Nama UIN KH Achmad Shiddiq Jadi Inspirasi Berjuang

KH Ahcmad Shidiq bukan sekadar tokoh yang hanya berkiprah di bidang keagamaan. Namun, dia juga sebagai negarawan, politisi, dan intelektual. Hidupnya diabdikan untuk bangsa dan negara.

SIAP DUKUNG: Gus Firjon Barlaman, putra dari KH Achmad Shiddiq.

RADAR JEMBER.ID – “Kami apresiasi semua pihak yang menganggap Bapak patut untuk ditokohkan,” kata Gus Firjon Barlaman, putra  KH Achmad Shiddiq. Usulan nama menjadi UIN KH Achmad Shiddiq diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi keluarga dan masyarakat dalam berjuang. Baik melalui Nahdlatul Ulama maupun lembaga lainnya.

IKLAN

Diakuinya, KH Achmad Shiddiq dikenal sebagai negarawan yang tidak melupakan kesufiannya. Hal ini menjadi inspirasi bahwa terjun ke politik tidak harus lepas dari nilai-nilai agama. “Beliau juga merintis banyak lembaga pendidikan bersama dengan para tokoh lain,” jelasnya.

Mulai dari lembaga pendidikan madrasah ibtidaiyah hingga perguruan tinggi negeri. Termasuk kampus Universitas Islam Jember dan IAIN Jember sendiri merupakan perjuangan KH Achmad Siddiq. Kiprahnya di bidang pendidikan bisa dirasakan oleh masyarakat sampai sekarang.

“Artinya, pendidikan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia,” ujarnya. Sesibuk apa pun harus tetap  mencari ilmu. Meluangkan waktu untuk mengenyam pendidikan.

“Beliau sendiri merasa sebagai orang biasa, tidak memiliki kelebihan,” akunya. Sikap itulah yang diwariskan pada para penerusnya. Yakni mental “aku hanyalah, bukan aku adalah” yang dicontohkan.

“Beliau juga menulis kitab. Di situ merasa sebagai hina-hinanya manusia. Beliau gemar membaca,” terangnya. Bahkan, saat Gus Firjon hendak nyantri, KH Achmad Siddiq berpesan agar terus membaca, karena dari sana pikiran akan terbuka.

Kegemaran membaca berbagai buku, mulai dari keagamaan, politik, hingga tata negara, membuat KH Achmad Siddiq memiliki wawasan luas. Kemudian, dia juga belajar organisasi dari KH Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur.

Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan umum, namun wawasannya tidak kalah dengan lulusan pendidikan formal. “Bagi beliau tidak ada kata tidak bisa, kata kuncinya mau atau tidak,” tuturnya.

Selain itu, KH Achmad Siddiq juga dikenal sebagai sosok yang religius nasionalis. Bisa memadukan kepentingan umat dengan merangkul semua kepentingan bangsa tanpa memandang perbedaan agama. “Bisa menerjemahkan Pancasila sehingga diterima sebagai asas tunggal,” paparnya.

Pancasila tidak bertentangan dengan syariat agama dan tidak boleh dipertentangkan. Sebab, sudah teruji diterapkan di Indonesia. “Dengan pengusulan nama menjadi UIN KH Acmad Siddiq, bisa mengarah ke semangat dan pandangan yang komprehensif,” tambahnya.

Sebab, bagi KH Achmad Siddiq, memandang orang lain jangan hanya dari satu sisi. Misal hanya dari sisi tauhid saja, karena ujungnya akan saling mengafirkan. Begitu juga jangan hanya memandang dari sudut fikih, karena ujungnya soal halal dan haram. “Namun lebih pada pandangan tasawuf, merangkul semua,” terangnya. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : bagus supriadi

Editor : Hadi Sumarsono