Ayo Lestarikan Kesenian Mocopat

Tergerus Teknologi, Semakin Terpinggirkan

AYO LESTARIKAN: Punggawa Kelompok Mocopat Ngudi Roso Santoso membawakan tembang kesenian tradisional asli Jawa. Kini seni Mocopat semakin ditinggalkan kalah saing dengan teknologi.

RADARJEMBER.ID, JEMBER- Melalui gelaran Srawung Sastra 5 bertempat di Gedung Bakorwil, Forum Sastra Jember (FSJ) mencoba untuk lebih mengenalkan kembali kesenian mocopat, Sabtu (17/8). Dalam kesempatan tersebut, kelompok mocopat Ngudi Roso Santoso, asal Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan, diberikan kesempatan untuk tampil di hadapan puluhan pegiat seni di Kabupaten Jember.

IKLAN

Mocopat sebagai kesenian Jawa kuno kini terancam punah tergerus oleh perkembangan teknologi. Hal itu dikatakan oleh Wagito, salah seorang personel kelompok mocopat dari kawasan Jember selatan tersebut.

“Bahkan generasi muda saat ini sama sekali tidak mengenal mocopat, padahal kesenian ini asli dari Jawa dan memiliki pitutur untuk mengajak orang berbuat kebaikan dan tidak sekedar lagu atau tembang,” ungkapnya.

Diceritakan Wagito, tembang mocopat ini dulu pernah dipakai oleh Walisongo untuk menyebarkan Islam di Pulau Jawa. “Sunan Kalijogo melalui tembang Ilir-ilir mengenalkan Islam di Nusantara. Lagu atau tembang tersebut memiliki tuntunan agar manusia tidak salah langkah saat menjalani kehidupan,” tukasnya

Kesenian tersebut agar bisa tetap eksis, Suyanto, salah seorang guru sekolah dasar (SD) di Desa Darsono, Kecamatan Arjasa menuturkan, harus ada upaya penyelamatan supaya mocopat tidak hilang. “Saya mendukung langkah FSJ ini mengusung mocopat di acara kesenian seperti ini, agar generasi muda itu mengetahui bahwa mocopat itu asli kesenian Indonesia. Kalau perlu mocopat ini goes to school and goes to campus,” kata Suyanto bersemangat. (*)

Reporter : Winardyasto

Fotografer : Winardyasto

Editor : Mahrus Sholih