Unej Jadi Pusat Kajian Teori Graph Baru

MEMAPARKAN: Salah satu narasumber kegiatan saat menyampaikan materi di depan 93 peserta dari berbagai negara.

RADAR JEMBER.ID – Universitas Jember menjadi pusat kajian teori Graph di Indonesia setelah Institut Teknologi Bandung (ITB). Keinginan Kampus Tegalboto itu didukung oleh keberadaan Kelompok Riset (KeRis) Combinatorics, Graph Theory and Network Topology (CGANT) di tingkat universitas, dan KeRis sejenis yang ada di tingkat fakultas.

IKLAN

Misalnya KeRis Graph, Combinatorics, and Algebra (GCA) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), KeRis Network and Security (NS) dari Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom), serta KeRis Kombinatorika, Komputasi, Statistik, dan Pembelajarannya (Kompustabel) dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Hal itu disampaikan oleh Prof Slamin, guru besar Fakultas Ilmu Komputer Unej dalam kegiatan The Fourth International Conference on Graph Theory and Information Security (ICGTIS) 2019 yang diselenggarakan oleh Universitas Jember di Hotel Green Hill, kemarin (17/7).

Menurut dia, sejak berdiri pada 2014 lalu, KeRis dan CGANT sudah berhasil memublikasikan tak kurang dari 150 penelitian di berbagai jurnal terakreditasi internasional maupun nasional. “Tahun 2019 saja sudah ada 30 penelitian kawan-kawan di CGANT dan KeRis yang meneliti teori Graph, dan  sudah dipublikasikan di berbagai jurnal,” terangnya.

Kondisi itu, kata dia, didukung oleh banyaknya dosen dan peneliti di Kampus Tegalboto yang menekuni teori Graph. Misalnya di FMIPA ada KeRis yang memadukan teori Graph dengan Aljabar, di Fakultas Ilmu Komputer ada KeRis Teori Graph yang mendukung kajian jaringan dan keamanan informasi, di FKIP meneliti bagaimana pengembangan dan pembelajaran teori Graph, statistik, dan komputasi.

Menurut dia, pengembangan penelitian teori Graph di Kampus Tegalboto menjadi strategis karena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya dunia komputer, tidak bisa lepas dari teori Graph. “Teori Graph adalah cabang dari ilmu matematika yang menjadi jembatan antara ilmu matematika dengan ilmu komputer,” terangnya.

Misalnya seorang yang akan membangun jaringan komputer, harus belajar teori Graph agar tipologi jaringan komputer yang dibangunnya berhasil. Begitu pula di bidang keamanan informasi, misalnya pesan yang dikirimkan melalui aplikasi tertentu harus dienkripsi agar tidak gampang diretas. “Nah, dasar dari enkripsi itu dari teori Graph,” ulas Prof Slamin yang juga menjabat Presiden Indonesian Combinatorial Society (InaCombS) ini.

Tak hanya dapat diaplikasikan di dunia komputer, teori Graph juga dapat digunakan dalam bidang lain, semisal pertanian dan perkebunan. “Misalnya saja di perkebunan skala besar, dengan teori Graph kita bisa mendesain urutan barisan tanaman yang baik agar menciptakan efisiensi dalam pekerjaan merawat tanaman,” paparnya.

Aplikasi teori Graph di bidang pertanian dan perkebunan ini sesuai dengan fokus utama Universitas Jember di bidang pertanian dan perkebunan industrial. “Beberapa tema yang dibahas dalam konferensi kali ini antara lain topik pelabelan graph, teori kode, konektivitas, jaringan komunikasi, kriptografi, dan topik lainnya,” tambah guru besar teori Graph ini.

Tekad menjadikan Unej sebagai pusat kajian teori Graph didukung oleh Moh. Hasan, Rektor Unej, yang membuka konferensi. Menurutnya, Unej akan terus memberikan dukungan kepada kegiatan-kegiatan yang menumbuhkembangkan atmosfer akademik di Kampus Tegalboto. “Saya sangat mengapresiasi konferensi ini yang mampu menghadirkan para pembicara pakar di bidangnya, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” kata Hasan yang  juga dosen matematika ini.

Selain itu, diharapkan juga membuka peluang kerja sama antara Unej dengan perguruan tinggi lainnya, khususnya di bidang pengembangan teori Graph. Kegiatan internasional itu menghadirkan sembilan pembicara utama, tiga dari Indonesia dan enam dari luar negeri. Mereka adalah Kiki A. Sugeng dari Universitas Indonesia, Prof Edy Tri Baskoro dari ITB, dan Saib Suwilo dari Universitas Sumatera Utara.

Sementara itu, Prof Martin Baca dan Andrea Fenovcikova dari Technical University Kosice, Slovakia. Christina Dalfo dan Joseph Miret dari Universitat de Lleida, Spanyol. Serta Joe Ryan dan Yu Qing Lin dari University of Newcastle Australia. Konferensi ini diikuti oleh 93 peserta yang berasal dari 10 negara. Di antaranya Filipina, Malaysia, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, India, Perancis, Indonesia, dan negara lainnya. Konferensi akan berlangsung hingga 19 Juli 2019 mendatang. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi