alexametrics
25.2C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Titip Kesejahteraan Rakyat Jember

Dokter Faida dan Kiai Muqit Pamit

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak ada tampilan power point yang menjadi andalannya. Tak ada contekan kertas berisi data seperti biasanya. Siang kemarin (17/2), tanpa berbekal apa-apa, Bupati Jember (purna tugas) Faida berpidato di depan khalayak sesuai dengan apa yang dia rasakan saat itu.

Sesekali, ucapannya meninggi lalu melandai. Tak jarang, sempat tersendat pada beberapa kata yang berat untuk diucapkan. “Terima kasih. Selama lima tahun ini sudah membantu saya memimpin Jember,” tuturnya kepada khalayak yang hadir di Pendapa Wahyawibawagraha dalam acara serah terima jabatan Bupati Jember periode 2016-2021 kepada Plh Bupati Jember Hadi Sulistyo.

“Saya berharap, teman-teman mau memaafkan saya jika ada kesalahan saat kita bekerja selama lima tahun,” pintanya. “Terima kasih sekali lagi saya ucapkan atas semua dukungan dan bantuan, serta kerja sama yang baik,” lanjutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia berucap, hal baik itu diharapkan bisa menjadi semangat para abdi masyarakat untuk terus berjalan. Sedangkan yang kurang baik dilupakan. Secara administratif, Faida menjelaskan bahwa tugasnya sudah tuntas. “Saya berikan jabatan ini kepada Plh Bupati Jember. Saya mohon, teman-teman sekalian mau membantu tugas Plh bupati dalam membangun Jember. Demi Jember dan masyarakat Jember,” katanya.

Ditanya tentang apa yang berkesan baginya selama memimpin Jember, dia mengungkapkan bahwa masyarakat Jember sangat beragam. Masyarakat Jember disebutnya merupakan masyarakat yang luar biasa. Mereka patut mendapatkan pelayanan dan diperjuangkan. “Saya titip masyarakat Jember. Utamakan kesejahteraan mereka,” ucapnya.

Selanjutnya, apa yang bakal dilakukan setelah masa jabatannya berakhir? Faida menuturkan, dirinya akan menikmati masa-masa berkumpul dengan keluarga. “Mereka sudah lama saya tinggalkan dan banyak berkorban selama saya menjabat menjadi bupati,” jelasnya.

Selain itu, Faida menambahkan, dirinya tetap konsisten bergelut di dunia kemanusiaan seperti yang dilakukannya jauh sebelum menjadi bupati. “Baik di dunia kesehatan, sosial, maupun pendidikan,” paparnya.

Wakil Bupati Abdul Muqit Arief sudah berpamitan lebih dulu, Kamis (11/2) lalu. Dengan mengadakan acara sederhana di rumah dinas, dia mengundang beberapa orang untuk menyaksikan kilas balik kepemimpinannya selama lima tahun belakangan. “Ini sekadar selamatan kecil-kecilan, sekaligus pamitan,” tuturnya kepada beberapa tokoh masyarakat yang hadir kala itu.

Meski kelak tak menjabat menjadi orang nomor dua di Jember, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, ini berharap, jalinan silaturahmi tetap berlanjut. Didampingi istrinya, Maimunah Muqit, dia menyampaikan terima kasih lantaran sudah dibantu dalam memimpin Jember selama lima tahun. “Kami mohon maaf bila ada kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak,” tandasnya.

 

Bertugas Menyatukan Kelompok yang Berseteru

SETELAH serah terima jabatan, Jember resmi dinakhodai pelaksana harian (Plh) bupati hingga bupati dan wakil bupati terpilih dilantik. Kemunculan nama Hadi Sulistyo cukup mengejutkan, karena di luar prediksi banyak orang. Dia dipercaya oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjadi pemimpin Jember di masa transisi ini.

Hadi Sulistyo mengaku baru menerima kabar penunjukan sebagai Plh bupati pada Selasa (16/2) sore. Bahkan, dia tidak percaya bahwa harus mengemban tugas sebagai Plh bupati di kabupaten berpenduduk sekitar 2,6 juta jiwa ini. Sore itu, dia tak hanya mendapat kabar, tapi juga langsung disusul dengan menerima surat keputusan (SK) pada malam harinya. Rabu pagi, pria kelahiran 15 November 1962 ini sudah sampai di Jember untuk menghadiri prosesi serah terima jabatan dari Bupati Jember yang telah purna tugas.

“Saya ini orang baru, tapi stok lama,” tuturnya. Maksud stok lama, karena dia sebenarnya tidak asing di Jember. Masa belajar dia habiskan di SMA Negeri 1 Jember dan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember (Faperta Unej). “Ada beberapa tugas yang diberikan untuk saya dari gubernur. Pertama, menjalankan tugas sehari-hari bupati dengan menyertakan laporan-laporan,” ungkapnya.

Selain itu, dia menegaskan, dirinya tidak diperkenankan membuat suatu kebijakan yang bisa mengubah hukum seperti keorganisasian, kepegawaian, dan alokasi anggaran. Sebagai pengisi kekosongan jabatan, alumnus Faperta Unej angkatan 1981 tersebut mengungkapkan, dirinya hanya diberi tugas untuk menyatukan kelompok-kelompok yang berseteru lantaran berbeda pendapat. Seperti diketahui, di internal birokrasi memang sempat ada polemik. Muncul dua kelompok birokrat pro dan kontra terhadap bupati definitif sebelumnya.

Lebih lanjut, apakah tugasnya juga mempersiapkan pelantikan bupati terpilih, mantan Plt Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur itu memaparkan, hal itu bukan kewenangannya. Termasuk juga pembentukan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). “Itu bukan wewenang saya,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur itu.

Sementara itu, terkait dengan hal-hal yang sifatnya strategis, dirinya akan mengonsultasikan dulu ke pemerintah provinsi. Sebab, jabatan Plh Bupati Jember memiliki keterbatasan kewenangan. Ditanya tentang sampai kapan menjabat, dia sendiri belum mengetahuinya. “Saya hanya menjalankan tugas. Nanti Mendagri yang bakal menentukan sampai kapan,” terang mantan Kepala Biro Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jatim tersebut.

Lalu, kenapa bukan sekda yang menggantikan kekosongan Bupati Jember? “Wah, tidak tahu ya. Saya tidak bisa jawab. Itu sepenuhnya kewenangan gubernur,” ujarnya. Dia lantas menjelaskan, gubernur memiliki hak prerogatif dan memiliki otoritas penuh untuk mengangkat siapa saja yang menjadi plh bupati, termasuk di Jember.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak ada tampilan power point yang menjadi andalannya. Tak ada contekan kertas berisi data seperti biasanya. Siang kemarin (17/2), tanpa berbekal apa-apa, Bupati Jember (purna tugas) Faida berpidato di depan khalayak sesuai dengan apa yang dia rasakan saat itu.

Sesekali, ucapannya meninggi lalu melandai. Tak jarang, sempat tersendat pada beberapa kata yang berat untuk diucapkan. “Terima kasih. Selama lima tahun ini sudah membantu saya memimpin Jember,” tuturnya kepada khalayak yang hadir di Pendapa Wahyawibawagraha dalam acara serah terima jabatan Bupati Jember periode 2016-2021 kepada Plh Bupati Jember Hadi Sulistyo.

“Saya berharap, teman-teman mau memaafkan saya jika ada kesalahan saat kita bekerja selama lima tahun,” pintanya. “Terima kasih sekali lagi saya ucapkan atas semua dukungan dan bantuan, serta kerja sama yang baik,” lanjutnya.

