Tahun Ajaran Baru Jadi Tahun Penutupan Sekolah

Nasib SD Negeri Suci IV yang Gulung Tikar Sepi Peminat

Sekolah ini baru saja diperbaiki karena bangunannya sudah rapuh. Sayangnya, ketika bangunan sudah megah, tak ada yang mendaftar. Terpaksa, sekolah di daerah pinggiran ini pun harus tutup. 

TAK ADA PENDAFTAR: Suasana SD Negeri Suci IV yang tutup karena tidak ada pendaftar. Terakhir, sekolah ini hanya memiliki dua siswa.

 RADAR JEMBER.ID – Jalan menuju ke sana terjal dan berbatu. Maklum, sekolah ini berada di kawasan pegunungan di Desa Suci, Kecamatan Panti. Untuk menuju ke sana memang membutuhkan perjuangan. Apalagi saat hujan, jalan menjadi becek.

IKLAN

Tak semua orang suka wira-wiri ke tempat yang memiliki ketinggian sekitar 450 mdpl itu. Jarak tempuh dari Kecamatan Panti menuju lokasi sekitar 12 kilometer dengan waktu sekitar dua jam. Perjalanan yang cukup panjang untuk mencapai SDN Suci IV.

Sekolah yang berada di area perkebunan karet itu tampak sepi. Tak ada kegiatan sama sekali. Rupanya, sekolah ini sudah tutup. Sebab, minat masyarakat sekitar enggan menyekolahkan anaknya di sana.

Saat ini, sekolah lain gencar melakukan penjaringan calon peserta didik baru. Kondisi itu berbeda dengan yang terjadi di SD Negeri Suci IV. Sekolah itu tak lagi menerima siswa baru di tahun ajaran 2019.

Suyono, Kepala SDN Suci IV mengatakan, kondisi sedikitnya pelajar di sekolah yang dipimpinnya sudah terjadi cukup lama. Yakni sejak sekolah ambruk pada pertengahan 2016 lalu. Karena sekolah rusak, jumlah siswa setiap ajaran baru semakin sepi peminat.

“Selama ambruk itu, aktivitas pembelajaran sekolah dipindah ke musala sekolah.” Terangnya. Hal itu membuat wali murid semakin tidak tertarik dengan sekolah ini. Dampaknya, ketika tahun ajaran baru, wali murid memindahkan putra putrinya dari sekolah tersebut.

Meskipun bangunan sekolah sudah selesai direnovasi, Suyono mengaku banyak kendala lain yang turut mewarnai sekolah di daerah terpencil itu gulung tikar. Salah satunya karena lokasinya berada di atas gunung.

“Perjalanan wali murid saat mengantarkan anaknya sering menjadi kendala,” imbuhnya. Terakhir, jumlah pelajar SD yang mengenyam pendidikan di sekolah ini hanya dua orang di kelas VI.  Mereka  menjadi lulusan terakhir di sekolah itu

Suyono mengaku kesulitan mempertahankan kondisi sekolahnya yang kian hari semakin tidak karuan. Pihaknya pernah berupaya untuk memperbaikinya, yakni dengan mengajukan penggabungan ke SDN Suci II atau SDN Suci III. Namun langkah itu diakuinya cukup sulit.

Dia mengajukan penggabungan sekolah sebanyak tiga kali sesuai prosedur. Yaitu melalui UPT kecamatan dan pengawas. “Ternyata masih dilempar, suruh langsung ke Diknas. Setelah dari Diknas, pihak sana tidak bisa berbuat banyak. Karena itu keputusan bupati,” keluh pria berusia 52 tahun itu.

Suyono sangat menyayangkan kondisi tersebut. Sebab, bangunan sudah cukup layak pascarenovasi, namun tidak ada siswanya. Akhirnya, pihak sekolah memutuskan tak lagi menerima siswa di tahun ajaran ini. “Saya kasihan para siswa, para guru yang sukwan, dan donatur sekolah yang membiayai renovasi itu, jika akhirnya sekolah harus tutup karena tak ada siswa,” jelasnya.

Dia juga sempat merasa kasihan kepada para guru yang sudah lama mengabdi di sekolah yang dipimpinnya itu. Dengan berat hati, dia harus merumahkan sekitar lima guru tidak tetap (GTT).

Mita, salah seorang guru di sekolah tersebut, menambahkan, selama di sekolah, dia tak hanya mengajar, namun juga turun mendekat pada masyarakat agar menyekolahkan anaknya ke SDN Suci IV. “Selama ini yang ngopeni kita hanya  kepsek. Segala kekurangan yang ada di sekolah ini, beliau sudah berusaha mengatasinya,” aku Mita.

Guru asal Desa Serut itu juga menyayangkan pihak-pihak yang memiliki wewenang terkesan lamban dalam merespons permasalahan di sekolah tempatnya mengajar itu. Diakuinya, minat masyarakat untuk menempuh pendidikan di daerah terpencil sedikit jika tidak diimbangi dengan dukungan pemerintah. “Saat sekolah ini sudah di tutup, masyarakat sini yang masih peduli pendidikan menyekolahkan ke SDN Suci II atau SDN Suci III, lokasinya harus turun gunung,” pungkasnya. (*)

Reporter : mg2

Fotografer : Maulana

Editor :