Bukti Apresiasi Perjuangan KH Achmad Siddiq

Prof Nur Syam, mantan Sekretaris Jenderal Kemenag RI

RADAR JEMBER.ID – KH Achmad Shiddiq memiliki gagasan yang tetap dikenang sampai sekarang. Terutama tentang relasi antara Islam, Pancasila, dan negara. Gagasan besarnya yang menjadikan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Indonesia.

IKLAN

“Kalau ada usul dijadikan nama UIN di Jember, ini bentuk apresiasi pada beliau,” kata Prof Nur Syam, mantan Sekretaris Jenderal Kemenag RI.  Menurut dia, KH Achmad Siddiq merupakan salah satu ulama yang luar biasa. Salah satunya karena gagasannya tentang Islam, Pancasila, dan NU.

KH Achmad Siddiq menjadi tokoh yang diperhitungkan. Terutama dalam pelaksanaan Munas Alim Ulama NU di Situbondo pada tahun 1983-1984 bersama para tokoh lainnya seperti KH Masykur, KH Ilyas Ruhiyat, dan KH Maksum. “Saya sampai hari ini mengagumi beliau saat menentukan hubungan antara Pancasila dan Islam,” aku guru besar UIN Sunan Ampel tersebut. Apalagi, pemikiran tersebut sangat relevan dengan kondisi hari ini.

Tak hanya itu, sumbangsih di bidang pendidikan juga bisa dirasakan oleh masyarakat luas. KH Achmad Siddiq merupakan peletak dasar pendidikan modern NU. “Kalau ingin dijadikan ikon nama dari UIN, saya rasa sangat relevan,” tuturnya. Bahkan, kiprahnya juga tentang modernisasi NU dan pendidikan pesantren.

Semangat modernisasi pendidikan pesantren yang dilakukan oleh KH Achmad Siddiq bisa menjadi motivasi bagi para generasi selanjutnya. Terutama dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. “Ini menjadi kerangka besar untuk membangun UIN di masa akan datang,” jelasnya.

Perubahan dari IAIN menjadi UIN, kata mantan Rektor UIN Sunan Ampel tersebut, akan melayani generasi milenial. Untuk itu, harus terus  mengembangkan dan meningkatkan kualitas teknologinya. Sebab, milenial memiliki khas yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

“Misal karakter belajarnya yang suka pada pengalaman, eksplorasi, praktis, dan berpikir simpel serta penguasaan teknologi yang mumpuni,” terangnya. Kemudian, kemampuan berkolaborasi dengan orang lain. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Hadi Sumarsono