Mobile_AP_Half Page

Dia berucap, hal baik itu diharapkan bisa menjadi semangat para abdi masyarakat untuk terus berjalan. Sedangkan yang kurang baik dilupakan. Secara administratif, Faida menjelaskan bahwa tugasnya sudah tuntas. “Saya berikan jabatan ini kepada Plh Bupati Jember. Saya mohon, teman-teman sekalian mau membantu tugas Plh bupati dalam membangun Jember. Demi Jember dan masyarakat Jember,” katanya.

Ditanya tentang apa yang berkesan baginya selama memimpin Jember, dia mengungkapkan bahwa masyarakat Jember sangat beragam. Masyarakat Jember disebutnya merupakan masyarakat yang luar biasa. Mereka patut mendapatkan pelayanan dan diperjuangkan. “Saya titip masyarakat Jember. Utamakan kesejahteraan mereka,” ucapnya.

Selanjutnya, apa yang bakal dilakukan setelah masa jabatannya berakhir? Faida menuturkan, dirinya akan menikmati masa-masa berkumpul dengan keluarga. “Mereka sudah lama saya tinggalkan dan banyak berkorban selama saya menjabat menjadi bupati,” jelasnya.

Selain itu, Faida menambahkan, dirinya tetap konsisten bergelut di dunia kemanusiaan seperti yang dilakukannya jauh sebelum menjadi bupati. “Baik di dunia kesehatan, sosial, maupun pendidikan,” paparnya.

Wakil Bupati Abdul Muqit Arief sudah berpamitan lebih dulu, Kamis (11/2) lalu. Dengan mengadakan acara sederhana di rumah dinas, dia mengundang beberapa orang untuk menyaksikan kilas balik kepemimpinannya selama lima tahun belakangan. “Ini sekadar selamatan kecil-kecilan, sekaligus pamitan,” tuturnya kepada beberapa tokoh masyarakat yang hadir kala itu.

Meski kelak tak menjabat menjadi orang nomor dua di Jember, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, ini berharap, jalinan silaturahmi tetap berlanjut. Didampingi istrinya, Maimunah Muqit, dia menyampaikan terima kasih lantaran sudah dibantu dalam memimpin Jember selama lima tahun. “Kami mohon maaf bila ada kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak,” tandasnya.

 

Bertugas Menyatukan Kelompok yang Berseteru

SETELAH serah terima jabatan, Jember resmi dinakhodai pelaksana harian (Plh) bupati hingga bupati dan wakil bupati terpilih dilantik. Kemunculan nama Hadi Sulistyo cukup mengejutkan, karena di luar prediksi banyak orang. Dia dipercaya oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjadi pemimpin Jember di masa transisi ini.

Hadi Sulistyo mengaku baru menerima kabar penunjukan sebagai Plh bupati pada Selasa (16/2) sore. Bahkan, dia tidak percaya bahwa harus mengemban tugas sebagai Plh bupati di kabupaten berpenduduk sekitar 2,6 juta jiwa ini. Sore itu, dia tak hanya mendapat kabar, tapi juga langsung disusul dengan menerima surat keputusan (SK) pada malam harinya. Rabu pagi, pria kelahiran 15 November 1962 ini sudah sampai di Jember untuk menghadiri prosesi serah terima jabatan dari Bupati Jember yang telah purna tugas.

“Saya ini orang baru, tapi stok lama,” tuturnya. Maksud stok lama, karena dia sebenarnya tidak asing di Jember. Masa belajar dia habiskan di SMA Negeri 1 Jember dan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember (Faperta Unej). “Ada beberapa tugas yang diberikan untuk saya dari gubernur. Pertama, menjalankan tugas sehari-hari bupati dengan menyertakan laporan-laporan,” ungkapnya.

Selain itu, dia menegaskan, dirinya tidak diperkenankan membuat suatu kebijakan yang bisa mengubah hukum seperti keorganisasian, kepegawaian, dan alokasi anggaran. Sebagai pengisi kekosongan jabatan, alumnus Faperta Unej angkatan 1981 tersebut mengungkapkan, dirinya hanya diberi tugas untuk menyatukan kelompok-kelompok yang berseteru lantaran berbeda pendapat. Seperti diketahui, di internal birokrasi memang sempat ada polemik. Muncul dua kelompok birokrat pro dan kontra terhadap bupati definitif sebelumnya.

