Jual Tiga Ekor Sapi untuk Bikin Jembatan Layang 125 Meter

Sumarno, Warga Kencong yang Membuat Jembatan Penghubung Dua Wilayah

Banyak yang kenal Sumarno. Apalagi pengendara sepeda motor yang melintas di jembatan penyeberangan di Desa Kraton, Kencong. Berkat ide Sumarno bikin jembatan layang dari bambu di kawasan tersebut, akses desa/kecamatan Kencong jadi mudah.  

CEK PAPAN: Haji Sumarno, 63, warga Dusun Sidonganti, Desa Kraton, Kencong, membangun  jembatan layang yang menghubungkan dua kecamatan.

RADAR JEMBER.ID – Setiap paginya, Sumarno, 63 tahun, bersama dua putranya selalu ada di pos di jembatan penyeberangan yang menghubungkan Dusun Ponjen, Desa Kraton, dengan Dusun Sidonganti, Desa Kraton, Kencong. Setiap dijumpai di posko jembatan layang yang dibangun, dia selalu menggunakan kaus singlet karena panas.

IKLAN

Panjang jembatan yang dibangunnya adalah 125 meter. Semua menghabiskan ratusan batang bambu, 2 kuintal serta 0,5 kuintal nilon untuk merakit jembatan tersebut. Sumarno mulai berada di jembatan yang dibangunnya sejak pukul 06.00 sampai pukul 11.30.

Dia menyebut, jembatan ratusan meter itu membutuhkan 200 batang bambu duri, 300 batang bambu biasa, 7 batang pohon kelapa, kawat, dan senar. Ini semua untuk keperluan agar jembatan itu bisa berdiri.

Memang awalnya jembatan yang dibangun Sumarno itu hanya yang melintas di atas Kali Tanggul. Karena itu, pengendara motor setelah melintas di jembatan harus turun dan melintas di atas tanah berem milik PU Pengairan. Tetapi lama-kelamaan jembatan harus dibangun lagi, sehingga panjangnya mencapai 125 meter dengan lebar 2 meter.

Untuk membangun jembatan bambu sejak 2010 itu, ia harus menjual 4 ekor sapi miliknya. Jumlah total biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp 40 juta. Memang sebelum dibangun jembatan, Sumarno ikut almarhumah Ibunya, Sarminah, yang menjadi penarik getek di Kali Tanggul tersebut.

Untuk memudahkan menarik donasi, dia mendirikan posko yang ada di ujung jembatan. Dia menyediakan kotak tempat uang jika ada pengendara motor yang lewat di jembatan itu. Tarifnya hanya Rp 2.000 untuk sekali jalan. Bahkan, kadang ada pengendara yang tidak bayar. Namun, Sumarno tidak langsung meminta paksa. ”Nggak apa-apa. Meskipun tidak bayar sekarang biasanya dia bayar keesokan harinya,” ujar bapak dua orang anak.

Sumarno juga tidak harus minta donasi langsung ke pengendara yang melintas di jembatan yang mereka bangun 9 tahun lalu itu. Dia cukup menyiapkan kotak kayu yang ditaruh di pinggir jembatan. Sumarno hanya tiduran di pinggir pos. Setiap pengendara yang melintas selalu disapanya dengan ramah.

Putra pasangan dari almarhum Dimon dan Sarminah itu mengaku, sejak SMP ia sudah ikut ibunya yang menjadi tukang menyebrangkan orang dengan getek. ”Setiap pulang sekolah selalu ikut. Baru pulang kalau sore hari,” ujar Sumarno saat ditemui di jembatan.

Beberapa tahun lalu, jembatan yang dibangun itu pernah terseret banjir walau tidak semuanya rusak. Itu akibat barongan bambu yang terbawa banjir menghantam tiang jembatan yang ada di atas Kali Tanggul. ”Akibatnya jembatan miring dan nyaris ambruk. Untuk memperbaiki juga membutuhkan biaya yang banyak,” ujar pria yang naik haji pada tahun 2006 lalu itu.

Meskipun ada rombongan pengendara sepeda motor yang lewat tidak membayar, dia tidak pernah meminta. Baginya, yang penting jembatan ini bisa bermanfaat bagi orang banyak. ”Tiap minggu saya selalu mengontrol lantai jembatan yang terpasang dari sirap,” lanjutnya. Itu dilakukannya karena khawatir ada yang patah dan membahayakan pengendara yang lewat.

Dia mengaku, dia berada di posko jembatan ini mulai pukul 06.00 sampai pukul 11.30. Setelah itu, sampai sore diganti anak pertamanya, Nur Sholeh, 37 tahun. Kalau malam siapa yang melintas di jembatan itu tidak perlu bayar. Dalam sehari, Sumarno bisa membawa uang recehan Rp 60 ribu sampai dengan Rp 80 ribu.

“Saya hanya berpesan kepada anak saya yang mengganti tugas saya jaga di pos, agar tidak memaksa kepada orang atau pengendara motor yang melintas namun membayar. Siapa tahu mereka tidak membawa uang. Jadi, biarkan saja,” ujarnya. Di posko jembatan itu ada tempat khusus untuk istirahat. Juga ada tempat salat.

Sementara itu, Nur Sholeh, 37, anak Sumarno, mengatakan, bapaknya meminta agar donasi itu bersifat sukarela. “Yang penting bapak ini membangun jembatan layang sepanjang 125 meter itu bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujar Sholeh menirukan ucapan orang tuanya.

Untuk mengganti lantai jembatan yang terbuat dari papan ini, pihaknya sudah menyiapkan satu batang pohon kelapa seharga Rp 1 juta dengan ongkos gergajinya.

Itu semua untuk persiapan Lebaran nanti. Semua lantai yang sudah mulai rapuh harus diganti yang baru. Setiap harinya Sumarno harus menyisihkan uang yang didapat untuk kas. “Saya gantikan jaga mulai pukul 11.30 sampai pukul 17.00,” ujar Sholeh. (*)

Reporter : Jumai

Fotografer : jumai

Editor : Hadi Sumarsono