TPA Ditutup, Sampah Makin Tak Terurus

BERTABURAN: Kondisi sampah yang kurang terurus di salah satu TPS Kecamatan Ambulu. Sampah diangkut dua hari sekali.

RADAR JEMBER.ID – Saat banyak kalangan merasa prihatin dengan permasalahan sampah, mereka beraksi mengampanyekan agar masyarakat mengurangi sampah plastik. Sayangnya, semangat ini tidak diiringi oleh kemauan kuat dari pemerintah, terutama di lingkungan Pemkab Jember.

IKLAN

Permasalahan pengelolaan sampah tak hanya terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari. Namun, TPA yang ada di Dusun Langon, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, juga tak lepas dari masalah. TPA ini ditutup oleh warga sekitar, beberapa bulan lalu. Akibatnya, sampah menumpuk dan tak terurus dengan baik.

Sampah tak lagi dijadikan satu di TPA Langon. Namun, dibuat di sejumlah titik di tempat pembuangan sementara (TPS). Truk yang mengangkutnya tidak setiap hari, namun dua hari sekali. Tak heran, tumpukan sampah terlihat di transfer depo Dusun Bedengan, Desa Tegalsari, Ambulu. Tepatnya jalan menuju wisata Watu Ulo. Sampah terlihat dibuang sembarangan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Bagi mereka, yang penting sampah tidak dibuang di rumahnya.

“Biasanya yang banyak membuang sampah di sekitar jembatan ini orang yang bersepatu,” kata Eko, salah satu warga sekitar jembatan. Sampah yang dibuang di transfer depo ini merupakan sampah rumah tangga yang biasanya dibuang saat orang berangkat kerja. “Membuangnya juga sembarangan, asal dibuang saja,” tambah Junaedi, sopir truk sampah yang ada di Kecamatan Ambulu.

Setelah sampah ini terkumpul, lalu dibawa oleh truk tersebut ke TPA Pakusari. Padahal, jaraknya cukup jauh, yakni sekitar 50 km. “Sampah yang dibuang itu pokoknya dilempar, sehingga banyak yang menumpuk di jalan aspal. Kalau membuangnya masih agak ke dalam, mungkin tidak mengganggu pengguna jalan yang melintas,” terangnya.

Banyak yang membuang sampah seenaknya, sehingga meluber ke jalan. Sementara itu, Hamid, koordinator wilayah (Korwil) sampah di wilayah selatan mengaku, transfer depo hanya untuk menimbun sampah yang diangkut gerobak. “Nantinya, sampah itu diangkut ke TPA Pakusari,” ujarnya.

Biasanya, pengangkutan sampah di wilayah Ambulu dilakukan setiap hari dari Ambulu ke TPA Pakusari. Namun sekarang berubah. Sampah diangkut dua hari sekali. Hal itu karena biaya bahan bakar yang tidak cukup. Apalagi, sampah yang diambil jaraknya cukup jauh. “Kalau dihitung, sekali perjalanan mulai dari mengambil sampah hingga ke TPA, jaraknya sekitar 100 km,” ungkap Hamid.

Sebenarnya, kata dia, masalah sampah tidak boleh disepelekan. Sebab, bila tidak diangkut sehari saja, banyak orang yang komplain karena berbau. Berbeda dengan masalah lain, seperti lampu penerangan jalan. “Karena TPA di Dusun Langon ditutup, sampah yang ada di wilayah Ambulu diangkut ke TPA Pakusari,” tambahnya.

Truk yang mengangkut sampah itu juga butuh perawatan yang intens, butuh biaya yang tidak sedikit. Tak jarang, Hamid mengeluarkan uang pribadi untuk menanggung biaya tersebut. “Truk yang ada di Ambulu ini memerlukan perawatan yang cukup intens,” pungkasnya.

Di samping itu, sampah di TPA Pakusari yang sempat menumpuk di jalan menuju lokasi pembuangan sudah mulai lancar. Hal ini setelah dua alat berat yang didatangkan dari Dinas PU Bina Marga dan Sumber daya Air difungsikan untuk memindah sampah yang menumpuk. (*)

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Bagus Supriadi