Lebih lanjut, apakah tugasnya juga mempersiapkan pelantikan bupati terpilih, mantan Plt Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur itu memaparkan, hal itu bukan kewenangannya. Termasuk juga pembentukan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). “Itu bukan wewenang saya,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur itu.

Sementara itu, terkait dengan hal-hal yang sifatnya strategis, dirinya akan mengonsultasikan dulu ke pemerintah provinsi. Sebab, jabatan Plh Bupati Jember memiliki keterbatasan kewenangan. Ditanya tentang sampai kapan menjabat, dia sendiri belum mengetahuinya. “Saya hanya menjalankan tugas. Nanti Mendagri yang bakal menentukan sampai kapan,” terang mantan Kepala Biro Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jatim tersebut.

Lalu, kenapa bukan sekda yang menggantikan kekosongan Bupati Jember? “Wah, tidak tahu ya. Saya tidak bisa jawab. Itu sepenuhnya kewenangan gubernur,” ujarnya. Dia lantas menjelaskan, gubernur memiliki hak prerogatif dan memiliki otoritas penuh untuk mengangkat siapa saja yang menjadi plh bupati, termasuk di Jember.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak ada tampilan power point yang menjadi andalannya. Tak ada contekan kertas berisi data seperti biasanya. Siang kemarin (17/2), tanpa berbekal apa-apa, Bupati Jember (purna tugas) Faida berpidato di depan khalayak sesuai dengan apa yang dia rasakan saat itu.

Sesekali, ucapannya meninggi lalu melandai. Tak jarang, sempat tersendat pada beberapa kata yang berat untuk diucapkan. “Terima kasih. Selama lima tahun ini sudah membantu saya memimpin Jember,” tuturnya kepada khalayak yang hadir di Pendapa Wahyawibawagraha dalam acara serah terima jabatan Bupati Jember periode 2016-2021 kepada Plh Bupati Jember Hadi Sulistyo.

“Saya berharap, teman-teman mau memaafkan saya jika ada kesalahan saat kita bekerja selama lima tahun,” pintanya. “Terima kasih sekali lagi saya ucapkan atas semua dukungan dan bantuan, serta kerja sama yang baik,” lanjutnya.

Dia berucap, hal baik itu diharapkan bisa menjadi semangat para abdi masyarakat untuk terus berjalan. Sedangkan yang kurang baik dilupakan. Secara administratif, Faida menjelaskan bahwa tugasnya sudah tuntas. “Saya berikan jabatan ini kepada Plh Bupati Jember. Saya mohon, teman-teman sekalian mau membantu tugas Plh bupati dalam membangun Jember. Demi Jember dan masyarakat Jember,” katanya.

Ditanya tentang apa yang berkesan baginya selama memimpin Jember, dia mengungkapkan bahwa masyarakat Jember sangat beragam. Masyarakat Jember disebutnya merupakan masyarakat yang luar biasa. Mereka patut mendapatkan pelayanan dan diperjuangkan. “Saya titip masyarakat Jember. Utamakan kesejahteraan mereka,” ucapnya.

Selanjutnya, apa yang bakal dilakukan setelah masa jabatannya berakhir? Faida menuturkan, dirinya akan menikmati masa-masa berkumpul dengan keluarga. “Mereka sudah lama saya tinggalkan dan banyak berkorban selama saya menjabat menjadi bupati,” jelasnya.

Selain itu, Faida menambahkan, dirinya tetap konsisten bergelut di dunia kemanusiaan seperti yang dilakukannya jauh sebelum menjadi bupati. “Baik di dunia kesehatan, sosial, maupun pendidikan,” paparnya.

Wakil Bupati Abdul Muqit Arief sudah berpamitan lebih dulu, Kamis (11/2) lalu. Dengan mengadakan acara sederhana di rumah dinas, dia mengundang beberapa orang untuk menyaksikan kilas balik kepemimpinannya selama lima tahun belakangan. “Ini sekadar selamatan kecil-kecilan, sekaligus pamitan,” tuturnya kepada beberapa tokoh masyarakat yang hadir kala itu.

Meski kelak tak menjabat menjadi orang nomor dua di Jember, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, ini berharap, jalinan silaturahmi tetap berlanjut. Didampingi istrinya, Maimunah Muqit, dia menyampaikan terima kasih lantaran sudah dibantu dalam memimpin Jember selama lima tahun. “Kami mohon maaf bila ada kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak,” tandasnya.

 

Bertugas Menyatukan Kelompok yang Berseteru

SETELAH serah terima jabatan, Jember resmi dinakhodai pelaksana harian (Plh) bupati hingga bupati dan wakil bupati terpilih dilantik. Kemunculan nama Hadi Sulistyo cukup mengejutkan, karena di luar prediksi banyak orang. Dia dipercaya oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjadi pemimpin Jember di masa transisi ini.

Hadi Sulistyo mengaku baru menerima kabar penunjukan sebagai Plh bupati pada Selasa (16/2) sore. Bahkan, dia tidak percaya bahwa harus mengemban tugas sebagai Plh bupati di kabupaten berpenduduk sekitar 2,6 juta jiwa ini. Sore itu, dia tak hanya mendapat kabar, tapi juga langsung disusul dengan menerima surat keputusan (SK) pada malam harinya. Rabu pagi, pria kelahiran 15 November 1962 ini sudah sampai di Jember untuk menghadiri prosesi serah terima jabatan dari Bupati Jember yang telah purna tugas.

“Saya ini orang baru, tapi stok lama,” tuturnya. Maksud stok lama, karena dia sebenarnya tidak asing di Jember. Masa belajar dia habiskan di SMA Negeri 1 Jember dan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember (Faperta Unej). “Ada beberapa tugas yang diberikan untuk saya dari gubernur. Pertama, menjalankan tugas sehari-hari bupati dengan menyertakan laporan-laporan,” ungkapnya.

Selain itu, dia menegaskan, dirinya tidak diperkenankan membuat suatu kebijakan yang bisa mengubah hukum seperti keorganisasian, kepegawaian, dan alokasi anggaran. Sebagai pengisi kekosongan jabatan, alumnus Faperta Unej angkatan 1981 tersebut mengungkapkan, dirinya hanya diberi tugas untuk menyatukan kelompok-kelompok yang berseteru lantaran berbeda pendapat. Seperti diketahui, di internal birokrasi memang sempat ada polemik. Muncul dua kelompok birokrat pro dan kontra terhadap bupati definitif sebelumnya.

Lebih lanjut, apakah tugasnya juga mempersiapkan pelantikan bupati terpilih, mantan Plt Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur itu memaparkan, hal itu bukan kewenangannya. Termasuk juga pembentukan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). “Itu bukan wewenang saya,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur itu.

Sementara itu, terkait dengan hal-hal yang sifatnya strategis, dirinya akan mengonsultasikan dulu ke pemerintah provinsi. Sebab, jabatan Plh Bupati Jember memiliki keterbatasan kewenangan. Ditanya tentang sampai kapan menjabat, dia sendiri belum mengetahuinya. “Saya hanya menjalankan tugas. Nanti Mendagri yang bakal menentukan sampai kapan,” terang mantan Kepala Biro Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jatim tersebut.

Lalu, kenapa bukan sekda yang menggantikan kekosongan Bupati Jember? “Wah, tidak tahu ya. Saya tidak bisa jawab. Itu sepenuhnya kewenangan gubernur,” ujarnya. Dia lantas menjelaskan, gubernur memiliki hak prerogatif dan memiliki otoritas penuh untuk mengangkat siapa saja yang menjadi plh bupati, termasuk di Jember.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2