Potensi Tanaman Biofarmaka Menjanjikan

Produksi Mencapai Seribu Ton

MENJANJIKAN: Ilustrasi sejumlah tanaman herbal, yakni jahe, kencur, dan kunyit. Di Jember, kategori tanaman herbal ini bisa diproduksi hingga seribu ton per tahun.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Produksi tanaman biofarmaka atau tanaman herbal di Jember bisa dibilang sangat menjanjikan. Di Jember, jumlahnya mencapai lebih dari seribu lebih. Sayangnya, hasil bumi tersebut hanya dimanfaatkan untuk jamu atau minuman kesehatan saja, dan tidak sampai dijadikan obat-obatan herbal atau biofarmaka.

IKLAN

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Jember memiliki sejumlah produksi tanaman biofarmaka mulai dari jahe, laos, kencur, dan kunyit. Untuk produksi jahe sepanjang 2018 lalu mencapai 433 ton. Sedangkan laos mencapai 341 ton, kencur 81 ton, dan kunyit 201 ton. Pasokan ini menyumbang Provinsi Jawa Timur, yang tergolong cukup besar (data lengkap lihat grafis).

Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Jember Budi Hariono menyampaikan, Indonesia merupakan negara tropis. Artinya, keanekaragaman hayati itu melimpah.

Salah satu keunggulan negara tropis adalah rempah-rempah yang potensinya besar. “Bahkan empon-empon seperti jahe, kencur, laos, dan kunyit, kualitasnya jauh lebih baik dari pada negara pertanian lainnya seperti Thailand dan Vietnam,” ujarnya.

Di Jember, produksi tanaman biofarmaka ataupun tanaman herbal lainnya banyak. Sayangnya, pemanfaatannya tidak sampai pada produk biofarmaka atau obat herbal. “Di Jember hanya diproduksi untuk minuman kesehatan saja,” jelasnya.

Masyarakat pun lebih familier dengan nama jamu dari pada minuman kesehatan. Dia menjelaskan, untuk menghasilkan biofarmaka harus ada standar sendiri. “Minuman kesehatan bisa diproduksi dari UMKM, sedangkan biofarmaka ke arah industri,” tuturnya.

Budi menambahkan, membuat produk biofarmaka itu bisa dibilang sulit. Sebab, produk kesehatan untuk manusia itu harus dibuat dari nol. Selain itu, harus memiliki lab terstandardisasi, sumber daya manusia yang kapabel, serta ada tahapan klinis.

“Jadi dari awal yaitu hulu, seperti budidaya tidak memakai pupuk anorganik, hingga ada SOP yang dijalankan dengan ketat,” katanya. Selain itu dana riset di Indonesia juga tidak begitu besar.

Dia menconto, produksi mengkudu yang itu diekspor ke prancis. “Tapi dijual curah, kemungkinan besar mereka di jual lagi,” jelasnya. “Jangan sampai hasil dari tanah Indonesia di jual ke luar negeri dan selanjutnya di jual ke Indonesia lagi,” tambahnya.

Kini Komisi E DPRD Jatim telah mengodok untuk menyelesaikan perda tanaman tradisional. Perda tersebut tentu saja untuk menyiapkan segala kemungkinan dalam rangka mengatasi Covid-19. Sebagai informasi, dari sekitar 40 ribu jenis tanaman obat di seluruh dunia, 30 ribu di antaranya ada di Indonesia. Sementara di Jatim, potensinya sekitar 15 ribu tanaman obat. “Sebanyak 1.200 tanaman obat sudah bisa dimanfaatkan khasiatnya,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti