Petani Semringah, Konsumen Gelisah

Harga Cabai Makin Pedas

MEROKET: Aktifitas pedagang sembako di Pasar Tanjung, Jember. Setelah mengalami kenaikan pada pekan lalu, kali ini harga cabai semakin meroket hingga Rp 70 ribu per kilogram.

RADAR JEMBER.ID – Harga cabai kembali meroket setelah dalam beberapa pekan kemarin mengalami kenaikan. Tak hanya naik, bahkan cabai-cabai di pasaran juga semakin langka. Hal itu turut mengatrol harga cabai hingga harganya semakin “pedas”.

IKLAN

Penelusuran Radarjember.id pada pekan lalu (11/7) menunjukkan, harga cabai sudah memasuki kisaran Rp 53 ribu per kilogram. Namun, pada Kamis (18/7) kemarin, harganya kembali meroket hingga tembus Rp 70 ribu per kilogram.

Menurut penuturan sejumlah pedagang, kenaikan itu sudah sempat diprediksi sebelumnya. Hanya saja, para pedagang yang cuma mengikuti mekanisme pasar dan tidak bisa berbuat banyak. Menurut mereka, yang terpenting dagangan laris, dan itu sudah dianggap cukup.

“Saya jual Rp 70 ribu per kilogram. Kalau ngecer Rp 8 ribu per ons,” ucap Abdullah Majid, salah seorang pedagang sembako di Pasar Tanjung. Pedagang asal Panti itu juga mengatakan, kenaikan harga cabai saat ini karena stok dari petani cabai semakin menipis.

Selain itu, kemarau panjang yang membuat tanaman cabai mulai mengering, lanjutnya, juga menjadi salah satu penyebab cabai mulai kekurangan stok. “Kalau pedagang seperti kami yang penting bisa jual. Ke depannya mungkin kalau masih kemarau panjang akan semakin mahal,” imbuhnya.

Kenaikan harga cabai ini menjadi pukulan bagi sejumlah konsumen di pasar. Terutama mereka yang menggantungkan hidup dari komoditas cabai tersebut. Seperti pengakuan Suriyati, salah seorang pedagang mi ayam yang biasanya mangkal di pojokan Pasar Tanjung.

Menurutnya, dia sangat tertekan dengan kenaikan itu. Sebab, berpengaruh tajam terhadap bisnis kulinernya selama ini. “Pengeluaran saya jadi dua kali lipat. Dalam sehari saya pasti butuh sekilo cabai rawit,” ungkapnya kepada Radarjember.id.

Perempuan yang mengaku puluhan tahun berprofesi sebagai pedagang mi ayam itu berharap harga cabai bisa kembali normal. Sebab, kalau terus-terusan seperti ini, dia khawatir bakal menghambat dagangannya. “Soalnya saya juga harus beli daging ayam yang ikutan naik hingga Rp 35 ribu per kilogramnya,” imbuh Suriyati.

Sementara itu, berkah atas kenaikan cabai ini justru menjadi angin segar bagi para petani. Sebab, tingginya harga di pasaran juga membuat harga di tingkat petani terkerek naik. Kondisi ini dianggap menguntungkan, sebab pendapatan petani semakin berlipat. “Saya jual cabai rawit merah Rp 60 ribu per kilogram. Sedangkan yang rawit hijau besar Rp 55 ribu per kilogram,” terang Ekowati, petani asal Desa Tutul, Balung.

Petani yang mengaku menjual cabai ke Pasar Reboan, Kasiyan, itu menjelaskan, harga yang diambil dari petani sudah sesuai dengan pasar pada umumnya. Ini membuatnya untung, meski dalam sehari hanya mampu memanen antara 8-12 kilogram. Saat mengetahui harga cabai naik, dia mengaku hasilnya cukup untuk mengganti biaya tanam hingga perawatan cabai selama ini.

Kendati demikian, dia tak bisa memastikan bahwa stok cabai di ladangnya mampu memasok permintaan pasar hingga harga cabai kembali normal. “Karena hampir setiap hari dipanen. Paling tersisa beberapa hari lagi akan habis,” tukasnya. (*)

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih