alexametrics
25.2C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Bersiap Pakai Seragam Sekolah Lagi

Simulasi Belajar Tatap Muka Dilakukan Akhir Februari

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rencana pembelajaran tatap muka yang dimulai awal maret ini mendapat respons positif sejumlah pihak. Sebab, kebijakan itu dinilai memecah kejenuhan siswa dan para orang tua selama masa pembelajaran daring berlangsung. Sebagai langkah persiapan, Dinas Pendidikan Jember berencana melakukan simulasi, akhir Februari ini. Simulasi itu melibatkan beberapa sekolah untuk menguji kesiapan penerapan protokol kesehatan (prokes).

Kemarin (17/2), Dinas Pendidikan bersama sejumlah kepala SD dan SMP se-Jember menggelar rapat sosialisasi di SMP Negeri 7 Jember. Meski belum ada kepastian kapan tanggal pelaksanaannya simulasi itu, tapi kemungkinan besar akan dilakukan setelah 22 Februari.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Syaiful Bahri menjelaskan, rencana pembelajaran tatap muka tidak bisa dilakukan secara mendadak. Perlu persiapan yang matang. Mulai dari sosialisasi kepada murid mengenai teknis pelaksanaannya, hingga pemenuhan aturan sesuai standar prokes Covid-19 yang berlaku. “Untuk waktu pelaksanaannya, kami tidak tahu. Masih menunggu tanggal,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pada tingkat SMP, Syaiful mengungkapkan, bakal ada 35 sekolah yang akan mengikuti simulasi. Skemanya, simulasi akan dilakukan dalam tiga hari berturut-turut untuk semua jenjang kelas. Setiap harinya, satu kelas di tiap sekolah akan melaksanakan simulasi tatap muka dalam satu hari. Berikutnya, dilanjutkan untuk kelas lain.

Sementara, untuk SD, simulasi bakal diikuti oleh SD yang telah didelegasikan oleh kecamatan. Setiap kecamatan dapat mendelegasikan dua lembaga yang akan mengikuti simulasi tatap muka.

Kepala Dinas Pendidikan Jember melalui Kepala Bidang TK-SD Dhebora Krisnowati memaparkan, simulasi pembelajaran tatap muka itu akan diikuti oleh semua sekolah. Baik yang berada di kota maupun di desa. “Ini hanya sosialisasi persiapan simulasi. Setelah simulasi nanti akan uji coba,” jelasnya. Rencananya, uji coba akan dilakukan pada Maret mendatang. Karena itu, sebelum dilakukan uji coba, sekolah harus melakukan persiapan pemenuhan protokol Covid-19.

Menjawab Kegalauan Warga

Ketua Yayasan Pendidikan Islam Riyadus Sholihin Jember Madini Farouq menilai, penerapan sekolah tatap muka masih menjadi cara terbaik untuk mendidik anak-anak. Untuk itu, perlu persiapan matang sebelum dilangsungkan. “Sebagai ketua yayasan, saya sangat mendukung dan menyambut baik rencana uji coba sekolah tatap muka di Jember per 1 Maret 2021,” kata pria yang akrab dipanggil Gus Mamak ini.

Dia menyebut, pendidikan melalui daring selama setahun terakhir dinilai tidak maksimal. Sebab, sistem pembelajaran tidak cukup dengan pertemuan jarak jauh. Perlu bertemu langsung agar transfer ilmu dan pengetahuan tersalurkan dengan baik.

Tak hanya itu, pria yang juga menjabat Ketua DPC PPP Jember ini mengungkapkan, selama setahun terakhir banyak orang tua siswa yang mengeluh kesulitan membantu putra putrinya yang melaksanakan sekolah daring di rumah. Belum lagi harus membantu mengerjakan soal anak-anak lantaran anak mereka banyak yang bermain.

“Kesulitan orang tua dalam mengawasi putra-putrinya karena banyak aktivitas bermain di luar rumah. Sementara, para orang tua juga sibuk karena harus bekerja. Ini yang terjadi dan kondisi ini banyak dikeluhkan,” beber Gus Mamak.

Apabila sekolah tatap muka benar-benar dilangsungkan nanti, Gus Mamak tetap berharap agar penerapan prokes tetap menjadi perhatian. “Pemerintah daerah sudah memberikan bantuan berupa tempat cuci tangan ke sekolah-sekolah. Walaupun saya juga melihat masih ada sekolah swasta di desa yang belum mendapatkan fasilitas. Ini harus tetap menjadi perhatian,” jelasnya.

Terpisah, Ketua PGRI Jember Supriyono menyampaikan, secara kelembagaan, PGRI juga telah melakukan evaluasi terkait pelaksanaan pendidikan di tahun 2020. Menurutnya, banyak problem saat anak menjalankan sekolah daring atau diam di rumah. “Banyak yang menjadi tidak disiplin. Saat mereka datang ke sekolah, mohon maaf, rambutnya sudah ada yang warna-warni dan ada yang bertato. Kalau ini terus dibiarkan, karakter anak akan semakin terpengaruh,” katanya.

Supriyono menyebut, bandelnya anak-anak bukan saja mereka yang sudah remaja, tapi ada juga yang masih SD. Pada saat di sekolah, banyak anak yang perlu beradaptasi kembali. Salah satunya soal kedisiplinan karena sebelumnya dipengaruhi kebebasan di saat orang tuanya bekerja. “Seandainya nanti dilakukan uji coba dan sekolah bisa tatap muka, saya pikir ini sebuah keberanian yang akan menjawab kegalauan masyarakat,” ucapnya.

Sebagai organisasi profesi guru, Supriyono menyatakan mendukung penerapan sekolah tatap muka. “Protokol kesehatan tetap menjadi satu hal yang harus diterapkan dan benar-benar dijaga,” cetusnya.

Sekolah melalui daring, menurut Supriyono, bisa menjadi program masa depan seiring dengan kecanggihan teknologi. Akan tetapi, kondisi hari ini, sekolah daring belum menjawab kondisi dan keadaan yang ada di Jember maupun di Indonesia pada umumnya. “Anak-anak belum biasa disiplin di rumah karena tidak semua orang tua ketat. Sekarang, pondok pesantren sudah melakukan tatap muka. Saya kira sekolah juga sudah waktunya tatap muka. Kita harus berani tanpa meninggalkan prokes,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, pasca-dilantik nanti, Bupati Hendy Siswanto dan Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman akan melakukan uji coba sekolah tatap muka pada beberapa sekolah per 1 Maret. Setelah itu, akan dilakukan evaluasi untuk kemudian dilangsungkan sekolah tatap muka demi masa depan anak-anak.

 

Jurnalis : Dian Cahyani/Nur Hariri
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rencana pembelajaran tatap muka yang dimulai awal maret ini mendapat respons positif sejumlah pihak. Sebab, kebijakan itu dinilai memecah kejenuhan siswa dan para orang tua selama masa pembelajaran daring berlangsung. Sebagai langkah persiapan, Dinas Pendidikan Jember berencana melakukan simulasi, akhir Februari ini. Simulasi itu melibatkan beberapa sekolah untuk menguji kesiapan penerapan protokol kesehatan (prokes).

Kemarin (17/2), Dinas Pendidikan bersama sejumlah kepala SD dan SMP se-Jember menggelar rapat sosialisasi di SMP Negeri 7 Jember. Meski belum ada kepastian kapan tanggal pelaksanaannya simulasi itu, tapi kemungkinan besar akan dilakukan setelah 22 Februari.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Syaiful Bahri menjelaskan, rencana pembelajaran tatap muka tidak bisa dilakukan secara mendadak. Perlu persiapan yang matang. Mulai dari sosialisasi kepada murid mengenai teknis pelaksanaannya, hingga pemenuhan aturan sesuai standar prokes Covid-19 yang berlaku. “Untuk waktu pelaksanaannya, kami tidak tahu. Masih menunggu tanggal,” katanya.

Mobile_AP_Half Page

Pada tingkat SMP, Syaiful mengungkapkan, bakal ada 35 sekolah yang akan mengikuti simulasi. Skemanya, simulasi akan dilakukan dalam tiga hari berturut-turut untuk semua jenjang kelas. Setiap harinya, satu kelas di tiap sekolah akan melaksanakan simulasi tatap muka dalam satu hari. Berikutnya, dilanjutkan untuk kelas lain.

Sementara, untuk SD, simulasi bakal diikuti oleh SD yang telah didelegasikan oleh kecamatan. Setiap kecamatan dapat mendelegasikan dua lembaga yang akan mengikuti simulasi tatap muka.

Kepala Dinas Pendidikan Jember melalui Kepala Bidang TK-SD Dhebora Krisnowati memaparkan, simulasi pembelajaran tatap muka itu akan diikuti oleh semua sekolah. Baik yang berada di kota maupun di desa. “Ini hanya sosialisasi persiapan simulasi. Setelah simulasi nanti akan uji coba,” jelasnya. Rencananya, uji coba akan dilakukan pada Maret mendatang. Karena itu, sebelum dilakukan uji coba, sekolah harus melakukan persiapan pemenuhan protokol Covid-19.

Menjawab Kegalauan Warga

Ketua Yayasan Pendidikan Islam Riyadus Sholihin Jember Madini Farouq menilai, penerapan sekolah tatap muka masih menjadi cara terbaik untuk mendidik anak-anak. Untuk itu, perlu persiapan matang sebelum dilangsungkan. “Sebagai ketua yayasan, saya sangat mendukung dan menyambut baik rencana uji coba sekolah tatap muka di Jember per 1 Maret 2021,” kata pria yang akrab dipanggil Gus Mamak ini.

Dia menyebut, pendidikan melalui daring selama setahun terakhir dinilai tidak maksimal. Sebab, sistem pembelajaran tidak cukup dengan pertemuan jarak jauh. Perlu bertemu langsung agar transfer ilmu dan pengetahuan tersalurkan dengan baik.

Tak hanya itu, pria yang juga menjabat Ketua DPC PPP Jember ini mengungkapkan, selama setahun terakhir banyak orang tua siswa yang mengeluh kesulitan membantu putra putrinya yang melaksanakan sekolah daring di rumah. Belum lagi harus membantu mengerjakan soal anak-anak lantaran anak mereka banyak yang bermain.

“Kesulitan orang tua dalam mengawasi putra-putrinya karena banyak aktivitas bermain di luar rumah. Sementara, para orang tua juga sibuk karena harus bekerja. Ini yang terjadi dan kondisi ini banyak dikeluhkan,” beber Gus Mamak.

Apabila sekolah tatap muka benar-benar dilangsungkan nanti, Gus Mamak tetap berharap agar penerapan prokes tetap menjadi perhatian. “Pemerintah daerah sudah memberikan bantuan berupa tempat cuci tangan ke sekolah-sekolah. Walaupun saya juga melihat masih ada sekolah swasta di desa yang belum mendapatkan fasilitas. Ini harus tetap menjadi perhatian,” jelasnya.

Terpisah, Ketua PGRI Jember Supriyono menyampaikan, secara kelembagaan, PGRI juga telah melakukan evaluasi terkait pelaksanaan pendidikan di tahun 2020. Menurutnya, banyak problem saat anak menjalankan sekolah daring atau diam di rumah. “Banyak yang menjadi tidak disiplin. Saat mereka datang ke sekolah, mohon maaf, rambutnya sudah ada yang warna-warni dan ada yang bertato. Kalau ini terus dibiarkan, karakter anak akan semakin terpengaruh,” katanya.

Supriyono menyebut, bandelnya anak-anak bukan saja mereka yang sudah remaja, tapi ada juga yang masih SD. Pada saat di sekolah, banyak anak yang perlu beradaptasi kembali. Salah satunya soal kedisiplinan karena sebelumnya dipengaruhi kebebasan di saat orang tuanya bekerja. “Seandainya nanti dilakukan uji coba dan sekolah bisa tatap muka, saya pikir ini sebuah keberanian yang akan menjawab kegalauan masyarakat,” ucapnya.

Sebagai organisasi profesi guru, Supriyono menyatakan mendukung penerapan sekolah tatap muka. “Protokol kesehatan tetap menjadi satu hal yang harus diterapkan dan benar-benar dijaga,” cetusnya.

Sekolah melalui daring, menurut Supriyono, bisa menjadi program masa depan seiring dengan kecanggihan teknologi. Akan tetapi, kondisi hari ini, sekolah daring belum menjawab kondisi dan keadaan yang ada di Jember maupun di Indonesia pada umumnya. “Anak-anak belum biasa disiplin di rumah karena tidak semua orang tua ketat. Sekarang, pondok pesantren sudah melakukan tatap muka. Saya kira sekolah juga sudah waktunya tatap muka. Kita harus berani tanpa meninggalkan prokes,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, pasca-dilantik nanti, Bupati Hendy Siswanto dan Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman akan melakukan uji coba sekolah tatap muka pada beberapa sekolah per 1 Maret. Setelah itu, akan dilakukan evaluasi untuk kemudian dilangsungkan sekolah tatap muka demi masa depan anak-anak.

 

Jurnalis : Dian Cahyani/Nur Hariri
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rencana pembelajaran tatap muka yang dimulai awal maret ini mendapat respons positif sejumlah pihak. Sebab, kebijakan itu dinilai memecah kejenuhan siswa dan para orang tua selama masa pembelajaran daring berlangsung. Sebagai langkah persiapan, Dinas Pendidikan Jember berencana melakukan simulasi, akhir Februari ini. Simulasi itu melibatkan beberapa sekolah untuk menguji kesiapan penerapan protokol kesehatan (prokes).

Kemarin (17/2), Dinas Pendidikan bersama sejumlah kepala SD dan SMP se-Jember menggelar rapat sosialisasi di SMP Negeri 7 Jember. Meski belum ada kepastian kapan tanggal pelaksanaannya simulasi itu, tapi kemungkinan besar akan dilakukan setelah 22 Februari.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Syaiful Bahri menjelaskan, rencana pembelajaran tatap muka tidak bisa dilakukan secara mendadak. Perlu persiapan yang matang. Mulai dari sosialisasi kepada murid mengenai teknis pelaksanaannya, hingga pemenuhan aturan sesuai standar prokes Covid-19 yang berlaku. “Untuk waktu pelaksanaannya, kami tidak tahu. Masih menunggu tanggal,” katanya.

Pada tingkat SMP, Syaiful mengungkapkan, bakal ada 35 sekolah yang akan mengikuti simulasi. Skemanya, simulasi akan dilakukan dalam tiga hari berturut-turut untuk semua jenjang kelas. Setiap harinya, satu kelas di tiap sekolah akan melaksanakan simulasi tatap muka dalam satu hari. Berikutnya, dilanjutkan untuk kelas lain.

Sementara, untuk SD, simulasi bakal diikuti oleh SD yang telah didelegasikan oleh kecamatan. Setiap kecamatan dapat mendelegasikan dua lembaga yang akan mengikuti simulasi tatap muka.

Kepala Dinas Pendidikan Jember melalui Kepala Bidang TK-SD Dhebora Krisnowati memaparkan, simulasi pembelajaran tatap muka itu akan diikuti oleh semua sekolah. Baik yang berada di kota maupun di desa. “Ini hanya sosialisasi persiapan simulasi. Setelah simulasi nanti akan uji coba,” jelasnya. Rencananya, uji coba akan dilakukan pada Maret mendatang. Karena itu, sebelum dilakukan uji coba, sekolah harus melakukan persiapan pemenuhan protokol Covid-19.

Menjawab Kegalauan Warga

Ketua Yayasan Pendidikan Islam Riyadus Sholihin Jember Madini Farouq menilai, penerapan sekolah tatap muka masih menjadi cara terbaik untuk mendidik anak-anak. Untuk itu, perlu persiapan matang sebelum dilangsungkan. “Sebagai ketua yayasan, saya sangat mendukung dan menyambut baik rencana uji coba sekolah tatap muka di Jember per 1 Maret 2021,” kata pria yang akrab dipanggil Gus Mamak ini.

Dia menyebut, pendidikan melalui daring selama setahun terakhir dinilai tidak maksimal. Sebab, sistem pembelajaran tidak cukup dengan pertemuan jarak jauh. Perlu bertemu langsung agar transfer ilmu dan pengetahuan tersalurkan dengan baik.

Tak hanya itu, pria yang juga menjabat Ketua DPC PPP Jember ini mengungkapkan, selama setahun terakhir banyak orang tua siswa yang mengeluh kesulitan membantu putra putrinya yang melaksanakan sekolah daring di rumah. Belum lagi harus membantu mengerjakan soal anak-anak lantaran anak mereka banyak yang bermain.

“Kesulitan orang tua dalam mengawasi putra-putrinya karena banyak aktivitas bermain di luar rumah. Sementara, para orang tua juga sibuk karena harus bekerja. Ini yang terjadi dan kondisi ini banyak dikeluhkan,” beber Gus Mamak.

Apabila sekolah tatap muka benar-benar dilangsungkan nanti, Gus Mamak tetap berharap agar penerapan prokes tetap menjadi perhatian. “Pemerintah daerah sudah memberikan bantuan berupa tempat cuci tangan ke sekolah-sekolah. Walaupun saya juga melihat masih ada sekolah swasta di desa yang belum mendapatkan fasilitas. Ini harus tetap menjadi perhatian,” jelasnya.

Terpisah, Ketua PGRI Jember Supriyono menyampaikan, secara kelembagaan, PGRI juga telah melakukan evaluasi terkait pelaksanaan pendidikan di tahun 2020. Menurutnya, banyak problem saat anak menjalankan sekolah daring atau diam di rumah. “Banyak yang menjadi tidak disiplin. Saat mereka datang ke sekolah, mohon maaf, rambutnya sudah ada yang warna-warni dan ada yang bertato. Kalau ini terus dibiarkan, karakter anak akan semakin terpengaruh,” katanya.

Supriyono menyebut, bandelnya anak-anak bukan saja mereka yang sudah remaja, tapi ada juga yang masih SD. Pada saat di sekolah, banyak anak yang perlu beradaptasi kembali. Salah satunya soal kedisiplinan karena sebelumnya dipengaruhi kebebasan di saat orang tuanya bekerja. “Seandainya nanti dilakukan uji coba dan sekolah bisa tatap muka, saya pikir ini sebuah keberanian yang akan menjawab kegalauan masyarakat,” ucapnya.

Sebagai organisasi profesi guru, Supriyono menyatakan mendukung penerapan sekolah tatap muka. “Protokol kesehatan tetap menjadi satu hal yang harus diterapkan dan benar-benar dijaga,” cetusnya.

Sekolah melalui daring, menurut Supriyono, bisa menjadi program masa depan seiring dengan kecanggihan teknologi. Akan tetapi, kondisi hari ini, sekolah daring belum menjawab kondisi dan keadaan yang ada di Jember maupun di Indonesia pada umumnya. “Anak-anak belum biasa disiplin di rumah karena tidak semua orang tua ketat. Sekarang, pondok pesantren sudah melakukan tatap muka. Saya kira sekolah juga sudah waktunya tatap muka. Kita harus berani tanpa meninggalkan prokes,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, pasca-dilantik nanti, Bupati Hendy Siswanto dan Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman akan melakukan uji coba sekolah tatap muka pada beberapa sekolah per 1 Maret. Setelah itu, akan dilakukan evaluasi untuk kemudian dilangsungkan sekolah tatap muka demi masa depan anak-anak.

 

Jurnalis : Dian Cahyani/Nur Hariri
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2