Bukan Senioritas, namun Kreativitas

PAKAI BARANG BEKAS: Suasana upacara jelang pelaksanaan masa pengenalan lingkungan sekolah (PLS) di MTS Negeri 9 Jember.

RADAR JEMBER.ID – Masa orientasi siswa baru atau kini dikenal sebagai pengenalan lingkungan sekolah (PLS) kerap diidentikkan dengan perploncoan senior kepada junior yang baru masuk sekolah. Stigma inilah yang sudah dihapuskan oleh masyarakat, untuk menghilangkan adanya senioritas di kalangan siswa. Sebagai gantinya, sekolah meminta siswa barunya untuk membuat aksesori yang terbuat dari barang bekas dan dijadikan identitas selama masa PLS.

IKLAN

Seperti siswa MTs Negeri 9 Jember yang mewajibkan siswanya mengenakan topi dari bola plastik yang dipotong setengah, serta membawa tas kresek sebagai tempat perlengkapan mereka. Sejumlah kalangan menganggap hal demikian sudah kurang mendidik. Namun, ada beberapa sekolah yang masih menggunakan barang-barang tersebut. “Topi bola itu sebagai tanda pengenal gugus atau kelompok,” ujar Ridwan Muslih, salah seorang panitia Masa Taaruf Siswa Madrasah (Matsama) di MTs Negeri 9 Jember.

Menurutnya, Matsama dengan mengenakan topi dari belahan bola plastik itu diizinkan karena barang mudah didapat. Mereka juga tak perlu beli. Sebab, rata-rata anak-anak punya bola plastik untuk dimainkan sehari-hari.

Selain itu, lanjut Ridwan, dirinya meyakini jiwa siswa yang baru lulus dari sekolah dasar itu masih suka bermain, jadi mereka membutuhkan suasana yang bisa membuat mereka having fun. “Dengan meminta mereka membuat topi plastik itu, secara tidak langsung juga memancing kreativitas siswa untuk memanfaatkan barang daur ulang,” imbuhnya.

Sementara itu, masa PLS yang diterapkan oleh sejumlah lembaga SMP juga masih berlangsung. Dua model sistem pengenalan lingkungan sekolah kepada siswa menjadi pemandangan baru yang diterapkan oleh lembaga yang berbeda pula.

Seperti MPLS yang diberlakukan di SMP 07 Ma’arif Perintis Tempurejo. Muhamad Museki, salah seorang guru di SMP tersebut mengatakan, PLS dengan kebijakan baru di sekolahnya sudah mulai diberlakukan mulai tahun ajaran 2018 kemarin. Dia juga tidak meminta para siswanya membawa perlengkapan yang macam-macam. “Jadi, sekarang tidak diperbolehkan bentak-bentak atau marah-marah. Itu sudah ada aturannya dan pelarangannya,” tegasnya. (*)

Reporter : Maulana

Fotografer : Istimewa

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti