Singo Ulung, Tradisi yang Terus Hidup

RADAR JEMBER.ID – Jika berkunjung ke Bondowoso, masyarakat akan banyak mendapati patung Singo Ulung. Misalnya di depan Kantor Disparpora dan di perempatan Hotel Palm. Patung itu menggambarkan kesenian Singo Ulung, seni tradisional khas Bondowoso, yang terus hidup sampai saat ini. Seni tradisi Singo Ulung merupakan seni khas Bondowoso yang mempertontonkan pertunjukan singo (singa).

IKLAN

Seni tradisi ini terus dirawat di kalangan masyarakat. Banyak pelaku seni dan pemilik sanggar seni yang terus menghidupkan tradisi ini. Seperti sanggar milik Gabungan Apresiasi Senin (GAS) di Curahdami, Padepokan Seni Gema Buana di Prajekan Kidul, dan di berbagai sanggar lainnya.

Berdasarkan cerita asal-usul, seni Singo Ulung ini berasal dari Desa Blimbing, Kecamatan Klabang. Menurut cerita yang hidup di masyarakat, Tari Singo Ulung diciptakan Mbah Ulung, seorang tokoh masyarakat dan pendiri Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Bondowoso.

Tari Singo Ulung ini terinspirasi dari sejarah berdirinya Desa Blimbing. Menurut cerita sejarah yang berkembang di masyarakat, Mbah Ulung adalah seorang pendatang dan pendakwah yang datang ke wilayah Desa Blimbing kala itu. Di sebuah hutan yang kini menjadi Desa Blimbing, ia berteduh di bawah pohon belimbing. Kedatangan Mbah Ulung tersebut ternyata membuat murka penguasa hutan di sana yang bernama Jasiman, dan terjadilah perkelahian antara keduanya.

Dalam perkelahian itu mereka sama-sama menggunakan rotan yang ada di hutan tersebut sebagai senjata mereka. Dengan kesaktiannya, Mbah Ulung kemudian berubah wujud menjadi harimau putih. Akhirnya, Jasiman tak mampu melawan dan menyerah. Dalam percakapan setelah pertarungan tersebut, kemudian Jasiman menyadari bahwa ternyata mereka berasal dari perguruan yang sama.

Setelah mengenal Mbah Ulung lebih jauh, Jasiman merasa kagum dengan kehebatan dan sifatnya yang sederhana. Hal tersebut membuat Jasiman sadar dan masuk agama Islam. Karena kekaguman itu juga, Jasiman ingin menikahkan Mbah Ulung dengan adiknya.

Tidak hanya sampai di situ, mereka bertiga kemudian memutuskan untuk membangun sebuah desa di daerah hutan tersebut dan beri nama Desa Blimbing, yang menjadi tempat awal pertemuan mereka. Bersama dengan masyarakat, mereka membangun sebuah desa yang makmur dan sejahtera.

Atas jasanya tersebut, kemudian masyarakat di sana mengangkat Mbah Ulung sebagai kepala desa pertama di Desa Blimbing. Untuk mengenang awal berdirinya desa itu, kemudian dibuatlah suatu kesenian yang menggambarkan awal berdirinya desa tersebut, dan jadilah Tari Singo Ulung yang masih secara rutin dipertunjukkan setiap tahunnya hingga sekarang dan tersebar di seluruh Bondowoso.

Ketua GAS Bondowoso Junaidi mengatakan, pihaknya sering membawakan seni tradisi Singo Ulung di berbagai kegiatan. Mulai dari kegiatan masyarakat maupun gelaran pemerintahan. Selama ini, di sanggar GAS, anak-anak muda diajarkan agar cakap memerankan tarian Sing Ulung. “Penari Singo menggunakan kostum Singa yang kami buat dari rafia putih,” jelasnya. (*)

Reporter : Solikhul Huda

Fotografer : Solikhul Huda

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti