Pelihara Lutung Jawa Harus Izin Presiden

PRIMATA DILINDUNGI: Lutung Jawa yang baru didapatkan BKSDA Wilayah III Jember dari warga Desa Sumber Rejo, Ambulu.  Hewan  ini dilindungi dan jadi hewan endemik Pulau Jawa.

TEGALBOTO – Dua lutung Jawa itu diberi nama Jhony dan Rina. Geraknya pasif, tak selincah lutung di alam liar. Ruang geraknya terbatas di dalam  kandang kecil. Maklum, satwa dengan nama latin  Trachypithecus auratus auratus itu dipelihara oleh warga. Padahal, untuk memelihara lutung Jawa, seseorang harus mendapat izin dari Presiden.

IKLAN

Jhony dan Rina baru saja didapatkan oleh Bidang KSDA Wilayah III Jember dari warga Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Warga menyerahkannya secara sukarela pada petugas BKSDA. Satwa itu lalu dikirim ke pusat rehabilitasi lutung di Javan Langur Center, Kota Batu, Malang. “Dia dipelihara sejak kecil oleh Abdul Aziz, warga Sumberejo,” kata Budi Harsono, Kepala Resort Konservasi Wilayah 16 Jember.

Saat diminta untuk diserahkan kepada petugas, dia mengaku ada rasa tidak ikhlas karena sudah merawatnya sejak kecil. Namun, memelihara hewan tersebut dilarang, karena termasuk satwa dilindungi. “Jika hewan itu bisa bicara, pasti memilih hidup di habitat alaminya,” terang Budi.

Memelihara satwa tersebut tanpa izin bisa dikenai pidana. Hal itu sudah diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Terpaksa, Abdul Aziz menyerahkannya kepada petugas.

Jhony dan Rina diberangkatkan ke Malang bersama satwa dilindungi lainnya. Mulai dari buaya muara, burung jalak Bali, jalak putih, nuri kepala hitam, buaya muara, kakak tua jambul kuning dan jingga. “Kami titipkan untuk tangkar di Jatim Park. Untuk lutung Jawa di Javan Langur Center,” tambah Setyo Utomo, Kepala BKSDA Wilayah III Jember.

Menurut dia, satwa itu dibawa ke Jatim Park karena sudah siap dengan kandangnya. “Kalau di sana sudah ada petugas ahlinya yang merawat. Terpenting ada kandang yang mumpuni. Hewan itu hanya dititipkan saja,” paparnya.

Setyo menambahkan, lutung Jawa adalah hewan endemik Indonesia dan penyebarannya hanya ada di Pulau Jawa. Namun, ada juga yang sebarannya di Bali atau di Nusa Tenggara. Sementara untuk habitatnya di daerah Jember sekitar, ada di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), kawasan hutan Kawah Ijen, Pegunungan Argopuro, dan Gunung Semeru.

Keberadaannya di alam liar pun juga kian sedikit akibat perburuan manusia yang ingin memilikinya.  Lutung Jawa masuk dalam hewan dilindungi dengan status apendiks II yang terancam punah bila perdagangan satwa terus-menerus berlanjut.

Tahun 2019, kata Setyo, menjadi tahun dengan penyerahan lutung Jawa di Kantor Bidang KSDA Wil III Jember cukup banyak. “Sampai 17 Juni saja ada 5 ekor. Sementara untuk 2018 dan 2017 tidak ada, sedangkan 2016 ada penyerahan 4 ekor lutung Jawa,” terangnya.

Dia menyarankan agar warga pun harus paham perbedaan lutung Jawa dengan kera ekor panjang yang sering dijumpai. “Perbedaannya terutama pada bulu. Lutung bulunya hitam, sedangkan kera ekor panjang cokelat,” akunya. Jika masih kecil atau remaja, kera ekor panjang bulunya hitam, tapi untuk lutung Jawa ada yang berwarna jingga dan abu-abu. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor :