Nikah Muda Ganggu Kesehatan Reproduksi

STOP NIKAH MUDA: Puluhan muda-mudi mendapat pembekalan. Salah satunya tentang kesehatan reproduksi sebelum melangsungkan pernikahan.

RADAR JEMBER.ID – Nikah di usia muda masih menjadi pilihan sebagian masyarakat di Jember. Padahal, kawin di usia dini berpotensi memiliki masalah terhadap kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi berpengaruh terhadap keselamatan salah satu pasangan, utamanya kaum perempuan. Mulai dari masa kehamilan, persalinan, hingga menyusui.

IKLAN

Hal itu dijelaskan oleh Riza Umami, salah seorang yang bertugas memberikan pembekalan kepada calon pengantin. Dia mengatakan, saat ini banyak calon mempelai yang tergolong belum ideal untuk melangsungkan pernikahan. Menurutnya, kondisi itu bisa mengundang masalah bagi calon ibu dan bayinya. “Usia menikah ideal itu kalau perempuan 21 tahun. Sedangkan laki-laki 25 tahun,” tutur Riza.

Dia menggarisbawahi, usia ideal tersebut ditinjau dari sistem reproduksi. Bukan dari syarat-syarat melangsungkan pernikahan yang diatur dalam undang-undang perkawinan. Di hadapan sekitar 75 peserta bimbingan, dia menjelaskan seputar persiapan pernikahan. Kata dia, ada delapan fungsi keluarga. Selain itu, dirinya menjelaskan tentang sistem reproduksi pada laki-laki dan perempuan.

Menurut Rizas, semua faktor perlu diperhatikan bagi mereka yang mau melangsungkan pernikahan. Sebab, hal tersebut berhubungan dengan proses kehamilan, bersalin, hingga nifas atau masa setelah melahirkan. “Tujuannya, kami ingin membekali calon pengantin agar bisa sehat secara reproduksi,” jelasnya.

Dia meyakini, setiap pasangan pasti menginginkan punya anak. Namun, saat usia masih belum ideal untuk melahirkan, hal itu sangat berisiko. Dia mencontohkan, semisal menikah sebelum usia 21 tahun, secara reproduksi itu belum siap. “Karena di usia itu sistem reproduksi masih proses tumbuh dan berkembang,” imbuh perempuan yang berprofesi sebagai bidan tersebut.

Sementara itu, Sutrisno, petugas lain, juga menjelaskan, agenda itu direncanakan akan berkelanjutan. Namun, harus sesuai dengan program delapan fungsi keluarga yang digagas oleh pemerintah. “Selanjutnya, kami usahakan ada sosialisasi dan pendampingan bagi mereka. Sehingga baik ibu dan bayi bisa tetap sehat,” tutur dosen Poltekkes Kemenkes Malang ini.

Acara yang digelar di aula Kantor Urusan Agama (KUA) Kaliwates itu diikuti sekitar 75 calon pengantin. Rata-rata mereka berusia 21-30 tahun. Meskipun baru perdana dilaksanakan, kegiatan itu cukup menarik perhatian sejumlah calon pengantin.

Muhammad Febrian dan Fitriana misalnya, dua warga asal Kelurahan Sumbersari dan Kaliwates yang turut mengikuti pembekalan tersebut mengaku cukup antusias. Dua sejoli yang akan melangsungkan pernikahan itu mengatakan, selama ini dirinya tak pernah sekalipun mendengar penjelasan seputar kesehatan reproduksi.

Dengan adanya pembekalan ini, keduanya merasa memiliki pengetahuan baru tentang kesehatan reproduksi yang selama ini sering diabaikan. “Kami jadi punya bekal. Dengan begini, bisa mendorong kami agar rajin periksa ke dokter atau puskesmas,” ujar Febrian. (*)

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih