Defi Anak Buruh Tani, Ryan Pakai Kartu Indonesia Pintar

Pelajar Tidak Mampu Ketiban Rezeki Masuk Sekolah Favorit

SMAN favorit menjadi dambaan para pelajar setiap tahunnya. Sekolah tersebut menjadi rebutan. Tak jarang, siswa yang belajar di sekolah tersebut merupakan kalangan warga dengan ekonomi mampu. 

PERCAYA DIRI: Ryan Saputra (kanan) dan Defi Amelia Vega, pelajar kurang mampu secara ekonomi yang diterima di SMAN 2 Jember.

RADAR JEMBER. IA – Defi Amelia Vega datang ke tempat pendaftaran PPDB SMAN 2 Jember didampingi oleh ibunya, Suryati. Kala di meja pendaftaran, Defi dan Suryati tidak banyak bicara. Dia hanya menyerahkan berkas dan mengisi lembar administrasi PPDB.

IKLAN

“Selamat ya, bisa diterima,” kata Arif, panitia PPDB SMAN 2. Saat itu, Wajah Defi seketika berubah. Dia tersenyum. Tak menyangka bisa melanjutkan studi di SMAN 2 Jember. Padahal, dia masuk melalui jalur kuota keluarga tidak mampu.

Defi ceria, begitu juga dengan pendaftar lain di sebelahnya, yakni Ryan Saputra. Dia juga bisa lolos di SMADA. Padahal, untuk masuk ke sana tidaklah mudah. “Saya senang. Rasanya seperti mimpi bisa sekolah di SMAN 2 Jember,” aku Ryan Saputra.

Ryan adalah alumni SMPN 4. Tak ada bayangan bisa diterima di SMAN 2. Dalam angannya, dia akan melanjutkan studi di SMAN 4, SMAN 5, atau  paling jauh SMAN Arjasa. “Yang diterima di SMAN dua itu pandai-pandai. Nilai ujiannya tinggi-tinggi. Rata-rata dari SMPN unggulan seperti SMPN 2 dan SMPN 3,” tuturnya.

Namun, peluang sistem zonasi ini menguntungkannya hingga bisa diterima di SMAN 2 Jember. Nilai UN 349,00, awalnya dia tidak percaya diri daftar ke SMAN 2. Beruntung, ada temannya membagikan syarat terbaru masuk SMAN 2.

Pria asal Jalan Mawar, Kelurahan Gebang, tersebut menunjukkan syaratnya kepada orang tuanya, Ernawati. Ada kuota khusus siswa tidak mampu, Ernawati mendorong anaknya Ryan untuk mencoba daftar ke SMAN 2 menggunakan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Ryan pun masuk di SMAN 2 dengan mulus.  Berbeda dengan siswa yang mendaftarkan secara daring melalui jalur zonasi. Mereka harap-harap cemas masuk sekolah pilihan walau nilai UN tinggi. “Alhamdulillah bisa sekolah di SMAN 2. Kelima anak saya tidak ada yang sekolah di SMAN 2. baru anak saya yang terakhir, Defi ini,” tambah Suryati, orang tua dari Defi.

Defi merupakan anak dari keluarga kurang mampu yang masuk Program Keluarga Harapan (PKH). Dengan nilai UN 270,50, Defi tidak percaya bisa masuk SMA negeri. Dia berterima kasih dengan sistem PPDB sekarang. Sekolah negeri favorit bisa menampung anak-anak seperti dirinya. “Terima kasih pemerintah, saya bisa sekolah SMA negeri,” kata remaja putri asal Jalan Tawang Mangu, Sumbersari itu.

Sementara itu, Kepala Cabang Dispendik Jatim Wilayah Jember Lutfi Isa Ashori mengatakan, lewat PPDB sekarang ada asas nondiskriminatif, obyektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan.

Salah satu tujuannya untuk memberikan kesempatan peserta didik dari keluarga tidak mampu. Sayangnya, kuota 20 persen yang terbagi untuk keluarga tidak mampu dan dari keluarga buruh tersebut masih belum terpenuhi 100 persen.

Walau sempat kembali dibuka pendaftaran khusus siswa tak mampu dan anak buruh pada 17 Juni kemarin, belum bisa memenuhi kuota yang disediakan. “Padahal, pada 17 Juni kemarin boleh menerima siswa tidak mampu dengan memakai surat keterangan tidak mampu dari desa atau kelurahan,” tuturnya.

Selain itu, kata dia, pagu 5 persen dari keluarga buruh justru banyak yang lowong. “Sayangnya, buruh tidak memiliki kartu buruh. Asosiasi buruh seperti Sarbumusi juga bisa mengeluarkan kartu buruh,” katanya. Sisa kuota dari keluarga tidak mampu dan buruh tersebut pun akan dimasukkan ke kuota jalur reguler.  (*)

 

 

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi