maulana
Fotografer: