Pesilat Geruduk Pengadilan

Sidang Penganiayaan Antarperguruan

AKUI BERSALAH: Suasana sidang daring di PN Jember, kemarin, dengan perkara penganiayaan anggota perguruan pencak silat. Terdakwa M Ramadan mengakui bahwa dirinya bersalah atas perbuatannya memukul korban.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ratusan massa dari salah satu perguruan pencak silat di Jember memadati area luar Pengadilan Negeri (PN) Jember, kemarin siang. Mereka turun ke jalan demi mengawal jalannya sidang agenda pemeriksaan saksi sekaligus terdakwa di PN Jember.

INGIN SAKSIKAN SIDANG: Ratusan massa pesilat datang langsung ke PN Jember untuk mengawal jalannya sidang M Ramadan, yang berstatus sebagai terdakwa dalam agenda sidang pemeriksaan terdakwa, kemarin siang di PN Jember.
IKLAN

Sayangnya, para pesilat dengan berbaju serba hitam itu tidak diperbolehkan masuk ke dalam kawasan PN Jember. Mereka memenuhi Jalan Kalimantan, tepatnya di depan gedung PN. Tak ayal, lebih dari tiga jam ruas Jalan Kalimantan terpaksa ditutup oleh kepolisian. Mulai dari pintu masuk Universitas Jember hingga gedung PN Jember.

Penasihat hukum terdakwa, Naniek Sudiarti mengungkapkan, adanya pengerahan massa pesilat ke kantor Pengadilan Negeri Jember ini telah diketahui sejak pagi. “Pengerahan massa dari pengurus dan anggota perguruan pencak silat di Jember ini, karena mereka ingin tahu. Karena infonya ada yang berniat membolak-balikkan fakta. Saya datang ke persidangan ini juga tidak tahu kalau sampai banyak massanya,” kata Naniek.

Perkara penganiayaan yang mengakibatkan korban mengalami luka berat itu memang sudah memasuki proses persidangan. Dalam agenda sidang kemarin, pihak penasihat hukum terdakwa Naniek Sudiarti menghadirkan empat orang saksi yang meringankan perbuatan terdakwa M Ramadan.

Agenda pemeriksaan saksi yang meringankan itu berlangsung tertutup. Sebab, ada dua orang saksi yang statusnya di bawah umur. Ketua Majelis Hakim Slamet Budiono pun memutuskan untuk sidang saksi dijalankan tertutup untuk umum.

Dalam fakta persidangan, Naniek menjelaskan, terdakwa Ramadan, yang berasal dari salah satu perguruan pencak silat di Jember, terbukti memukul korban Eko dari perguruan pencak silat lainnya. Dia melakukan hal tersebut dengan tujuan untuk mengamankan anggota perguruannya, yang sebelumnya dihadang oleh ratusan anggota perguruan silat lain. Aksi tersebut sudah terjadi pada 1 Februari lalu di Desa Kemiri, Kecamatan Panti.

“Tujuan terdakwa ini mengamankan anggota perguruan pencak silat di Jember yang sebelumnya dihadang oleh perguruan lain. Juga memukul anggota perguruan lain itu. Adanya pemukulan itu juga karena dipukul terlebih dahulu oleh Eko,” imbuhnya.

Selain itu, dalam pemeriksaan terdakwa, Ramadan juga mengaku bersalah atas perbuatannya memukul Eko tersebut. “Merasa bersalah, saya sebelumnya belum pernah dihukum,” kata Ramadan menjawab pertanyaan dari Jaksa Penuntut Umum Doddy Susanto.

Ramadan juga mengakui bahwa Eko-lah yang memukul dirinya terlebih dahulu. Setelah itu, pria yang juga merupakan pengurus perguruan pencak silat ini membalas pukulan Eko dengan tangan mengepal.

Agenda sidang selanjutnya akan berlangsung Rabu pekan depan (24/6), dengan jadwal pembacaan tuntutan dari pihak JPU. Sementara untuk agenda sidang keterangan saksi korban sudah digelar minggu lalu di PN Jember.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Muchammad Ainul Budi